
Danyon terdiam sejenak memperhatikan dengan lekat wajah Bang Ricky yang pucat. Sebagai seorang manusia, seorang laki-laki sekaligus seorang suami tentu dirinya memahami betul perasaan juniornya.
"Tugasmu sudah beres?" Tanya Danyon.
"Siap.. sudah Danyon"
"Siapa pengganti Letnan Hara?"
"Ijin.. Letnan Ludoyo" suara Bang Ricky semakin lirih.
"Ya sudah berangkatlah..!!"
"Serius Bang?" Tanya Bang Ricky.
"Iya, saya nggak mau seluruh anak buahmu ribut di belakang punggungmu karena Danki nya emosian" jawab Danyon.
"Siap.. terima kasih banyak Abang"
"Sama-sama, tapi jangan lupa misinya sekalian ya Rick.. ini penting." Kata Danyon mengingatkan.
"Siap"
\=\=\=
Nindy menutup panggilan teleponnya usai Bang Ricky menghubungi dirinya. Tak ada kata sayang atau cinta. Hanya menanyakan aktivitasnya hari ini juga keadaan calon bayinya.
Disana Tisha curiga dan bertanya-tanya. Ia pun tidak jadi masuk ke dalam kamar Nindy.
"Kenapa kamu mengintip kamar tetangga?" Tegur Bang Hara yang bertugas sebagai dosen tamu disana.
"Iihh Abang, pelankan suara.. nanti di kira Tisha nguping" jawab Tisha.
"Laahh.. kamu memang nguping. Siapa yang bilang kamu lihat televisi??"
Tisha mendorong lengan Bang Hara agar menjauh dari kamar Nindy. "Bang, Nindy kasihan sekali lho. Sepertinya Bang Ricky itu nggak sayang sama Nindy"
"Eehh tukang gosip. Bang Ricky itu suami yang sangat bertanggung jawab dan sayang sama istrinya. Jangan bawa cerita hoax disini..!!" Tegur Bang Hara.
"Kalau Bang Ricky sayang, kenapa nggak pernah bilang cinta? Nggak pernah kesini. Sudah hampir dua minggu kita disini" sebagai seorang wanita, Tisha ikut memprotes keras tindakan Bang Ricky.
"Bang Ricky pimpinan tertinggi di kompinya. Andaikan dia hanya memikirkan urusan hati dan bawah perut, sudah jelas Bang Ricky kabur kesini"
"Makanya jadi laki-laki juga harus belajar masak biar nggak bingung masalah perut" jawab Tisha dengan ekspresi tegas dan meyakinkan.
__ADS_1
Bang Hara hanya bisa mengacak-acak rambutnya karena jengkel dengan 'kepintaran' Tisha.
\=\=\=
Satu minggu kemudian.
"Saya sudah batalkan nama Grah Kidung Arianindy di nama mahasiswa yang ikut dalam acara ospek" kata Bang Hara. Karena suatu dan lain hal maka ospek mundur jadi tiga minggu kemudian.
"Maaf Pak, kapasitas Pak Hara hanya menjadi dosen tamu, tidak ada surat kuasa dari pihak wali untuk membatalkan nama mahasiswi Grah Kidung Arianindy." Jawab Rektor.
'Eghm.. bisa mati aku jadi pecel lele. Bagaimana aku harus menyampaikan pada Bang Ricky. Aku juga nggak tega kalau Tisha kena omel Abang.
"Sebenarnya apa alasannya. Nindy tidak bisa ikut opspek?" Tanya Rektor.
"Maaf Pak, kami tidak bisa memberi alasan yang mendasar. Hanya saja semua terkait dalam salah satu alasan bahwa siswi bernama Nindy dan Tisha adalah bagian dari team yang sudah pernah saya utarakan tempo hari" jawab Bang Hara.
"Baiklah Pak, tapi yang bisa saya lakukan saat ini hanya memberi keringanan untuk Nindy. Tetap ikut, tapi minim kegiatan dan silakan menggunakan kendaraan bermotor jika ada kegiatan yang mengharuskan perjalanan..!!"
"Baik Pak, terima kasih"
***
"Bang.. yakin mau bawa motor sendiri? Perjalanan dua jam. Apa Abang kuat?"
"Insya Allah kuat, demi anak bojo masa nggak kuat"
"Lama Long kalau pakai mobil, kalau di tempuh motor bisa menghemat waktu"
"Ini lagi, Abang mantan anak jalanan. Bisa-bisa satu jam saja sudah sampai" Bang Brigas tetap berusaha keras untuk membujuk seniornya.
"Sudah kangen sama adikmu yang bikin Abang sakit kepala" singkat padat dan jelas Bang Ricky mengungkapkan alasannya. "Ya sudah Abang berangkat, titip kompi sekalian kamu cek kerja Ludoyo..!!"
"Iya Bang, aman" Bang Brigas sudah tak sanggup lagi berdebat dengan Bang Ricky jika sudah menyangkut masalah hati.
//
Nindy meminta Bang Hara berhenti sejenak saat merasa kepalanya sedikit sakit di hari pertama kegiatan.
"Masih kuat nggak? Kalau nggak kuat kita cari warung untuk singgah" Bang Hara benar-benar pusing tujuh keliling takut salah dalam menjaga bumil seniornya yang terkadang banyak permintaan.
"Perut Nindy sakit Bang"
"Kamu pakai korset?" Tanya Bang Hara.
__ADS_1
Nindy mengangguk dan memercing kesakitan.
"Di lepas saja dek. Anakmu sudah begah. Kalau memang waktunya sudah terlihat ya biarkan saja, lagipula anak itu ada bapaknya." Nasihat Bang Hara.
"Nindy tau Bang, tapi Nindy juga tau banyak masalah yang akan timbul kalau banyak yang tau kehamilan Nindy, bahkan sampai saat ini pun Tisha juga tidak tau kalau Nindy hamil"
"Jangan pikirkan itu, biar kami-kami saja yang pikirkan masalah ini. Kamu fokus sama pendidikan dan kehamilanmu saja." Bang Hara turun dari motor. "Maaf ya dek, sini Abang bantu..!!"
Perlahan Bang Hara membantu Nindy untuk turun. Agaknya memang korset tersebut terlalu kencang membelit di perut Nindy.
Keadaan hutan di sana semakin gelap, mendung sudah turun, udara dingin tertutup kabut. Rintik hujan mulai membasahi bumi.
"Ayo dek..!!" Bang Hara melepas jaketnya dan menutupi kepala Nindy dari rintik hujan.
Tiba-tiba air mata Nindy meleleh, ia teringat sosok Bang Ricky yang membuat hatinya terasa sangat sesak. Hari ini Bang Ricky sama sekali belum menghubungi nya.
'Apa disana Abang asyik dengan perempuan itu? Perempuan yang menempelkan lipstik di pakaian Abang.'
Mengingatnya membuat Nindy menjadi lemas. Kakinya tak sanggup berpijak membayangkan Bang Ricky bercumbu dengan wanita lain, ekspresi gagah Bang Ricky terus terbayang dalam pikirannya sampai-sampai semalam dirinya bermimpi buruk.
"Eeehh dek, ya ampun..!! Kita istirahat saja sampai kamu pulih, nanti setelah tenda berdiri.. kamu harus segera tidur..!!!" Sungguh Bang Hara sangat ketakutan menjaga wanita yang bukan istrinya. Bertindak apapun akan selalu salah. Ia menyangga tubuh Nindy tapi istri seniornya itu memang sudah tidak sanggup berdiri, Bang Hara pun mengangkatnya.
Dari kejauhan melaju kencang sebuah motor. Motor yang pastinya sangat di kenali oleh Bang Hara.
Motor tersebut berhenti, melepas helm lalu menyangga motornya. "Kenapa Nindy??" Tanya Bang Ricky yang baru saja tiba, tatapan itu begitu dingin dan tajam menusuk.
"Lemas Bang" Jawab Bang Hara sangat berhati-hati.
Tanpa basa-basi Bang Ricky mengambil alih Nindy dari gendongan Bang Hara. "Dek.. Nindy..!! Ini Abang..!!" Sapa Bang Ricky. Nindy yang masih setengah sadar akhirnya mampu membuka matanya.
Mata Nindy berkaca-kaca. "Kenapa Abang selingkuh??" Tanya Nindy.
"Astagfirullah.. masa Abang baru datang sudah di tanya begitu. Lagipula kapan Abang selingkuh??"
"Semalam.. di mimpi Nindy"
Bang Ricky membuang nafas kasar, Bang Hara memalingkan wajahnya menahan tawa karena masih menghargai seniornya.
"Kira-kira kapan Abang bisa masuk ke dalam mimpimu? Kita gelud yuk..!!" Bang Ricky tersenyum gemas menjawabnya.
.
.
__ADS_1
.
.