Perisai Hati.

Perisai Hati.
39. Menyadari kerinduan.


__ADS_3

Bang Ricky benar-benar mengajak Nindy menginap di hotel. Nindy terkesima melihat indahnya pemandangan dari atas pegunungan. Sesaat tadi dirinya meminta naik ke penginapan di atas puncak pegunungan.


"Kamu suka?" Tanya Bang Ricky sembari memeluk Nindy dari belakang.


"Suka" Nindy menurunkan tangan Bang Ricky.


"Kenapa? Katanya kangen?" Bang Ricky yang sudah gemas menciumi sela leher Nindy yang masih sangat wangi meskipun hari sudah malam.


"Kangen, tapi Abang nggak sayang sama Nindy."


"Ya Allah dek, di saat romantis begini masih sempat-sempatnya kamu bilang begitu. Abang ini sudah seperti punya hutang milyaran gara-gara kata sepele macam itu" kata Bang Ricky.


"Apa Bang? Nindy istri Abang, sudah seharusnya Abang bilang kata cinta sama Nindy. Apa memang Abang punya niat terselubung di belakang Nindy??? Riset mengatakan kalau laki-laki yang pura-pura baik pasti pasti menyembunyikan perselingkuhan nya" ucap Nindy


"Astagfirullah hal adzim.. kamu dapat riset darimana?? Kalau laki-laki sudah benar cinta.. jangankan sekedar kata.. Badannya remuk sekalipun dia rela" jawab Bang Ricky sudah tak sabar lagi. Dengan mode sedikit memaksa Bang Ricky kembali mengecup sela leher Nindy.


"Iiihh.. kenapa sih Abang maksa Nindy????" Tolak Nindy.


Bang Ricky semakin mengeratkan dekapannya. "Kamu tau nggak kalau menolak hasrat suami itu dosa besar. Apa kamu pengen di kutuk malaikat sampai pagi?" Tangan kanan Bang Ricky menyelip ke arah bawah sedangkan tangan kiri Bang Ricky meremas 'sponge' lembut yang begitu ia rindukan. "Jadiii.. mau marah apa mau di sayang?"


"Di sayang." Jawab Nindy lirih.


Bang Ricky tersenyum mendengarnya. "Naahh.. begitu khan enak" tanpa banyak bicara, Bang Ricky menggendong Nindy sampai ke ranjang lalu merebahkannya perlahan.


//


Bang Ganesha melihat Nava hanya berputar putar saja di dalam kamar dan terburu-buru duduk berusaha tenang saat dirinya masuk ke dalam kamar.


"Kamu belum mandi?" Tegur Bang Ganesha yang kemudian melihat banyaknya anggota yang keseluruhannya adalah pria dan ia paham mengapa sepanjang hari ini Nava hanya mengurung dirinya di dalam kamar. "Ya sudah ayo Abang antar..!! Abang juga mau mandi."


~


Atas perintah Dantim, tidak ada satu orang anggota pun yang berdiri di dekat kamar mandi 'umum' barak. Kamar mandi yang lumayan bersih untuk di pakai bersama.


blaaamm..

__ADS_1


Lampu padam dan Nava menahan suara teriaknya. Suara guyuran air yang tadinya sederas air terjun kini hanya bunyi gemerik saja.


"Dek..!!"


"I_ya Bang"


"Kamu kenapa?" Tanya Bang Ganesha.


"Ng_gak apa-apa Bang" jawab Nava lirih.


Malam yang gelap membuatnya hanya meraba-raba sekitar untuk mencari peralatan mandinya.


Peka dengan keadaan, Bang Ganesha membuka perlahan pintu kamar mandi tersebut. "Kamu takut ya?" Tanya Bang Ganesha lagi.


"Ng_gak" jawab Nava terbata memberanikan diri.


Akhirnya Bang Ganesha berhenti tepat di daun pintu dan segera menutupnya rapat. Remang cahaya bulan menyiratkan siluet bentuk tubuh indah Nava yang membuat denyut nadinya berdesir tak karuan.


"Mandi lah, Abang tunggu disini. Atau mau mandi sama Abang?" Bang Ganesha menawari Nava. Meskipun belum ada cinta di antara mereka tapi Bang Ganesha menyadari dirinya telah beristri dan sebagai seorang suami.. wajib memperlakukan wanitanya sebaik-baiknya sebagai seorang istri sebab apapun keadaannya, sekalipun dirinya tidak pernah melihat sang Papa Wira kasar terhadap Mama Nasha.


"Nava mandi sendiri." Jawab Nava masih gugup berhadapan dengan Bang Ganesha.


"Jangan takut.. Abang suamimu" bujuk Bang Ganesha kemudian akhirnya ikut membuka pakaiannya agar Nava tidak setakut ini padanya.


//


"Apa ini?? Kamu dapat darimana benda ini?????" Bang Hara menatap mata Tisha dengan tajam.


"Abang nih jangan t*l*l amat dah. Itu khan penyedap masakan" jawab Tisha.


"Kamu yang t*l*l.. kamu tau seberapa bahayanya benda ini??????" Gigi Bang Hara sampai mengerat dan menggeram saking jengkelnya bisa kecolongan.


"Memangnya kenapa sih? Itu barang mahal, Tisha dapat dari Om Odi" jawab Tisha dengan polosnya kemudian berniat menyambar bungkusan kecil tersebut.


"Dimana yang namanya Odi?? Biar Abang patahkan batang lehernya..!!"

__ADS_1


Tisha hanya menggerutu tapi tiba-tiba badannya sangat sakit karena hari ini belum menelan 'penyedap' itu sama sekali.


"Kamu kenapa?" Tanya ketus Bang Hara sembari menghubungi Bang Ricky yang sama sekali tidak bisa di hubungi.


"Tisha kedinginan Bang, badan Tisha sakit..!!" Kata Tisha.


"Gaaa.. Egaaa..!!!!" Bang Hara berteriak memanggil ajudan Bang Ricky.


"Siaaap Bang"


"Siapkan mobil. Saya mau bawa Tisha jauh dari sini."


"Saya perlu ikut Bang??" Tanya Om Ega cemas.


"Nggak, saya saja yang ke puncak sama Tisha biar tidak ada orang yang tau. Kamu handle keadaan disini..!!!" Perintah tegas Bang Hara.


"Siap"


//


Bang Ricky melayang merasakan pelepasan yang selama ini ia tahan. Kerinduan yang membuatnya kacau balau kini telah terobati.


"Bang, kok diam?" Nindy menggoyang bahu Bang Ricky yang belum beranjak dari tubuhnya.


"Apanya yang diam?" Jawab Bang Ricky lirih.


"Lagi..!!!!"


Bang Ricky tersenyum geli mendengarnya. "Sabar sebentar.. Abang nafas dulu"


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2