
"Nava nggak apa-apa Bang, hanya tertekan dan syok saja. Mungkin Nava menahan perasaannya beberapa waktu ini."
Bang Ganesha terduduk kasar di lantai. Nafasnya berangsur pulih mendengar ucap Nia yang berprofesi sebagai seorang perawat.
"Bujuk biar mau makan ya Bang. Kelihatannya Nava belum makan" kata Nia.
Bulir kesedihan runtuh juga dari pelupuk mata Bang Ganesha.
"Terima kasih banyak Nia."
"Sama-sama Bang. Selamat atas pernikahan Abang dan juga kehamilan Nava. Semoga langgeng, kehamilan Nava sehat dan lancar hingga persalinan" suara Nia bergetar namun ia harus berbesar hati mengucapkannya meskipun masih setengah hati.
"Maafkan saya sudah mengkhianati cintamu"
"Terkadang apa yang kita inginkan dan impikan tidak selalu bisa kita miliki Bang, mau bilang apa? Ini sudah takdir." Nia menghapus air mata yang berlelehan di pipi.
Bang Ganesha sedikit canggung melihat Nia menangis tapi kemudian Nia tersenyum.
"Nggak apa-apa Bang, Abang tau khan Nia kuat" kata Nia.
"Iya Nia. Sekali lagi maafkan saya..!!"
Nia mengangguk tapi kemudian menangis lagi.
Tak lama Nava terbangun, istri Letnan Ganesha mual hebat.
"Belikan cairan infus Bang, biar Nia merawatnya"
Tanpa banyak membuang waktu, Bang Ganesha hanya mengingat juniornya. Letda Ludoyo.
...
Bang Ludoyo celingukan mengintip sosok yang merawat istri seniornya. Wanita itu terus merawat istri Bang Ganesha sembari menangis. Istri Bang Ganesha pun ikut menangis.
Melihat Bang Ganesha melintas di hadapannya, Bang Ludoyo pun mencekal tangan nya. "Bang, siapa yang merawat istri Abang itu, cantik sekali. Kenalin donk Bang"
"Cckk.. kamu laki-laki atau bukan?? Kenalan sendiri..!!!!" Jawab Bang Ganesh. Tak ada rasa sakit ataupun cemburu dalam hatinya. Ia hanya mencemaskan Nava seorang.
//
Bang Revan membawakan banyak sekali hadiah untuk Tisha. Sudah lama sekali dirinya tidak melihat adik bungsunya. Senyum tampan tak beralih dari wajah cerianya ingin sekali segera bertemu dengan Tisha.
"Apa ini rumdis mu Har? Kenapa harus di rumah dinas?" Tanya Bang Revan sembari melihat rumah dinas yang baru lima puluh persen jadi.
__ADS_1
"Siap Bang, ini rumah dinas saya. Sudah beberapa minggu ini saya pengajuan nikah dan tinggal menghadap Kasi, Pasi lalu lanjut Wadan serta Danyon." Jawab Bang Hara.
"Dapat gadis mana Har?"
"Ijin.. putri Jawa"
"Bagus lah Har, kalau sudah siap menikah lebih baik menikah saja......."
Tangan Bang Hara mengepal erat, ia menguatkan hatinya menghadapi Bang Revan. "Bang, Saya akan menikahi Tisha." tanpa basa basi Bang Hara mengakui kenyataan nya.
Untuk sejenak Bang Revan melihat ekspresi wajah Bang Hara.
"Tisha hamil anak saya." imbuh Bang Hara.
"Ulangi katamu???" Pinta Bang Revan.
"Tisha hamil.. anak saya Bang"
Bang Revan sampai terhuyung karena terlalu syok mendengar kabar dari Bang Hara.
"Siapa yang memulai??? Apakah Tisha.. atau kamu??" Tanya Bang Revan.
"Saya Bang" jawab tegas Bang Hara.
Hantaman telak membuat Bang Hara langsung tak sadarkan diri.
...
"Revaaann.. kita bicarakan baik-baik. Jangan bawa Tisha pergi dulu..!!" Bang Ricky mencoba menengahi perdebatan di antara Bang Hara dan Bang Revan.
"Kau termasuk ikut andil membuat masalah ini terjadi pot, aku menitipkan adik ku dalam misi ini bukan untuk di rusak. Kenapa kamu serahkan tanggung jawab pada pria yang tidak bisa bertanggung jawab dengan tugasnya...!!!!" Emosi Bang Revan.
"Iya pot, aku minta maaf"
"Apa maaf bisa mengembalikan kehormatan adikku???" Bentak Bang Revan.
"Aku paham pot, ayo kita bicara di rumahku..!!" Ajak Bang Ricky.
Bang Revan menggandeng tangan Tisha dan membawanya pergi.
Bang Ricky segera menghubungi seseorang.
"Abang mau hubungi siapa?" Tanya Bang Brigas yang juga berada di lokasi.
__ADS_1
Bang Ricky hanya meliriknya saja namun kemudian. "Selamat siang.. Om Panji........"
-_-_-_-_-
Nindy menarik lengan Bang Ricky. Ia sangat takut masalah Bang Hara akan melukai suaminya.
"Apa lagi dek, minggir dulu..!!" Bang Ricky menyingkirkan Nindy yang berdiri menutupi pintu ruang tamu.
"Jangan temui Om Panji. Om Panji itu galak Bang"
"Nggak apa-apa. Abang harus bicara sama Om Panji soal kehamilan Tisha" kata Bang Ricky.
"Nindy ikut..!!"
"Kamu di rumah saja, ini urusan laki-laki" tolak Bang Ricky karena paham apa yang akan terjadi nanti saat mereka semua bertemu.
Nindy pun tidak bisa berkata apapun karena Bang Ricky sudah menatapnya dengan tajam dan disadari atau tidak, nyalinya ciut juga jika suaminya sudah marah.
"Abang hanya sebentar. Disana tidak ada perempuan, jadi kamu tidak perlu kesana."
...
Mata Om Panji menyisir rata penampilan Bang Hara mulai ujung rambut hingga ujung kaki.
"Kamu apakan putri saya??" Tanya Om Panji penuh selidik.
"Saya, tidak sengaja menghamili putri Komandan" jawab Bang Hara tegas namun sedikit lirih.
"Tidak sengaja kamu bilang??? Apa nafsu b***hi bisa dikatakan tidak sengaja???" Suara Om Panji menggelegar mengisi ruangan.
Tante Nisa sudah menangis hampir pingsan mendengarnya. "Paaa.. suruh Revan cepat kembali bawa Tisha."
Om Panji pusing tujuh keliling. Ingin sekali menghajar Bang Hara tapi ia berkaca pada dirinya. "Apa ini karmaku ma. Aku banyak menyakiti hati wanita dan sekarang putriku mendapat akibat dari perbuatanku. Suami Reiya selingkuh dan Tisha hamil" nafas Om Panji terasa tercekat. "Aku tidak becus jadi orang tua Ma" Om Panji terduduk lemas.
Om Panji menekan nomer Bang Revan agar segera membawa Tisha kembali.
Beberapa kali menghubungi tapi tak ada jawaban dari putra pertamanya.
.
.
.
__ADS_1
.