
"Iva, Abang minta maaf."
"Iya Bang" jawab Iva sembari berlalu dan Bang Ricky meraih tangannya.
"Abang akan berusaha memperbaiki sikap, juga akan berusaha menjadi suami dan ayah yang baik untuk kamu dan Isy." Janji Bang Ricky.
"Apakah terlalu indah sosok Nindy hingga Abang tidak bisa melupakannya?"
"Abang tidak akan mungkin melupakan dia. Nindy mengandung anak Abang hingga kini Abang tak tau dia ada di mana. Nindy adalah ibu dari anak Abang"
Iva menunduk dan terdiam tak berani lagi mengatakan apapun soal Nindy di hadapan Bang Ricky.
Bang Ricky paham perasaan Iva, ia pun mengecup keningnya. "Tidak boleh bicara begitu lagi. Abang sudah janji akan berusaha mencintaimu. Kamu dan Nindy sama-sama istri Abang. Abang sayang kalian semua" bujuk Bang Ricky kemudian memeluk Iva. Pelukan pertama sejak dirinya menikahi Iva.
'Tuhan.. tolong maafkan aku yang tidak bisa mencintai Iva seperti aku menyayangi Nindy. Hatiku hanya terpaut untuk istriku Nindy. Tuhan.. jika Engkau berkenan, tak lelahnya hambaMu ini memohon. Pertemukan aku dengan istriku Nindy, seperti apapun dan sesakit apapun keadaannya.. aku akan tetap mencintainya, tak akan surut rasa sayangku untuk ibu dari anakku. Aku yang tidak sempurna akan menerima dengan ikhlas wanita pertama yang Kau berikan untukku.'
***
Bang Hara mencoba mengajak bicara Bang Ricky namun seperti biasanya, Bang Ricky beranjak dan tak ingin bertemu wajah dengan dirinya.
"Sampai kapan sikap Abang terus dingin seperti ini. Saya akui, saya memang salah Bang."
"Rasa sakit di hati Abang tidak akan pernah hilang Hara. Abang kehilangan wanita yang sangat Abang sayangi." Jawab Bang Ricky.
"Jika nyawa harus berganti nyawa, silakan Abang ambil nyawa saya. Saya juga tersiksa bertahun-tahun kejadian ini sungguh menekan batin saya Bang"
"Saya tidak sepicik itu Hara, istrimu sedang hamil muda. Jika saya mampu untuk mengambil nyawamu.. maka akan saya lakukan. Tapi saya tau.. anak istrimu sangat membutuhkan mu. Apakah ego saya bisa menyelesaikan semua masalah? Ataukah Nindy bisa kembali?" Ucap tegas Bang Ricky. "Saya menikah dengan Iva juga bukan karena saya mencintai dia. Saya hanya teringat Nindy. Saya hanya berharap jika sujud saya di dengar Yang Kuasa, semoga ada seseorang yang bersedia menolongnya di luar sana"
Bang Hara duduk lemas. Sungguh hingga saat ini hatinya masih begitu tertekan. "Saya pun selalu berharap ada keajaiban Tuhan Bang"
...
"Kenapa Isy terus rewel?" Tegur Bang Ricky.
__ADS_1
"Iva nggak tau Bang."
Bang Ricky melihat raut wajah Iva nampak lesu, mungkin karena perkara semalam membuat istrinya itu sangat sedih. "Cepat ganti pakaian.. kita jalan-jalan. Kebutuhan Isy juga sudah habis juga" ajak Bang Ricky kemudian mengambil Baby Isy dari gendongan mamanya.
"Iva malas Bang" jawab Iva.
"Sekali-kali kita ajak Isy menghirup udara segar" alasan Bang Ricky. Ia mendekatkan bibirnya untuk mengecup kening Iva. "Cepat ganti pakaian..!!"
"Abang nggak capek?" Tanya Iva.
"Nggak ada capek untuk anak dan istri" jawab Bang Ricky menenangkan hati Iva.
...
Bang Ricky lebih aktif bertanya tentang vitamin untuk pelancar ASI sebab ASI Iva tidak begitu banyak dan hal itu membuat Isy sangat rewel.
"Baiklah saya ambil yang minidos nya warna merah." Kata Bang Ricky pada pramuniaga.
"Beli vitamin biar ASI mu lancar. Kasihan Isy banyak nangis. Mungkin dia lapar.. atau mamanya kurang bahagia." Ucap jujur Bang Ricky.
Iva menunduk takut mendengarnya. "Iva bahagia Bang. Bisa menjadi istri Abang saja sudah sangat cukup. Iva tidak ingin yang lain lagi" jawab Iva.
Memang benar selama ini Iva tidak pernah banyak menuntut, tak pernah protes tentang hal apapun padanya. Sifat Nindy dan Iva memang sesuai dengan umur, pemikiran mereka pun sama kalem dan polos. Iva yang sangat hati-hati dan Nindy yang sangat ceroboh. Iva yang teliti dalam diam namun ada Nindy yang sok pintar dengan pemikiran lugunya.
"Katakan saja jika memang ada perlakuan Abang yang tidak pas di hatimu. Kamu istri Abang, punya hak yang sama dengan Nindy" tangan Bang Ricky mengacak rambut Iva tanda perhatiannya pada sang istri.
Mata Bang Ricky terpejam sejenak. Ia baru menyadari di setiap harinya selalu menyebut nama Nindy dan pastinya hal itu sangat menyakitkan bagi Iva. "Kita lihat suasana malam yuk..!!" Ajak Bang Ricky menyenangkan Iva.
...
Malam usai pulang dari pasar malam, Iva melihat Bang Ricky menurunkan foto Nindy dan menyimpannya.
"Abang.. Nindy juga istri Abang. Pasang saja..!! Iva nggak masalah" kata Iva.
__ADS_1
"Nggak apa-apa dek, mungkin memang sudah waktunya Abang mengubur dalam semua kenangan bersama Nindy dan fokus hidup sama kamu dan Isy." Jawab Bang Ricky dengan mata berkaca-kaca dan senyum yang menyakitkan. Sesaat kemudian ia mengembangkan senyum tulus. "Mau mengulang yang semalam?" Bang Ricky mengulurkan tangannya mengajak Iva ke dalam kamar.
:
Bang Ricky menghantam sisi kosong di samping bantal Iva. Sungguh ia begitu frustasi tak bisa melaksanakan tugas sebagai seorang suami. Malu, kecewa pada diri sendiri dan merasa sebagai pria tak berguna.
"Kalau Abang nggak siap nggak apa-apa Bang, lain kali saja" kata Iva yang selalu sabar membuat hati Bang Ricky ikut sedih.
"Maaf ya Va..!!"
"Nggak apa-apa Bang"
Bang Ricky melirik tubuhnya yang sama sekali tidak bisa berfungsi selayaknya seorang pria.
***
"Malu sekali aku pot. Kira-kira aku kenapa?"
"Masalahnya bukan di hormonmu pot. Kamu juga bilang tubuhmu tetap aktif di jam-jam tertentu dan bereaksi jika melihat ada sesuatu yang mengusik hatimu, tapi kamu tidak bisa meng****i istrimu kalau tidak membayangkan Nindy. Berarti mentalmu tidak siap dengan pernikahan mu Ric. Psikismu kena." Kata Bang Adnan selaku dokter di rumah sakit tentara.
"Jadi aku harus bagaimana pot?"
"Kuncinya ada pada dirimu sendiri..!!" Kata dokter.
"Aku takut mencoba lagi. Iva pasti kecewa sekali sama aku"
.
.
.
.
__ADS_1