
Bang Prasetya tidak berkutik lagi saat Bang Ricky menolak hadir untuk gladi karena tiba-tiba istri Danki kondisi nya drop.
"Kenapa istri perwiranya pada sakit semua. Kalau istri Brigas ijin kerena lemas hamil muda, nah kalau istri Ricky karena apa??" Gumam Bang Prasetya pada anggotanya.
//
"Deeeeekk.. Astagfirullah.. wes mulai besok nggak ada mandai dan buah-buahan macam ini di rumah..!!! Marai molo wae" Bang Ricky membawa Nindy masuk ke dalam kamar. Tangannya dingin, badannya gemetar. Secepatnya ia meraih ponsel di atas nakas samping ranjangnya.
"Ega.. cepat kamu jemput dokter, bawa ke rumah saya..!!"
"Ijin Dan, dokter apa?" Tanya Prada Ega.
"Apa saja..!! Cepat ya..!!" Pinta Bang Ricky.
"Siaapp..!!!"
:
"Dokter hewan???????" Bang Ricky ternganga melihat dokter hewan yang datang ke rumahnya.
"Siap.. sesuai arahan Danki untuk membawa dokter apa saja. Yang terdekat dan tercepat hanya ada dokter hewan yang lokasi prakteknya hanya lima ratus meter dari Batalyon.
Bang Ricky memijat tengkuknya yang tiba-tiba saja saat ini merasa migrain.
"Bang.. sabar Bang, duduk dulu..!!" Bang Ganesha mengarahkan Bang Ricky untuk duduk.
"Kamu memang 'kebacut' Ga, benar-benar bebal, Pentium 4. Danki minta dokter buat istrinya.. bukan untuk ayam-ayam nya..!!!" Suara Bang Ganesha yang awalnya lembut kini sudah sekeras sirine.
"Siap salah Dan..!!"
"Sekarang kamu cepat cari gantinya..!!"
"Ganti dokter Dan???"
"Ya Allah Ga..!!!! ganti mantri, Dankimu mau s*n*t..!!!!" Bentak Bang Ganesha.
"Siaap..!!"
...
Sore pun tiba, Om Ega benar-benar mendatangkan pak mantri ke rumah, semakin lama, Nindy yang semakin lemas membuat Bang Ricky tidak sabar.
"Ya sudahlah, tolong cepat periksa istri saya...!! Cepat ya Pak..!!" Pinta Bang Ricky.
~
"Asam lambung nya naik Pak, karena terlalu kesakitan, tekanan darahnya jadi menurun." Kata Pak Mantri.
"Resepkan obat ya Pak, biar saya menebusnya di apotek..!!" Pinta Bang Ricky.
"Kebetulan saya bawa obatnya"
"Baik Pak, mana obatnya biar istri saya bisa beraktivitas lagi..!!"
...
__ADS_1
"Hhhhhkkkk..." Nindy muntah dan malah semakin parah.
"Ya ampun dek, kita ke rumah sakit aja ya. Masa kamu muntah seperti orang keracunan begini??" Bang Ricky panik sampai mengguyur tubuh Nindy hingga dirinya sendiri pun ikut basah. "Besok jangan ikut kegiatan. Biar Abang saja yang ikut kegiatan penyambutan panglima..!!"
"Nindy mau ketemu Ayah, Nindy kangen Ayah" ucap Nindy lirih.
"Abang bawa ayah pulang kesini, yang pasti.. kamu harus istirahat..!!"
"Ayah.. ayaahh..!!!"
Bang Ricky memeluk Nindy dengan erat, badan Nindy mulai menggigil kedinginan. Mau tidak mau Bang Ricky menyadari sesuatu.. "Abang akan pertemukan kamu dengan cinta sejati mu besok. Sekarang istirahat ya. Abang tau kamu kangen sama ayah"
***
Tak ada kata terucap, Bang Ricky tak bisa menolak keinginan Nindy yang ingin bertemu dengan panglima yang notabene adalah Ayah kandung istrinya itu.
"Sebentar saja ya Bang, setelah bertemu Ayah.. Nindy langsung pulang..!!"
"Janji ya?"
"Janji Bang" jawab Nindy meskipun tubuhnya masih sangat lemah.
...
Bang Ricky menyerukan yel penyembutan panglima. Entah kenapa hari ini Nindy melihat Bang Ricky nampak sangat gagah. Panglima dan para staff nya pun terpukau melihat gaya maskulin sang Danki.
Hingga panglima memeluk Bang Ricky usai seruan yel berhenti.
"Dimana Nindy??" Bisik Panglima di telinga Bang Ricky.
Panglima celingukan karena tidak melihat keberadaan Nindy disana.
Ddrrtttt..
Bang Ricky pamit melihat ponselnya dan membiarkan Danyon beserta para senior dan staff yang lain untuk menemani panglima.
N : 🎥
N : Ternyata Om Ricky bisa gagah juga.
Bang Ricky membacanya, senyumnya pun merekah melihat aksinya di abadikan oleh istrinya sendiri.
R : Kamu dimana?
N : Disini Om.
Bang Ricky mulai gemas menanggapi ulah nakal Nindy.
R : Disini itu dimana??
Tak ada lagi balasan dari Nindy padahal sikap Nindy sudah menyita seluruh perhatiannya.
"Perwiranya kumpul..!!!!!" Teriak Bang Prasetya.
:
__ADS_1
Hingga tengah acara, Bang Ricky belum melihat kehadiran Nindy dan itu sangat membuatnya gelisah dan khawatir.
"Bagaimana Lettu Ricky.."
"Siap...!!!" Jawabnya karena tidak mendengar pertanyaan Panglima.
Danyon menggeleng cemas melihat kelakuan juniornya.
"Saya tanya apakah istrimu sudah ada tanda kehamilan seperti Lettu Brigas??" Panglima mengulang pertanyaan nya.
"Siap.. belum Panglima..!!"
"Kalah cepat kamu Letnan. Di kalahkan juniormu tuh, semangat Let..!!" Kata Panglima setengah meledek.
"Siap Panglima.. sedang di usahakan" jawabnya mengurai senyum dalam perasaan tak karuan.
Acara santai pun masih terbilang landai dan Bang Ricky mencuri kesempatan untuk mencari keberadaan Nindy melalu layar ponselnya.
Kemarin setelah berbincang dengan Bang Brigas, ia mengutarakan ide untuk memasang cctv pribadi di area batalyon tanpa seijin Danyon. Sebenarnya Batalyon sudah memiliki cctv namun Bang Ricky ingin menambahkan lagi di area lebih pribadi, tentu saja memperbanyak di area kompi. Pro dan kontra pasti terjadi, maka dari itu Bang Ricky berinisiatif mengambil keputusan sepihak.
Mata Bang Ricky membulat tajam melihat sisi dekat toilet terdapat seorang wanita tergeletak pada anak tangga menuju toilet dengan kepala menghadap ke lantai dasar dan tak salah lagi, dia adalah Nindy.
Bang Ricky berdiri dan berlari meninggalkan tempat tanpa pamit hingga tanpa sengaja kursinya terpelanting begitu saja.
"Ada apa dengan Letnan Ricky??" Staff pendamping panglima sampai menggeleng melihat tingkah 'tidak sopan' dari Bang Ricky.
Seakan peka dengan keadaan, Bang Brigas, Bang Hara dan Bang Ganesha segera mengikuti seniornya.
~
Hati Bang Ricky hancur sehancur-hancurnya melihat Nindy tergeletak. Kepalanya berdarah, kakinya pun berlumuran banyak darah. Ia melepas seragamnya lalu menutup paha Nindy. Tangan itu mengangkat kepala Nindy secara perlahan. Tangisnya pecah.
"Cari Irwanto..!!!"
"Maksud Abang Sertu Irwanto?? Kompi Abang??" Tanya Bang Ganesha.
"Ayo Nesh.. kita cari..!!" Ajak Bang Hara.
"Sebentar Bang, buat apa cari Sertu Irwanto???"
"Cari dia sampai dapat..!!!! Seret dia di hadapan saya, bagaimana pun caranya..!!!!" Perintah tegas Bang Ricky.
"Siaap Abang..!!"
Mata Bang Ricky melihat benda kecil dalam genggaman Nindy dan Bang Ricky mengambilnya. "Lailaha Illallah.." dada Bang Ricky rasanya tersambar dan terhantam kuat. Air mata meleleh dari pelupuk mata. Di peluknya Nindy dengan eratnya. "Kenapa kamu nggak bilang dek?? Kenapa nggak langsung bilang kalau dia sudah ada di rahim mu?? Abang menunggunya dek, setiap hari tak putus do'a untuk kamu dan anak kita..!!!!!!" Hancur tak terkira perasaan Bang Ricky melihat Nindy terkapar tanpa daya.
Bang Brigas terhuyung selangkah, dadanya pun ikut terasa sesak. "Maurin.... Dimana Maurin??" Kepalanya pening ketakutan memikirkan Maurin.
"Tolong panggilkan ambulans..!!!!" Teriak Bang Ricky pada beberapa orang anggota yang baru saja datang.
.
.
.
__ADS_1
.