Perisai Hati.

Perisai Hati.
43. Mengalah.


__ADS_3

"Karena efek obat-obatan itu saja Bang" alasan Bang Hara.


"Kamu jangan bohong ya. Perempuan nggak akan bereaksi seperti itu jika tidak ada apapun yang terjadi, Nindy dan Tisha sangat lugu.. sangat mudah di lihat dari tingkah mereka" tegur Bang Ricky.


"Siap Bang, tidak ada hal apapun yang terjadi." Ucap Bang Hara karena tidak mungkin dirinya untuk membongkar aibnya sendiri.


"Ya sudah kalau begitu, hanya pesan saya.. jika memang sebagai laki-laki kamu sudah 'berbuat', maka kamu harus segera mempertanggung jawabkan segala perbuatan mu" tegas Bang Ricky dengan ribuan makna.


"Siap Abang"


...


"Insya Allah saya akan ikut pulang bersama suami ya Bu. Saya akan mengikuti kegiatan secara online dan bisa mendampingi kegiatan bersama ibu-ibu lagi"


"Baik ibu, terima kasih." Jawab di seberang sana.


"Hmm.. Nanti sebelum acara Idul qurban saya pasti hadir untuk membantu"


Bang Ricky tersenyum mendengar jawab Nindy yang lugas dan dewasa. Memang jika saat sedang di luar, tak pernah nampak kelakuan manja sang istri. "Maaf kalau Abang kurang perhatian sama kamu. Abang ingin hati dan mentalmu kuat dek, karena tantangan hidup tak hanya kata suami istri saja" gumam pelan Bang Ricky yang sebenarnya juga selalu merasa tak tega jika harus bersikap dingin pada Nindy.


...


Malam itu juga semua kembali. Hanya Om Ega saja yang tidak satu mobil karena harus mengendarai motor milik Lettu Ricky.


Nindy memalingkan wajah memandang ke sisi jalan sedangkan Tisha pun menyudutkan diri dan diam tanpa kata.


"Dek..!!" Bang Hara mencoba menyapa Tisha meskipun pandangan nya fokus pada jalanan di hadapannya.


Tau Tisha tak menjawab, hati Bang Hara semakin gusar di buatnya.


"Sini.. tidur di bahu Abang..!!" Bang Ricky pun mencoba membujuk Nindy tapi semua seakan sia-sia saja. Nindy tidak ia ingin berdekatan dengan Bang Ricky.


Bang Hara membenahi letak kaca spion dalam dan melirik Bang Ricky yang ternyata juga meliriknya, agaknya keduanya menyiratkan kecemasan yang sama.


...


Nindy membanting pintu dengan keras lalu membuka pintu rumah yang masih terkunci.


"Sabar, Abang buka dulu..!!" Bang Ricky berbicara dengan intonasi suara yang amat sangat lembut.

__ADS_1


"Tishaa.. Abang antar ke kost ya..!!" Bang Hara mengangkat tas Tisha tapi gadis itu menolaknya.


"Nggak usah, Tisha bisa sendiri..!!" Tisha merampas tas di tangan Bang Hara hingga akhirnya tas tersebut jatuh di atas kakinya. "Aaawwhh.."


Bang Hara segera menyingkirkan tas tersebut. Abang khan sudah bilang mau antar ke rumah Bang Brigas."


"Nggak usah" jawab ketus Tisha sampai menangis.


Setelah pintu terbuka, Nindy langsung saja masuk.. ia pun juga menangis mencemaskan perasaan Bang Ricky.


"Ada apa? Mual? Apa perutnya sakit??"


"Kenapa tadi Abang nggak berhenti di jalan? Di jalan banyak buah kelengkeng sama rambai" jawab Nindy.


"Kamu mau buah??" Tanya Bang Ricky.


"Abang selalu nggak paham maunya Nindy" secepatnya Nindy masuk ke dalam kamar dan menutupnya rapat.


jdeeerr..


"Deekk.. kamu nggak bilang apa-apa di jalan. Abang kira kamu nggak mau?" Jawab Bang Ricky.


Bang Ricky masih mematung di depan pintu, sesaat kemudian ia memijat pangkal hidungnya. "Ya Allah bumil, menggemaskan sekali" Bang Ricky pun mengambil ponsel di sakunya kemudian menghubungi Om Ega. "Ega.. tolong belikan saya buah kelengkeng sama rambai. Nanti uangnya saya ganti di rumah"


...


Bang Brigas menemui Bang Ricky bersama Maurin yang sekarang selalu menempel dan tidak ingin pernah jauh dari kakak kandung Nindy itu.


"Waduuuuuhh.. nempel terus nih Long?" Ledek Bang Ricky.


"Ya begini ini setiap harinya Bang, hanya gelendotan seperti anak kucing. Kadang malah suka nyusulin ke Batalyon. Yo wes lah Bang, sing penting sehat" jawab Bang Brigas kini mulai tersenyum dan menikmati masa pernikahannya dengan Maurin. "Ngomong-ngomong dimana Nindy?"


"Ngambek tuh di kamar. Setiap hari kerjanya marah terus. Sekarang Abang lagi tunggu si Ega. Tadi di jalan Nindy nggak bilang apa-apa kalau mau buah kelengkeng sama rambai. Eeehh sampai rumah dia ngambek, katanya Abang nggak peka" Bang Ricky menggeleng tersenyum getir tak habis pikir dengan kelakuan sang istri.


Bang Brigas tertunduk dan terkikik geli melihat kecemasan di wajah Bang Ricky.


tok.. tok.. tok..


Terdengar suara ketukan pintu. Secepatnya Bang Ricky berdiri dan membuka pintu.

__ADS_1


"Alhamdulillah Ga, akhirnya kamu datang juga."


"Ijin Dan, tadi sudah mulai sepi pedagang karena sudah malam. Kemarin saat berangkat, ibu juga rewel minta ini dan itu" jawab Om Ega.


Bang Ricky menggaruk kepalanya. "Saya juga nggak tau kalau ternyata ngidamnya bumil buat saya pusing begini" ia pun melirik Bang Brigas. "Maurin nggak rewel ya Long?" Tanya Bang Ricky.


"Syukur Alhamdulillah nggak Bang, ya hanya menempel begini saja maunya"


Seluruh mata beralih pada Maurin yang sudah tertidur di sofa sembari memeluk lengan Bang Brigas.


...


"Enak buahnya?"


Nindy melirik Bang Ricky yang terus saja menatapnya. "Abang jangan minta..!!!"


"Abang nggak doyan" jawab Bang Ricky.


"Heleeh.. Nindy tau daritadi Abang lihat buahnya Nindy"


Bang Ricky tersenyum menunduk, pipinya memerah. Entah apa yang ada dalam pikirannya.. "Abang pilih buah yang manis, semanis kamu"


Nindy pun tiba-tiba jadi tersipu mendengarnya. Sambil terus mengunyah buah kelengkeng, ia menutupi rasa gugupnya.


//


"Nava takut Bang"


"Takut apa? Kamu harus ikut kemana pun Abang pergi. Besok pagi kita berangkat..!!" Ajak Bang Ganesha.


"Bang, bukannya bulan depan tunangan Abang mau datang untuk pengajuan nikah?" Tanya Nava.


"Mantan dek. Tidak ada Nia lagi. Sudahlah, kamu fokus saja dengan kehidupan kita, sudah berkali-kali Abang katakan biar Abang yang selesaikan masalah ini." Bang Ganesha mengusap rambut Nava. Sebenarnya hatinya pun juga tidak tenang, namun harus ia akui keluguan Nava sudah membuat hatinya tergerak dan satu yang pasti, sejak malam itu ia merasakan hatinya sudah berbeda.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2