Perisai Hati.

Perisai Hati.
60. Isi hati Bang Ricky.


__ADS_3

Hai.. haiiii... ternyata info di grup terpatahkan ya.. 🤭. Alhamdulillah Nara bisa up pagi ini. Semoga selalu terhibur ya kakak semua🥰.


🌹🌹🌹


Ku lalui hariku bersama Iva. Aku tidak pernah memaksanya memasak makanan, merapikan rumah, menyetrika dan melakukan segala hal untuk ku. Namun dirinya sendiri yang melaksanakan semua itu. Mualnya sudah mulai reda di kehamilan lima bulan, kini kandungannya sudah berusia enam bulan, perutnya sudah terlihat besar. Iva tidak pernah menuntut ku dalam hal apapun bahkan saat aku pulang larut malam, dia dengan setia tetap menawariku makan dan membuatkan teh hangat. Mungkin dirinya merasa berhutang budi padaku tapi sungguh aku tidak meminta imbalan apapun untuk apapun yang aku lakukan padanya.


Seperti malam itu. Tubuhku sudah sangat lelah, aku bersandar di sofa. Sejenak kupejamkan mataku. Iva melepas sepatuku namun aku memilih menarik kakiku.


"Abang mau mandi? Sudah makan atau belum?" Tanya Iva padaku.


"Belum" jawabku singkat. Disisi lain aku sengaja melakukan hal ini agar Iva juga membatasi diri denganku. Tapi di sisi lain aku tak bisa menepis kenyataan bahwa Iva adalah istriku. "Abang mau mandi sekarang" aku berjalan menghindari Iva.


***


Aku masih mengeringkan rambutku, kulihat Iva sedikit terhuyung saat sedang menghangatkan makanan, secepatnya aku berlari dan menahan tubuhnya. Kurasakan tubuh Iva sangat lemas. Secepatnya aku mematikan kompor dan membawanya ke dalam kamar.


~


"Alhamdulillah.. kamu kenapa?"


Iva menggeleng dengan tubuh yang masih lemas. "Iva ambilkan Abang makan ya..!!"


Aku merebahkan Iva kembali. "Kamu tiduran saja.. Abang bisa ambil sendiri."


Ku langkahkan kakiku berjalan menuju dapur, aku melihat makanan yang masih utuh bahkan nasi di penanak yang sama sekali belum tersentuh. Berarti dari pagi hingga tengah malam ini Iva sama sekali belum makan. Aku berinisiatif mengambil makan untuk menyuapinya. Yaa.. ini harus aku lakukan, aku menyadari statusku sebagai suami Iva dan memberi perhatian pada istriku adalah salah satu bentuk kewajiban ku.


~


"Iva bisa Bang" tolaknya.


"Abang tau, biar kali ini Abang menyuapimu..!!" Aku segera menyuapinya dan akhirnya Iva tidak lagi menolak bantuanku.


Iva adalah wanita yang tenang, sedangkan Nindy adalah gadisku yang energik. Iva lebih keibuan, maklum dia berasal dari desa sedangkan Nindy berasal dari kota, punya latar pendidikan dari luar negeri namun sangat polos dan perasa, sesuai dengan usianya. Gadis kecil kesayanganku.


Beberapa suap sudah berhasil masuk ke dalam perut Iva.

__ADS_1


"Iva sudah kenyang Bang"


"Satu lagi ya?" Jika bersama Iva, aku tidak bisa bermain watak, hingga kini aku menjadi sangat merindukan Nindy.


Iva menggeleng dan akhirnya aku yang menghabiskan makan malamnya.


"Ganti lah Bang"


"Tidak apa-apa. Sah saja khan.. Abang suamimu" jawabku selalu mengingat setiap hariku bersama Nindy.


\=\=\=


"Abaang.. perut Iva sakit sekali" rintihnya padaku saat aku baru saja tiba di rumah setelah lima panggilan telepon nya baru terangkat olehku.


"Iya.. iyaa.. tapi kita ke bidan saja nggak apa-apa ya?" Tanyaku.


"Nggak apa-apa Bang"


:


Aku hanya mondar-mandir di depan pintu ruang bersalin. Perasaan ku cemas tak karuan. Dalam bayanganku selalu saja ada Nindy. Nindy yang akan segera menyambut persalinannya.


Aku bimbang apakah akan menemani Iva atau tidak, pasalnya aku tidak ingin melihat sesuatu yang sama sekali tidak ingin kulihat selain segalanya tentang Nindy.


"Pak.. jika bapak kuat sebaiknya masuk saja. Sepertinya ibu Iva sangat membutuhkan bapak"


'Oohh Tuhan.. ampuni perasaanku yang tidak bisa mencintai istriku Iva.. Juga maafkan suamimu ini Nindy sayang. Abang tidak bermaksud menghianatimu.'


"Baik Bu, biar saya temani"


~


Iva mencoba mengejan namun tenaganya tak cukup kuat. Batinku mulai tersentuh dengan segala perjuangan Iva sebagai wanita, tapi maaf Iva.. hati ini belum tergerak untuk mencintaimu.


Ku kecup keningnya sebagai support moril untuknya. Hingga akhirnya Iva kembali berjuang dan terlahirlah gadis mungil yang cantik. Ada rasa haru di dalam dadaku, kulihat dia yang terlahir tanpa dosa tanpa pengakuan dari ayahnya, dia yang di tolak pihak keluarga karena Iva di anggap telah mencoreng nama keluarga dan desa.

__ADS_1


"Alhamdulillah.. cantik Pak" kata Bu bidan.


"Alhamdulillah.." aku kembali mengecup kening Iva. "Lihat Va. Cantiknya gadis kecilku" entah sejak detik keberapa.. aku langsung menyayangi nya.


~


"Boleh Bang"


"Abang akan memberinya nama Embun Elok Sekartaji. Yang berarti kesejukan yang indah di pagi hari, kuatnya seperti Dewi Sekartaji" jawabku saat Iva mengijinkan aku memberi putrinya nama. "Abang akan memanggil dia Isy"


Senyum Iva mengembang. Nampaknya ia juga sangat menyukai nama yang kuberikan namun kemudian ia mendesis kecil. Mungkin lukanya terasa nyeri.


"Kenapa Va?" Tanyaku kemudian menidurkan baby Isy pada box bayi.


"Iva mau ke toilet Bang"


Aku mengangguk mengerti. "Ayo Abang antar..!!"


Iva menunduk. Agaknya ia merasa sungkan padaku.


"Nanti Abang tunggu di luar." Aku pun menggendongnya sampai ke toilet.


Flashback Bang Ricky off..


Tiba-tiba dadaku bagai terhantam kuat, nyerinya sungguh tak tertahan. Air mataku tumpah ruah. Kerinduanku harus berbatas kenyataan pahit di antara kami berempat. Getir menyayat hati, aku tak sanggup menerima keadaanku.. memiliki dua istri dalam hidupku.


POV Bang Ricky end..


"Nin_dy.." Bang Ricky meremas dadanya sampai akhirnya tumbang menubruk Bang Yosh yang akhirnya ikut ambruk tertindih tubuh Bang Ricky.


"Ricky.. Ya Allah le, berat sekali bebanmu..!!" Papa Gesang ikut panik melihat keadaan menantunya.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2