
Yani sangat marah mendengar ucapan Bang Ricky. Seringai Bang Ricky begitu tajam menusuk.
"Kamu.. laki-laki kurang ajar yang pernah aku temui" kata Yani.
"Dan kamu wanita paling tidak tau malu yang pernah saya temui..!!!" Imbuh Bang Ricky.
Yani sangat marah sampai memporak porandakan barang di atas meja Bang Ricky hingga berhamburan. Sebuah vas besar sampai melayang nyaris menghantam perut Nindy namun Bang Ricky dapat menangkis nya. Yani keluar tanpa pamit dari ruang kerja Bang Ricky.
Sesaat setelah Yani pergi, Nindy menangis ketakutan.. tangannya gemetar. "A_pa Abang membuat Bang Irwanto di pecat"
"Iya lah. Masa ada orang yang mencelakai istri Abang.. Abang mau diam saja" jawab Bang Ricky ringan.
"Tapi Bang Irwanto sangat berbahaya Bang" kata Nindy.
"Sebenarnya yang paling bermasalah itu istrinya, bukan Irwanto. Suami kalau sudah sayang.. apapun akan di lakukan meskipun itu membahayakan nyawanya sendiri." Jawab Bang Ricky.
Nindy terdiam, matanya sekilas menatap wajah Bang Ricky namun kemudian ia menepisnya.
Bang Ricky mend***h gemas. "Jangan sampai kamu bilang Abang nggak sayang..!! Jauhkan pikiran aneh itu dari pikiranmu..!!!!"
"Nyatanya memang Abang nggak pernah bilang sayang dan cinta sama Nindy" ucap Nindy merendahkan nada suaranya.
"Luar biasa bumil, kau tau.. sejak kamu sering menagih kata-kata itu. Hanya kata itu saja yang paling horror dan buat Abang merasa jadi kriminal."
//
Bang Ganesha begitu cemas karena keadaan Nava tak kunjung membaik. Suhu tubuhnya semakin meninggi. Kata maaf tak lepas dari bibirnya yang pucat.
"Mbak Nia.. Nava minta maaf..!!" Kata itu terus terucap dari bibir Nava.
Saking cemasnya Bang Ganesha sampai menghubungi Bang Brigas.
"Keadaan seperti ini tidak bisa di hindari. Cepat atau lambat akan terjadi. Hanya saja kita tidak pernah tau kalau reaksi Nava akan seperti ini. Kamu memang secara sadar menikahi Nava, ada rasa bersalah dalam hatimu.. tapi jelas Nava sangat tertekan. Dia wanita, pasti memahami perasaan wanita."
"Apakah dokter bisa membantu Bang? Nava sudah minum obat tapi demamnya malah semakin tinggi" Bang Ganesha semakin khawatir dengan keadaan Nava.
__ADS_1
"Lebih baik kau pertemukan kembali Nava dan Nia agar mereka bisa bicara dari hati ke hati tapi kamu tetap mengawasi mereka berdua..!!" Saran Bang Brigas. "Setidaknya kamu paham sifat mereka. Nia yang kamu kenal selama tujuh tahun dan Nava yang baru kamu kenal tapi setiap harinya kamu bersamanya sampai dia mengandung calon bayimu..!! Tentunya sudah ada ikatan batin tersendiri antara kamu dan Nava."
...
Sore hari Bang Setha baru saja pulang bersama Nia. Bang Ganesha yang sengaja menunggu segera menemui keduanya. "Maaf.. saya mengganggu..!!"
"Nggak kok Bang" jawab Nia.
"Ada apa?" Tanya Bang Setha.
"Saya mau bicara dengan Nia. Hmm.. sebelumnya saya mohon maaf sama kamu Nia. Saat ini Nava............"
~
"Nava.. saya tidak munafik.. hatiku memang sangat sakit, tapi inilah yang harus kita jalani. Aku.. sudah rela dan ikhlas Abang menikahi mu. Biar waktu akan menghapus semua kenangan. Bahagia lah kamu sama Bang Ganesha. Abang orang yang baik dan tidak akan menyakitimu..!!" Kata Nia.
"Maafin Nava mbak, semua ini karena Nava..!!"
Nia pun memeluk Nava sebagai tanda keikhlasan nya. Aku bangga karena Abang mengungkapkan semua ini sekarang. Aku tak sanggup membayangkan kalau kita berada dalam 'satu atap'." Jawab Nia.
Nia pun tersenyum. "Seperti itu takdirmu dengan Bang Ganesha.. maka seperti inilah takdirku bersama Bang Setha. Aku akan menikah dengan Bang Setha." Ada tangis di balik senyum Nia.
Keduanya saling mengeratkan pelukan dan menumpahkan tangisnya.
"Kita pasti akan bahagia..!! Tuhan pasti tau segala yang terbaik untuk kita" kata Nia.
Tangis Nava masih tersedia hingga istri Bang Ganesha lemas dalam dekapan Nia.
//
"Apa kamu masih marah sama Abang?" Tanya Bang Hara. Ia sudah membawa Tisha ke rumah dinasnya.
"Tisha nggak marah sama Abang. Tisha hanya kecewa, kenapa Abang melakukan semua ini sama Tisha???"
Bang Hara meraih jemari Tisha kemudian menciumnya. "Abang minta maaf, Abang janji akan mengubah sikap. Abang janji akan berusaha menjadi suami dan ayah yang baik untuk anak kita..!!"
__ADS_1
Mau tak mau Tisha luluh juga dengan sikap Bang Hara, pria dingin dan sangat menyebalkan itu ternyata bisa selembut ini dengannya.
"Bang.. Tisha pengen es makan gudeg" pinta Tisha.
"Gudeg dek?? Ini di Kalimantan. Abang mau cari gudeg dimana?"
Mendengar jawaban Tisha, raut wajah Tisha seketika mendung.
"Yank.. jangan marah donk. Iyaaa.. ini Abang berangkat cari ya..!!" Kata Bang Hara kemudian menyambar jaketnya.
:
"Iya dek.. ini Abang juga mau berangkat..!! Kunci motornya nggak ada" Bang Ricky kelabakan dan panik mencari kunci motornya yang tak tau tercecer dimana.
Suara keributan itu akhirnya tertangkap oleh telinga Bang Hara. "Bang..!!" Sapa Bang Hara.
"Piye Har??" Tanya Bang Ricky masih mengacak-ngacak lemari hiasnya.
"Ayo kalau mau keluar sama saya saja. Saya juga mau cari pesanan Tisha"
"Waaahh.. ngidam juga ternyata." Kata Bang Ricky mengulas senyumnya.
"Iya, ini Tisha minta Gudeg. Saya nggak tau cari di mana." keluh Bang Hara.
"Abang tau tempatnya, tapi Abang nggak tau tempatnya penjual ayam buluh. Tak tahulah buluh domba kah buluh kaki yang diincar Nindy" gerutu Bang Ricky.
"Saya tau Bang.. Ayo saya antar..!!"
"Ya sudah, lebih cepat lebih baik. Kamu belum rasakan ngambeknya bumil. Auranya lebih menakutkan daripada teguran panglima" kata Bang Ricky.
.
.
.
__ADS_1
.