
Terima kasih banyak pada pembaca Nara yang selalu mendukung 🙏🙏🙏. Mudah-mudahan bisa selalu mendukung tanpa menjadi silent readers 🙏🙏🙏.
🌹🌹🌹
Bang Ricky sedang asyik melihat foto Nindy dai galeri ponselnya, senyumnya pun mengembang mengingat lihainya Nindy menyenangkan hatinya.
"Bang" sapa Iva.
"Hmm." Bang Ricky meletakan layar ponsel di dadanya.
"Nindy pergi kemana ya Bang?"
"Ke rumah Brigas, ambil kain untuk seragam" jawab jujur Bang Ricky.
"Oohh" Iva tau, posisinya akan semakin terancam sebagai istri Bang Ricky.
"Ada apa? Duduk disini..!!" Pinta Bang Ricky karena sepertinya Iva ingin membicarakan sesuatu.
"Abang mau disini?" Tanya Iva.
"Disini saja. Tidak apa-apa" jawab Bang Ricky yang tidak berpikir macam-macam.
Iva pun langsung membuka kancing dasternya dan membuat Bang Ricky terkejut setengah mati.
"Apa-apaan kamu Iva????" Tegur Bang Ricky sampai bersandar mundur menghindari Iva.
"Bukannya sedari tadi Abang menginginkan Iva??" Tanya Iva.
"Nggak Va, kamu salah paham" jawab Bang Ricky.
"Tadi pagi itu apa Bang?"
"Yang mana Va?" Bang Ricky sampai tidak tenang menghadapi Iva.
"Bukannya Iva baru mencolek Abang tapi Abang sudah on???" Iva pun menjelaskan maksudnya.
"Ya ampun Va, Abang bukannya sedang nge stag karena kamu tapi............"
"Karena lihat bodynya Nindy??????" Tebak Iva.
Bang Ricky tak sanggup menjawabnya, bingung takut menyakiti hati Iva.
__ADS_1
"Apa tidak ada sedikit rasa dalam hati Abang setelah kebersamaan kita? Iva cinta sama Abang? Iva sudah ikhlaskan jika Abang inginkan perpisahan. Iva hanya mau anak" ucap Iva kemudian berlari menuju kamar tengah.
"Vaaaa..!!" Dua kali lipa rasa pening menggelayuti Bang Ricky. "Cobaan apalagi ini. Kenapa dia minta sesuatu yang tidak bisa aku kabulkan??"
gubraaaakk..
Bang Ricky menoleh ke arah sumber suara. "Ya Allah Nindyy..!!"
~
Bang Ricky memasang plester di kening Nindy, tangannya sampai gemetar ketakutan karena Nindy tak kunjung sadar.
"Dek.. sadar sayang..!!"
"Iva buatkan teh ya Bang?" Kata Iva yang berdiri di belakang punggung Bang Ricky.
"Iya.. cepat Va..!!"
Iva segera membuatkan Nindy teh hangat. Hatinya tak kalah cemas memikirkan Nindy. Ia pun tak tau apa sebabnya Nindy sampai pingsan. Setelah teh itu jadi.. Iva segera membawanya ke kamar.
~
"Abang istirahat saja di kamar Iva. Nindy nggak apa-apa. Nindy juga mau istirahat." Terlihat sekali Nindy begitu memaksakan senyumnya.
"Abang biar temani kamu Nindy..!!" Kata Iva.
"Jangan mengatur Abang..!! Abang sendiri yang tentukan dimana Abang tidur.." ucap tegas Bang Ricky.
Iva mengangguk dan Nindy hanya diam seribu bahasa.
"Kamu tidur di kamar. Abang jaga Nindy..!!" Kata Bang Ricky.
"Iva ikut temani Nindy disini saja ya Bang" pinta Iva.
"Kembalilah ke kamarmu. Abang butuh bicara dengan Nindy."
"Memangnya Abang mau bicara apa sampai Iva tidak boleh tau?" Tanya Iva.
"Iva, rumah tangga kita berbentuk poligami dan ada hukumnya bahwa kebersamaan suami dengan salah satu istrinya, maka tidak perlu istri yang lainnya ikut tau." Jawab Bang Ricky.
Iva pun berjalan masuk ke kamarnya lalu menutup pintu. Nindy terdiam.. juga pernah mendengar ucap tersebut dari bibir Bang Ricky.
__ADS_1
~
Bang Ricky terus mengusap perut Nindy yang masih terus diam tanpa kata. "Kalau memang ada yang mengganjal dalam hatimu katakan saja..!! Jangan ada yang di tutupi lagi. Rumah tangga itu harus saling percaya dan saling setia"
"Iva ingin anak Bang."
"Lalu kenapa? Dia yang ingin anak. Abang tidak" jawab Bang Ricky.
"Mungkin Iva ingin kebahagiaan yang sama seperti Nindy Bang."
"Abang belum bilang soal kehamilanmu. Lebih baik kamu fokus dengan kondisimu saat ini..!!"
"Abang tidur saja dengan Iva. Mungkin Iva rindu sama Abang."
Bang Ricky mencondongkan tubuhnya dan mengecup kening dan bibir Nindy sekilas. "Kamu terlalu naif menghadapi dunia ini sayang. Abang tidak memberinya malam panjang.. juga tidak bisa memberinya anak."
Ingin sekali Bang Ricky mengungkapkan semua namun perihal pernikahan seperti dirinya, tidak mungkin dirinya mengumbar aib satu sama lain. Menjaga kehormatan dan na baik sang istri adalah sebuah kewajiban.
'Jika ada anak di antara Abang dan Iva.. Abang yakin kamu akan pergi. Abang tidak ingin kamu pergi lagi.'
"Abang tidur di ruang tengah ya. Nggak apa-apa ya?? Sabarlah sebentar lagi. Biar Abang bisa selalu menemani tidurmu..!!" Pinta Bang Ricky.
-_-_-_-
Malam sudah semakin larut. Bang Ricky sudah terlelap dalam tidurnya. Antara sadar dan tidak, ia merasa ada yang menyentuh bagian tubuhnya. Rasa lelah seharian bekerja, juga beban pikiran yang masih menumpuk membuatnya tidak lantas tidak langsung bisa membuka matanya.
"Baaang.." ada suara bisik nakal dan manja menggoda Bang Ricky.
"Hmm.." jawab Bang Ricky dengan kapasitas lima Watt.
"Pengen.. boleh ya?"
Merasa ada yang meraba dirinya, tubuh Bang Ricky pun menegang. D***h pun tak dapat di tahannya. Perlahan Bang Ricky membuka matanya dan melihat sosok dengan rambut tergerai sudah beralih naik ke atas tubuhnya sampai akhirnya menyatukan diri bersamanya. Bang Ricky terkejut setengah mati dan menoleh panik.
.
.
.
.
__ADS_1