Perisai Hati.

Perisai Hati.
40. Aku manusia biasa.


__ADS_3

Bang Hara kelabakan melihat Tisha mendadak menggigil. Sudah segala cara ia lakukan tapi semuanya tak membuahkan hasil.


"Tishaa.. bangun dek. Lihat ini Abang, kamu harus berusaha sadar..!!" Bang Hara menepuk pipi Tisha. "Ya Tuhan, buat apa saja sih Bang Ricky? Kenapa nggak bisa di hubungi??" gerutu nya jengkel.


//


Nafas penuh kelegaan terdengar dari Bang Ricky karena Nindy pun terlihat sangat menikmati 'gulat' malam ini. Tak ada yang lebih membuat hatinya tenang selain sang istri juga merasakan 'pelepasan' yang sempurna bersamanya.


"Sudah?"


Nindy mengangguk malu-malu, Bang Ricky pun mendaratkan ciuman manis di bibir Nindy. "Besok ikut pulang saja sama Abang ya..!!" Ajak Bang Ricky kemudian perlahan berguling di samping Nindy dan mengambil posisi memeluk Nindy dari belakang dan menarik selimut menutupi tubuh mereka berdua.


"Tapi masih satu bulan Nindy di sini. Kurang dua bulan lagi" jawab Nindy.


"Pulang saja, Abang yang tanggung jawab." Bang Ricky mengusap perut Nindy yang sudah semakin membuncit. "Si dedek lagi kangen-kangennya nih sama Papanya, lagi nggak pengen jauh. Masa kamu tega jauhkan si dedek sama Papanya" bujuk Bang Ricky.


"Iya ya Bang, sepertinya si dedek kangen sama Papanya." Jawab Nindy mulai terpengaruh.


"Iya lah, buktinya dedek senang tuh di tengokin Papa" Bang Ricky memajang wajah serius.


Nindy mengangguk membenarkan dengan polosnya. Senyum nakal dan licik Bang Ricky terbersit di belakang punggung Nindy.


ddrrtttt.. ddrrtttt..


"Cckk.. ini siapa sih dari tadi mengganggu. Nggak tau ada kegiatan semprot pupuk ya..!!" Gerutu Bang Ricky kesal kemudian menyambar ponselnya. "Laahh.. ada apa nih si Hara???"


Bang Ricky balik menghubungi juniornya itu.


:

__ADS_1


"Waduuhh.. saya belum bisa tanya sama Nindy. Dia sudah tidur nyenyak" Bang Ricky melirik Tisha yang nafasnya sudah putus sambung.


"Pokoknya kata Tisha.. yang kasih barang setan itu namanya Odi" jawab Bang Hara.


"Odi siapa? Anggota kita juga atau bukan???" Tanya Bang Ricky.


"Iya Bang, dia masih juniornya Irwanto. Ikut dalam rombongan kita, acara ospek ini juga" jawab Bang Hara.


"B******n, apa maksudmu kita kecolongan??? Saya belum sempat periksa tas Nindy." Bang Ricky mulai gusar dan cemas mendengarnya.


"Sejak tadi Abang sama Nindy.. apa saja kerja Abang?????" Kali ini saking cemasnya.. pikiran Bang Hara sampai berantakan.


"Kurang ajar betul kau Har. Saya sudah lama nggak bertemu istri. Kamu mau permasalahkan saya lagi asah golok???"


"Siap salah Abang..!!" Bang Hara pun akhirnya menyadari kesalahannya. "Maaf saya panik melihat Tisha."


"Kamu yang ada di sini untuk mengawasi mereka. Kenapa dua perempuan kurang akal ini bisa sampai punya barang seperti itu??? Apa saja kerjamu? Lihat film p***o??" Bang Ricky balik menegur Bang Hara.


Bang Ricky mengambil sesuatu dari kantongnya. "Minumkan ini, nanti Tisha sadar. Tapi kamu harus jaga dia baik-baik, karena reaksinya juga sakit. Nindy hampir sembuh minum obat herbal ini. Buatan ibu saya" kata Bang Ricky.


"Siap Bang..!!"


"Lebih baik kamu cari tempat tersembunyi yang tidak terlihat orang lain. Media massa sangat cepat menyebar berita. Jangan sampai ada trouble penanganan..!!"


"Siap..!!"


"Saya tinggal dulu. Kasihan Nindy di penginapan"


//

__ADS_1


Suasana canggung dan dingin sangat terasa menyerang Bang Ganesha dan Nava. Nava pun lebih banyak menunduk.


"Sudah ngantuk dek? Ayo tidur..!!" Ajak Bang Ganesha saat jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam.


Nava mengangguk saja karena matanya juga sudah mulai mengantuk, tubuhnya pun terasa berat.


Bang Ganesha berdiri dan mengulurkan tangannya untuk mengajak sang istri masuk ke dalam kamar. "Ayo..!!" Ajaknya lagi saat Nava hanya menatapnya saja dalam gelap dan tidak menyambut tangannya.


Akhirnya Nava meraih tangan Bang Ganesha dan mereka berjalan masuk ke dalam kamar. Gelap suasana di sana karena lampu di tengah pedesaan tak kunjung menyala karena pasokan listrik yang tidak stabil. Bang Ganesha mengarahkan Nava untuk berbaring lebih dulu di ranjang karena dirinya akan mengunci pintu dan jendela.


Nava sangat takut pada Bang Ganesha dan hanya berani duduk di tepi ranjang.


Setelah mengunci pintu, Bang Ganesha berjalan menuju ranjang. "Tidak apa-apa. Tidurlah..!!"


"Abang saja tidur di ranjang. Nava tidur di lantai" kata Nava kemudian berdiri.


Bang Ganesh meraih tangan Nava. "Kamu Abang nikahi bukan untuk menjadi alas kaki. Tidak juga Abang letakan di atas kepala untuk membangkang kata Abang. Kamu Abang nikahi agar bisa berjalan beriringan dengan Abang, menemani hidup Abang dunia dan akhirat. Kita jalani saja semua ini. Ikhlas dengan ketetapanNya." Perlahan Bang Ganesha mendudukkan Nava di pahanya. Sebenarnya Bang Ganesha tak kuat melakukan semua ini karena hatinya masih kosong melompong sama tidak ada nama Nava, tapi kenyataannya saat ini dirinya adalah suami sah dari Nava. Akan sangat berdosa jika dirinya tidak menjalankan tugasnya.


"Bang.." suara lirih Nava terdengar sangat takut.


"Abang tau hati kita masih kosong, tapi kita harus belajar saling sayang dan saling mencintai. Kamu mau khan berjuang bersama Abang?" Tanya Bang Ganesha.


Nava pun mengangguk. Air matanya menitik. "Iya Bang. Insya Allah"


Perlahan Bang Ganesha merebahkan Nava. Ia mengarahkan tangan Nava agar menyentuhnya, tangan Bang Ganesh pun tak kalah gemetar menyentuh Nava untuk pertama kalinya. Dalam hatinya menepis bayang sang mantan kekasih. "Semoga Allah memberikan keturunan yang shaleh dan shalehah untuk kita" ucapnya amat sangat lirih di telinga Nava. Perlahan Bang Ganesha mengecup bibir Nava dan beralih posisi.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2