Perisai Hati.

Perisai Hati.
37. Tragedi.


__ADS_3

Bang Ricky melepas korset di perut Nindy. Perut sang istri memang tidak seramping dulu namun dirinya sangat menyukainya. Sudah nyaris sebelas minggu dan perut Nindy semakin terlihat seksi.


"Masih marah sama Abang?" Tanya Bang Ricky.


Nindy masih memilih diam seperti kebiasaannya saat ini, saat mengandung bayi pertama nya.


"Abang minta maaf, Abang yang salah"


Mendengar permintaan maaf Bang Ricky, Nindy pun luluh dan menangis sedih. "Abang nggak pernah sayang sama Nindy. Nindy mau pulang ikut ayah..!!"


"Yo nggak boleh, kamu sudah jadi istri Abang. Kalau Nindy pulang nanti Abang bobo'nya sama siapa?" Goda Bang Ricky.


"Istri apa? Bilang sayang saja nggak pernah. Janji mau melamar Nindy juga nggak pernah jadi" ungkit Nindy membuat Bang Ricky hanya tersenyum saja.


:


Nindy sudah tertidur di gazebo privat di atas sekitar perbukitan. Wajah lembut untuk Nindy tadi, kini sudah tak tampak lagi di hadapan Bang Hara.


"Kenapa kamu nggak bilang sama saya?? Saya memberimu amanah karena percaya sama kamu Har" terdengar ucap Bang Ricky sangat kecewa.


"Saya mohon maaf Bang, saya salah"


"Nindy masih hamil muda, tenaga wanita itu tidak seberapa apalagi saat sedang hamil seperti ini, kenapa kamu tidak bilang ada ospek? Kalau saja saya tidak kesini dan Nindy terus berada di tenda selama tiga hari, istri saya tidak akan kuat Har."


Nindy menggeliat mendengar suara keras dari Bang Ricky.


"Uussshhhh..!!" Bang Ricky panik lalu mengusap perut Nindy sampai istrinya itu kembali tenang. "Pokoknya saya ikut kemanapun Nindy pergi..!!"


"Siap Abang."


Sejak tau sang istri sedang hamil tak sedikitpun Bang Ricky tidak panik memikirkan nya.


//


Seorang gadis berlari sampai akhirnya terjatuh tepat di kaki Bang Ganesha.


"Pak.. tolong saya..!!" Pinta gadis tersebut sampai memeluk kaki Bang Ganesha saat melihat pria di hadapannya berpakaian loreng.


Belum sempat Bang Ganesha menanyakan apapun, beberapa orang gerombolan pria mengejar gadis itu sembari membawa celurit.


"Lepaskan gadis itu..!!!!!" Teriak salah seorang pria sembari membawa tombak.

__ADS_1


"Ada apa Pak? Lebih baik kita bicara baik-baik"


"Kau mau merusuh disini??? Tangkap dia sekalian..!!" Perintah kepala gerombolan.


...


Gadis itu berteriak dan menangis histeris melihat sang ayah sudah tiada dengan golok menembus perut.


Secepatnya Bang Ganesha memeluk gadis yang terlihat syok itu.


"Manusia ini sudah memp*****a putri ketua kami dan menjual tanah dan kebun karet ini kepada warga luar."


Semakin pecah tangis gadis itu dan Bang Ganesha tak memahami mengapa tiba-tiba hatinya tidak tega melihat semua ini.


"Saya Letnan Ganesha. Anggota Batalyon P, jika bapak semua berkenan.. bagaimana kalau kita duduk bersama, menyelesaikan semua masalah ini dengan kepala dingin..!!" Saran Bang Ganesha selembut mungkin. "Saya netral Pak, tidak ada di pihak gadis ini atau di tempat bapak."


"Baiklah.."


:


"Nava nggak mau nikah sama laki-laki itu. Tolong Nava..!! Nava akan mengabdikan diri untuk bapak seumur hidup untuk saya..!!"


Bang Ganesha terdiam sejenak teringat sang kekasih di pulau Jawa.


"Lima puluh juta, di tambah Nava harus menikah dengan anak ketua" tunjuk perwakilan warga pada seorang pria yang tidak sehat mental.


Nava sudah mau mati rasanya. Keluarga korban pembunuhan dari ayah Nava sudah jelas tak mungkin memperlakukan Nava dengan baik.


"Kira-kira berapa yang harus saya bayar untuk melepaskan Nava, bukankah sebenarnya dia tidak ada sangkut pautnya dengan masalah orang tuanya?" Bang Ganesha kembali bertanya.


"Kalau melepaskan Nava tanpa syarat, harus ganti total seratus juta rupiah. Itupun Nava tidak boleh ke kampung ini lagi dan harus punya suami pengganti dan di nikahkan sesuai hukum desa..!!" Jawab seorang warga.


Bang Ganesha kembali terdiam. Meskipun hatinya menolak, namun ketentuan tetaplah ketentuan. Ekor matanya kembali melirik gadis yang duduk di sampingnya. Perasaannya terbolak balik memikirkan jalan terbaik.


"Baiklah, saya yang akan menanggung segalanya. Saya akan melunasi denda dan... Tolong panggilkan penghulu. Saya ingin semua sah sesuai kepercayaan saya.. setelah itu saya kembalikan semuanya pada warga..!!"


Para penduduk saling pandang. Tak mungkin mereka menyerang Letnan Ganesha yang sudah kooperatif dengan warga, pria itu pun sopan dan tidak banyak bertingkah meskipun warga menekannya.


...


Dengan saksi warga, Bentang Ceudah Navalia sudah sah menjadi istri Bang Ganesha dan pria itu segera membayar denda yang sudah di tentukan.

__ADS_1


"Terima kasih banyak Pak Ganesha. Kami antar bapak keluar gapura desa. Maaf harus ada kejadian seperti ini, namun ketentuan turun temurun tidak bisa di ubah begitu saja."


"Tidak apa-apa Pak. Mungkin jodoh saya memang Nava. Kita tidak tau bagaimana cara Tuhan mengatur hidup kita..!!" Jawab Bang Ganesha.


"Baik Pak, sekali lagi kami memohon maaf, terima kasih dan selamat menempuh hidup baru"


...


Nava menunduk sedalam-dalamnya tak berani menatap wajah Bang Ganesha.


Seluruh anggota yang mengetahui masalah dantim nya ikut prihatin.


"Perkenalkan.. ini Nyonya Ganesha. Untuk sementara akan ikut tidur di kamar saya. mudah-mudahan rekan semua dapat mengerti keadaan saya saat ini." Kata Bang Ganesha membuka suara.


"Siap Dantim. Kami paham. Selamat datang Ibu Ganesha.."


Bang Ganesha menyenggol kaki Nava agar merespon anggotanya.


Nava pun berdiri dan menegakan wajahnya yang sembab oleh hujan tangis. "Terima kasih bapak-bapak semua. Mohon maaf kehadiran saya mungkin sangat menggangu.. untuk selanjutnya saya akan berusaha untuk menyesuaikan diri..!!" Ucap Nava.


"Siap ibu, kami senang ada ibu"


Nava menangkupkan kedua tangan dan sedikit membungkuk memberi hormat.


"Lain kali kita bicara lebih dekat ya. Istri saya masih syok dan butuh ketenangan. Kalian silakan lanjutkan pekerjaan."


"Siap Dantim..!!"


:


Bang Ganesh membuka pakaian dan menggantung nya. Nava sangat ketakutan melihatnya.


"Ayo kita ke pasar. Kamu nggak bawa pakaian khan?"


"Nava nggak pu_nya uang Pak." jawab Nava begitu lirih nyaris tak terdengar.


"Panggil saya Abang. Kamu istri saya..!!" Bang Ganesha menata selembar surat keterangan sah dari pihak penghulu dan memasukan ke dalam dompetnya.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2