Perisai Hati.

Perisai Hati.
28. Yang di perjuangkan.


__ADS_3

Nindy merintih kesakitan. Tulang punggung nya memar, perutnya nyeri karena terhantam anak tangga hingga sobek dan tergores karena ada lantai keramik yang rusak, kepalanya pun tak lepas dari hantaman baru di bawah anak tangga. Beruntung kandungannya terlindungi namun dengan resiko tubuh Nindy yang penuh luka.


"Tidur dek.. Abang usap badanmu"


Nindy menjauhkan tangan Bang Ricky. "Jangan.. semuanya sakit..!!" Tolak Nindy.


"Terus Abang harus bagaimana biar rasa sakitnya berkurang??" Tanya Bang Ricky.


"Nindy mau obat itu Bang, rasanya sakit sekali..!!"


"Jangan dek..!! Abang mohon jangan. Obat itu sangat bahaya untuk kamu juga anak kita..!!" Bujuk Bang Ricky. "Berjuanglah sedikit lagi dek, beberapa waktu ini kamu sudah bisa melewati semuanya. Jangan minta obat itu lagi..!!"


Badan Nindy menggigil, seluruh tubuhnya terasa sangat sakit. "Nindy mau obat itu Bang..!!! Nindy akan lakukan apa saja asal Abang berikan obat itu..!!!" Pinta Nindy.


"Dek.. tahan dan berusahalah sadar..!!!"


Sekuat tenaga Nindy bangkit, ia membuka pakaiannya. "Nindy tau, Nindy nggak cantik seperti istri Abang.. setidaknya Abang bisa melampiaskan rindu Abang sama Nindy"


Nyawa Bang Ricky seakan melayang, segala rasa mengoyak jiwa. Tegak tubuhnya goyah melihat Nindy begitu berantakan dan tak sadar dengan kelakuannya.


Bang Ganesha yang sempat melihat kejadian itu segera menepuk bahu seniornya kemudian menutup kembali pakaian Nindy. "Apapun yang terjadi pada Nindy saat ini, saya mohon maaf Bang. Jika Abang kesal, kecewa dan marah.. lampiaskan pada saya..!!"


Sejenak Bang Ricky menutup mata. Ada rasa tak kuat membayangkan apa yang pernah di rasakan Nindy. "Insya Allah saya tidak kecewa"


"Bang.. anak yang dikandung Nindy....."


"Ada apa?" Bang Ricky sudah lemas mendekap Nindy.


"Apa ada kemungkinan, Nindy hamil anak Irwanto?"


"Ganeshaaaa...!!!" Ayah Wira menegur putranya. Beliau datang di tengah malam hanya untuk mengecek keadaan putri kecilnya.


"Saya mohon jangan sampai Nindy mendengar semua ini, dia pasti sangat malu" Bang Ricky mengusap Nindy hingga istrinya tenang.


Bang Brigas, Bang Ganesha dan Ayah Wira terdiam.


"Nindyku sangat polos. Dia berani hanya untuk melindungi dirinya yang ketakutan, bahkan Nindy menangis saat saya menyentuh nya." Jawab Bang Ricky.

__ADS_1


"Apa itu artinya........"


"Iya yah, 'anak perawan' Ayah, saya yang 'mengambilnya'. Maafkan saya."


"Alhamdulillah.." Ayah Wira, Bang Ganesha dan Bang Brigas merasa lega mendengarnya meskipun ada rasa yang mengganjal.


"Mungkin jika ada satu pengampunan kecil untuk Irwan.. itu hanya karena dia tidak menyentuh istri saya, tapi jujur hati saya tidak bisa menerima setiap perlakuan Irwan.. apapun alasannya."


Perlahan Nindy mulai tenang dan menyesuaikan diri. Bang Ricky pun bisa bernafas lega. Bang Ricky tau Nindy sangat berjuang demi kesembuhannya.


***


Hasil cctv yang sedang di tangani pihak POM adalah benar adanya saat acara kedatangan Panglima.. Sertu Irwanto mendatangi istri dari Letnan Ricky yang baru saja keluar dari toilet. Sertu Ricky merampas uang dan istri Letnan Ricky mencoba mempertahankan tasnya hingga amarah Sertu Irwanto memuncak.


Sertu Irwanto menampar, meremas lengan, mencekik dan membanting Nindy hingga terkapar di anak tangga menuju toilet. Terlihat istri Letnan Ricky melindungi perutnya.


Seisi ruangan melihat tangan sang Danki mengepal kuat, berkali-kali dirinya mencoba mengatur emosinya namun saat itu Yani, istri Sertu Irwanto tidak tahan untuk hanya diam saja.


"Maaf Pak, saya tau suami saya salah, tapi suami saya hanya mencari cara untuk mendapatkan uang sebagai biaya pengobatan saya" kata Yani.


"Jadi menurutmu Irwanto yang menyiksa fisik dan mental istri saya adalah perbuatan yang benar?" Tanya Bang Ricky.


"Ibu Irwan, sudahkah anda memaknai arti sebuah pernikahan. Tanggung jawab antara suami istri beserta hal kedua belah pihak?"


"Jangan ajari saya tentang arti hak dan tanggung jawab, saya sudah tiga tahun menikah, sudah lebih dulu makan asam garam di bandingkan dengan dua bulan pernikahan yang sia-sia." Ucap ketus Yani Irwanto.


Bang Ricky tersenyum sinis. "Asam garam atau pare dan cabai saja?? Berpura-pura bahagia itu sangat sakit lho Bu Irwan"


Yani tidak bisa menyembunyikan wajah kesalnya.


"Saya tidak ingin berandai-andai istri saya berada di posisi mu. Tapi keadaan istri saya karena ulah suamimu.. tidak bisa saya terima."


"Bukankah Ibu Nindy juga tidak keguguran??" Yani terdengar menggampangkan setiap ucapan.


"Sudahlah dek, pulanglah..!! Jaga anak kita. Abang memang salah"


"Nggak Bang, Abang punya anak yang masih butuh perhatian. Abang harus pulang sama Yani..!!" Yani menarik lengan Bang Irwan untuk mengajaknya pulang.

__ADS_1


"Hukum tetaplah hukum Bu Irwan.. Sertu Irwanto harus membayar mahal segala perbuatannya terhadap istri saya..!!!"


"Apa hebatnya Nindy???? Asal anda tau ya Pak Danki.. Nindy juga adalah selingkuhan suami saya di Korea. Mainan suami saya. Sekarang anda pikir baik-baik Pak.. gadis baik-baik tidak akan pernah mau menerima sembarang tawaran dari om-om. Apalagi yang punya niat tertentu di baliknya"


Bang Ricky sempat terpancing Emosi tapi Bang Ganesha dan Bang Hara mencegahnya. "Kalem Bang..!!" Sebisanya dua Letnan memegangi lengan seniornya.


"Pulang dek.. kamu jangan menambah beban pikiran Abang, Abang memang salah..!!"


"Nggak Abang harus pulang..!!!!!!!"


"Ijin Danki.. saya siap menerima hukuman apapun. Saya salah..!!" kata Sertu Irwanto.


"Tidaaaaakk.. Abang harus pulang..!!!! Jangan coba-coba tahan suamiku..!!!!" teriak Yani.


//


"Ya Allah, mualmu dek..!!" Bang Brigas tak tau lagi bagaimana menghentikan mual Maurin. Istrinya itu terlihat amat sangat tersiksa. "Adek.. anak ayah, jangan nakal ya nak..!! Kasihan bunda. Adek marah sama ayah??"


Maurin sampai tak sanggup berbicara apapun lagi, kakinya gemetar sampai nyaris ambruk. "Deeekk.. aduuhh.. kita ke rumah sakit aja ya..!!"


Maurin menggeleng menolak ajakan Bang Brigas.


"Kamu nggak kuat dek, perutmu juga pasti kosong" kata Bang Brigas.


"Bang, boleh Maurin minta ayam bakar?"


"Iya.. boleh. Abang belikan sekarang"


"Maurin maunya ayam hutan Bang" pinta Maurin.


"Haahh" Bang Brigas mengusap wajahnya. 'Rasa-rasane aku di amuk anak ku deh'


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2