Perisai Hati.

Perisai Hati.
30. Belajar sabar.


__ADS_3

"Ijin Danki, saya saja yang menyetir mobil...!!"


Bang Ricky diam saja di dalam mobil, pikirannya kacau balau memikirkan Nindy.


Om Munawar tak bisa berbuat apapun sampai Bang Ricky melajukan mobilnya hingga lokasi kejadian Nindy mengikuti balap mobil.


...


Bang Ricky berlari mencari keberadaan Nindy. Setelah beberapa saat pencarian, ia melihat Nindy sedang berbincang dengan beberapa laki-laki dan sudah bersiap untuk naik mobil tersebut dan kemudian Nindy masuk di salah satu mobil, bersiap melajukan mobil tersebut.


"Nindy..!!!!!!!!" Sapa Bang Ricky menaikan volume suara nya memanggil Nindy.


"Abang????"


Dari dalam mobil Nindy melirik Om Ega dan Om Munawar yang agaknya sudah membocorkan rahasia nya.


"Jangan lihat mereka, cepat turun..!!!!!" Kata Bang Ricky.


Tindakan Bang Ricky memancing reaksi pembalap yang lain. Mereka mendekati mobil Nindy.


Nindy masih terdiam di dalam mobil, memegang kuat kemudi. Beberapa kali terdengar deru 'pedal gas' yang belum masuk kopling.


braaaaak..


Bang Ricky menghantam bagian depan mobil hingga penyok. "Nindy keluaarrr..!!!!!!" Bentaknya lebih kencang.


"Sabar Mas, ini mobil perusahaan..!!" Seorang wanita mengusap lengan Bang Ricky hingga membuat Nindy keluar dari mobil. "Nanti aku bilang pacarmu agar lebih hati-hati..!!"


Bang Ricky menepisnya dengan kasar, tak peduli dengan gadis pembawa bendera.


"Ayo pulang..!!!" Ajak Bang Ricky mengulurkan tangannya dan Nindy masih teguh pada pendiriannya, istri Lettu Ricky tidak mau menyambutnya. "Apa mau mu??" Bang Ricky mulai merendahkan suaranya, dirinya sangat takut terjadi sesuatu pada Nindy dan juga calon bayinya. Amarah Bang Ricky sempat naik turun melihat Nindy malah menangis mendengar suara lembutnya.


"Nindy nggak mau pulang"


"Kamu mau kemana??" Tanya Bang Ricky.


"Pokoknya Nindy nggak mau sama Abang..!!!" Pekik Nindy.


"Abang salah apa??"

__ADS_1


Nindy berjalan cepat meninggalkan tempat dan kedua ajudannya menghandle suasana.


~


"Astaga.. kenapa perempuan selalu menangis???? Abang nggak tau bahasa mu, apa masalah kita bisa selesai dengan tangisan?????"


Nindy semakin kencang menangis dan tangis Nindy itu membuat Bang Ricky semakin stress. Perut Nindy sedikit kram karena terlalu banyak menangis. "Eegghh.." rintihnya memegangi perutnya.


"Dek... Apa yang sakit??" Refleks Bang Ricky panik melihat Nindy kesakitan. Cukup kaget Nindy melihat reaksi Bang Ricky.


Entah kenapa terbersit kesal setiap mengingat sikap galak 'Om' Ricky. 'Sekali-kali ngerjain Abang boleh nggak sih?'. Nindy sengaja lemas dan merosot menjatuhkan diri.


"Dek.. Ya Allah. Kita pulang..!!! Jangan pernah macam-macam seperti ini lagi..!!" Secepatnya Bang Ricky menggendong Nindy masuk ke dalam mobil meninggalkan kedua ajudannya.


:


Tangan Bang Ricky mengusap perut Nindy dengan gelisah sebab ia tau luka di sekitar perut Nindy masih basah meskipun bukan luka yang besar.


"Perut Nindy sakiit Baang..!!" Rengek manja Nindy dengan sengaja.


"Sabaarr.. kita kembali ke rumah sakit ya..!!"


"Terus bagaimana?? Abang bingung, Abang nggak tau apa yang kamu rasakan dek." Panik Bang Ricky semakin menjadi.


Tau Bang Ricky begitu mencemaskan dirinya, ada kepuasan tersendiri melihat 'Om' Ricky kebingungan dalam paniknya. Rasa sedih dan ketakutannya mendadak hilang.


Nindy memasang wajah sedih kemudian bersandar pada bingkai pintu mobil.


"Eehh kenapa dek?? Ada yang sakit??"


"Anak Abang nggak mau Papanya melirik perempuan lain." Kata Nindy ketus.


"Kapan Abang melirik perempuan lain?? Mata Abang ini mau loncat lihat kamu saja" jawab Bang Ricky.


"Aaahh.. perut Nindy sakit dengar suara teriak Abang. Anak Abang nggak suka suara Papa nya seperti lutung"


"Abang nggak teriaaakk..!!"


Nindy kembali meremas perutnya. "Aawwhh..!!"

__ADS_1


Mata Bang Ricky terpejam sejenak. Ia menekan emosi dan berusaha sesabar mungkin menghadapi istri kecilnya. "Maaf" ucapnya lebih lembut. "Abang minta maaf kalau Abang salah. Abang tau kamu pergi ikut auto racing pasti ada alasannya. Sebenarnya ada apa?"


Mimik wajah Nindy seketika berubah. Ingatannya kembali pada setiap ucapan Yani Irwanto. Batinnya terasa sesak.


"Ada apa?" Bang Ricky membelai rambut Nindy.


"Abang menikahi Nindy juga pasti bukan karena cinta. Semua karena terpaksa. Tidak ada laki-laki yang mau menjerumuskan dirinya hanya karena wanita rusak seperti Nindy. Banyak wanita yang lebih baik dari Nindy. Dan nanti akan ada saatnya Abang tergoda dengan pesona wanita lain, Nindy yang tidak ada apa-apa nya ini, lemah, hanya akan menyusahkan Abang saja" kata Nindy mengutip ucapan istri Sertu Irwanto.


Bang Ricky tersenyum sinis mendengarnya. "Siapa yang bilang begitu?"


Nindy seakan tak sanggup menjawabnya.


"Kapan istri Irwan menemui kamu??"


Cukup kaget Nindy mendengarnya. "Abang tau?"


"Kenapa kamu lebih mendengarkan kata perempuan itu daripada Abang? Apa kamu nggak mikir tindakanmu itu bisa mencelakai anak kita???" Tegur Bang Ricky.


"Karena Nindy merasa Abang seperti ucapan istri Bang Irwan"


Bang Ricky melirik wajah Nindy kemudian kembali fokus pada jalanan. "Grah Kidung Arianindy.. istriku. Secara sadar, tanpa paksaan, dari lubuk hati yang terdalam Abang menikahimu. Di dunia ini, ratusan bahkan ribuan wanita yang lebih baik dari kamu, tapi kamu yang terbaik.. yang ingin Abang miliki. Mungkin akan ada banyak kaum mu yang menggoda Abang, tapi itu hanya kilas mata dan tidak akan pernah sampai di hati Abang, karena hati ini sudah terukir satu nama dan tidak akan pernah Abang menghapusnya. Jadilah dirimu sendiri karena Abang inginkan apa adanya dirimu"


Kelopak mata Nindy berkedip-kedip mendengarnya. Bang Ricky pun tersenyum melihat imutnya ekspresi wajah Nindy.


"Jadi.. Abang cinta atau nggak sama Nindy"


"Lailaha Illallah..!!" Bang Ricky membuang nafas kasar dalam hatinya mengumpat kesal. Ia mengusap dadanya pelan.


"Baang"


Bang Ricky mengusap perut Nindy. "Besok jangan meniru sifat Mama mu ya nak..!!"


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2