
"Jungkir balik kamu dari sini sampai ujung lapangan..!!!! Bisa-bisanya kamu bongkar rahasia Dankimu..!!" Geram sekali Bang Ricky merasakan ulah Prada Ega ajudannya.
"Siap salah Komandan. Siap laksanakan..!!"
"Cepat..!!!!!!!!"
Dari jauh Bang Prasetya sudah was-was melihat kesalnya Danki Baru.
~
"Bang.. pulang yuk..!! Nindy capek..!!" Nindy sengaja mengikat rambutnya dan mengarahkan ke atas.
"Astaga..!!" Bang Ricky menarik tangan Nindy agar menjauh dari Om Ega yang sedang jungkir balik.
:
"Ya memang tujuanmu menggoda Abang. Tapi ada Ega juga yang lihat. Dia laki-laki lho dek. Gimana sih kamu. Abang nggak suka kamu bertingkah seperti itu lagi..!!"
"Iyaaaa.."
"Lagipula siapa sih yang ajari kamu genit begitu?????" Bang Ricky gemas melihat tingkah nakal Nindy.
"Mbak Lisa. Istrinya Bang Prasetya." Jawab Nindy.
Bang Ricky tak peduli lagi dan tidak ingin tau banyak alasan mengapa Mbak Lisa bisa bertemu dengan Nindy, yang jelas amarah nya memang sedikit mereda karena bujukan Nindy. Baru saja perasaannya tenang namun kini nalurinya kembali tergugah.
"Tepati janjimu..!!" Tangan Bang Ricky menyusuri alur wajah Nindy.
Nindy terhenyak karena ternyata bang Ricky benar-benar menagih ucap Nindy. Dirinya semakin cemas. Tak banyak kata mengungkapkan segala rasa. Bang Ricky mengajaknya ke atas ranjang. Bang Ricky mendekatkan wajahnya pada bibir Nindy dan semakin merebahkan sang istri.
...
Nindy meremas kedua bahu Bang Ricky menahan rasa sakit tak terkira pada bagian tubuhnya namun Bang Ricky belum juga melepasnya. Suaminya itu sudah hilang kendali hingga mungkin tak sanggup membedakan hitam dan putih.
D***h panjang terlepas dari bibir Bang Ricky. Nindy sungguh bisa melihat dan merasakan betapa suaminya itu sangat menikmati malam bersamanya. Tak ada sikap kasar dari Bang Ricky.. suaminya begitu lembut berusaha memanjakan dirinya.
"Alhamdulillah.." ucapnya lirih kemudian ambruk tanpa tenaga di atas tubuh Nindy. Dengan usahanya sendiri, ia menyelesaikan 'tugas' sebagai seorang suami. Dirinya bahkan menyingkirkan 'penguat' yang sudah membuatnya malu setengah mati.
"Sudah khan?" Tanya Nindy sedikit ketus.
__ADS_1
"Sudah" jawab Bang Ricky terengah kemudian menoleh menatap Nindy dan mengusap keningnya. "Terima kasih banyak"
"Sama-sama." Nindy memalingkan wajahnya menyembunyikan rasa malu tak terkira di hadapan Bang Ricky.
Bang Ricky tersenyum melihat tingkah polah sang istri, ia pun mencolek dagu Nindy. "Pakai acara malu segala. Abang sudah lihat semua tanpa ada yang terlewat" ucap nakalnya usai merasakan batinnya begitu lepas terpuaskan.
"Baaaanngg..!!!!"
"Hahahaha...."
\=\=\=
"Nggak dek, bahaya. Seperti apapun kamu memaksa, Abang tidak akan mengabulkan..!!!" Tolak Bang Ricky mentah-mentah.
"Tapi Nindy pengen kuliah jurusan instalasi listrik Bang" rengek Nindy.
"Nggak ada tawar menawar, lebih baik kamu masuk jurusan seni saja.. menyesuaikan skill mu itu" kata Bang Ricky tegas.
"Pokoknya Nindy mau kuliah jurusan instalasi listrik. Titik..!!"
"Abang nggak mau ada tawar menawar lagi. Nggak boleh ya nggak boleh..!!!!" Bang Ricky meninggalkan tempat dan segera berangkat ke kompi.
"Terseraaahh..!!" Bang Ricky mengakhiri perdebatan mereka tanpa ingin tarik urat lagi.
'Apa dia kira gampang berurusan dengan arus listrik???'
//
Bang Brigas menikmati makan paginya. Dengan memberanikan diri ia meletakan secangkir teh hangat di meja makan. "Bang.. Maurin mau bicara..!!"
"Apa dek?"
Maurin meletakan benda kecil di atas meja saat Bang Brigas sedang membaca informasi di ponselnya. Sekilas mata Bang Brigas melirik namun sesaat kemudian matanya melihat baik-baik benda kecil tersebut. Senyumnya pun tersungging kemudian tenggelam dalam sikap dinginnya.
"Kamu hamil dek?" Tanya Bang Brigas.
Maurin mengangguk pelan, cemas jika Bang Brigas tidak bisa menerima kehamilannya karena sejujurnya dirinya lah yang sangat menginginkan kehamilan itu. "Iya Bang, Abang boleh meninggalkan Maurin.. sesuai dengan kesepakatan kita" jawab Maurin.
Tiba-tiba saja ada rasa nyeri menyelimuti relung hatinya, terasa sakit menusuk perasaan nya yang terdalam. "Kamu sungguh menginginkan hal itu terjadi??"
__ADS_1
"Maurin tau, Abang tidak pernah mencintai Maurin."
Bang Brigas memilih pergi daripada harus terpancing emosi karena sikap Maurin. "Nanti Abang jemput. Ada kegiatan khan di Batalyon?" Tanya Bang Brigas.
"Nanti sama Om Didi saja" tolak Nindy.
"Abang bilang, Abang yang jemput..!!!" Jawab Bang Brigas seakan tidak ingin mendengar segala penolakan dari Maurin.
"Iya Bang"
//
Siang hari Nindy sedang sibuk menyelesaikan segala tugasnya. Kepalanya terasa sangat sakit. Ia menyandarkan punggungnya dengan kasar.
tok.. tok.. tok..
"Masuk saja.."
"Ijin Ibu" terlihat Om Ega mengantar sesuatu. "Ini ada titipan dari Danki. Pesan Danki, ibu harus banyak makan biar nggak di bilang seperti orang susah"
"Suami saya bilang begitu???????"
"Siap..!!!!" Jawab Om Ega membenarkan.
Nindy cemberut mendengarnya, bibirnya sampai manyun. "Bilang sama Danki yang congkak itu, nggak usah cari perkara atau hardware nya saya acak-acak..!!" Ancam Nindy.
~
"Masa istri saya jawab begitu??? Memangnya kamu bilang apa Ga??"
"Ijin.. bilang yang Danki bilang. Banyak makan biar nggak seperti orang susah" jawab Om Ega.
"Astagfirullah Egaaaa..!!!!!" Bang Ricky sampai gemas ingin meremas bibir ajudannya. "Mulutmu itu memang juara satu soal ghibah..!!!"
.
.
.
__ADS_1
.