Perisai Hati.

Perisai Hati.
63. Masih panas.


__ADS_3

Kedua pria itu masih memegang botol minuman berukuran kecil. Di antara mereka masih belum ada yang berani menenggak minuman haram tersebut. Kini usia mereka sudah lebih banyak digunakan untuk berpikir rasional daripada menuruti ego semata.


"Apa kita ganti es cendol saja?" Tanya Bang Yosh.


"Abang nggak suka es cendol" jawab Bang Ricky.


"Abang masih kuat minum?" Tanya Bang Yosh lagi.


"Kuat saja. Dulu Abang juaranya mabuk" ucapnya pada suatu hal yang sama sekali tidak patut untuk di banggakan.


"Sepertinya kita bisa duel Bang. Saya juga kuat mabuk" senyum Bang Yosh mengurai ketegangan di antara mereka.


Tak lama seorang anggota berlari ke arah Bang Ricky dan Bang Yosh.


"Ijin Komandan."


"Ada apa?" Kening Bang Ricky berkerut mendengarnya.


"Ibu Nindy tidak ada di tempat dan Ibu Iva panik mencari Bu Nindy"


"Astagfirullah.. apa saja kerja kalian???" Tegur Bang Ricky.


"Siap salah Dan. Tadi Ibu Iva pergi ke arah dapur rumah sakit untuk minta air panas. Saya pun ijin ke toilet dan Prada Omar pergi merokok." Lapor Pratu Vico.


"Teledor kalian semua. B***h..!!" Amarah Bang Ricky memuncak sampai memarahi anggota nya habis-habisan.


:


"Maaf Bang, Iva sungguh nggak tau kalau Nindy akan keluar diam-diam" Iva sangat takut kalau Bang Ricky akan marah padanya padahal ia mengatakan hal yang sebenarnya.


"Iyaa.. Abang tau. Sekarang kembali temani Isy tidur, kasihan tidurnya terganggu. Kamu juga istirahat, jangan ikut mikir..!!" Bujuk Bang Ricky kemudian mengecup kening Iva sekedar menenangkan istrinya.


"Doy.. jaga pintu luar sama anggotamu. Jangan sampai Iva ikut hilang..!!" Pesan Bang Yosh kemudian mengikuti langkah Bang Ricky.


"Iyaaa.. Iva aman sama aku" jawab Bang Ludoyo.


...

__ADS_1


Kita belum mencari di atas gedung rumah sakit" kata Bang Ricky. Satu jam pencarian, Nindy tak kunjung ditemukan hingga mata Bang Ricky


Apa ada kemungkinan Nindy disana?" Tanya Bang Yosh ragu.


Tanpa jawaban kedua pria itu berlari naik ke atas gedung.


:


"Nindyyyy..." Bang Ricky dan Bang Yosh panik karena Nindy berada tepat di tepi gedung dan hendak melompat.


"Sayang.. tolong jangan nekat..!!" Bujuk Bang Ricky. "Semua masalah pasti ada jalan keluarnya."


"Nindy nggak mau anak ini" kata Nindy lirih.


Bang Yosh merangkak mendekati kaki Nindy. "Abang tau Abang salah. Tapi tolong pertahankan anak ini dek. Abang janji tidak akan mengganggu kalian lagi.. Abang sangat sayang anak ini. Marahlah sama Abang.. jangan sakiti anak ini."


Bang Ricky mencoba berjalan pelan. Ia mengulurkan tangannya. "Sayang.. sini sama Abang. Dedek bayi jangan di apa-apakan ya..!!" Bujuk Bang Ricky.


Bang Yosh terus menangis histeris dan itu semakin membuat Nindy semakin frustrasi dengan dirinya.


"Redakan emosimu Yosh. Abang janji akan membujuk Nindy untuk menjaga anakmu.. juga akan menyayangi anakmu" tegur Bang Ricky.


"Deek..!!" Bang Ricky menarik Nindy ke dalam pelukannya.


"Nindyyyy"


"Ayo cepat kita bawa ke IGD" ajak Bang Ricky kemudian mengangkat tubuh Nindy.


:


Bang Ricky masih memperhatikan telapak tangannya yang terkena noda darah. Hatinya ikut hancur sehancur-hancurnya hati Bang Yosh.


"Nindy keguguran" kata Bang Adnan di samping dokter kandungan yang menangani Nindy.


"Innalilahi.."


"Nggak Bang.. anakku Bang..!!!!" Bang Yosh sangat kacau sampai akhirnya Bang Ricky memeluknya erat.

__ADS_1


Bang Ricky tak bisa berucap apapun, jantungnya berpacu naik turun.


"Hanya dia harapanku Bang" teriak Bang Yosh meronta-ronta sampai akhirnya merosot lemas.


***


Iva melihat Nindy sudah kembali ke ranjangnya. Ia mengusap tangan Nindy dalam tangisnya yang terurai.


"Cantik sekali gadisnya Abang. Pantas Abang sangat mencintainya" kata Iva.


"Cinta tidak butuh alasan Va. Seperti bagaimana datangnya. Namun cinta juga tidak bisa di paksa akan berlabuh pada hati siapa" ucap Bang Ricky jujur untuk mengutarakan keadaan mereka saat ini.


"Iva mengerti Bang, Iva tidak ingin menjadi penengah di antara kalian berdua." Jawab Iva.


"Setelah Nindy sembuh.. baru kita bicarakan lagi. Abang tidak ingin masalah kita semakin membuat keadaan rumah tangga ini hancur berantakan." Kata Bang Ricky terus membelai rambut Nindy. Matanya sudah memerah. Sudah pasti dirinya lelah fisik dan mental.


"Abang istirahat saja, biar Iva jaga Nindy..!!"


"Abang belum tenang dan nggak mau Nindy kecolongan lagi dari sisi Abang" jawab Bang Ricky.


Iva mengangguk mengerti perasaan Bang Ricky.


Bang Ricky melihat jam tangannya. "Biar Ludoyo antar kamu beli sarapan ya..!! Kamu harus makan"


Iva kembali mengangguk. "Nanti Iva bawakan Abang sarapan" kata Iva.


"Kamu saja. Abang nggak lapar" tolak Bang Ricky.


"Kalau Abang sakit, siapa yang akan jaga Nindy?"


Bang Ricky terdiam sejenak. "Ya sudah, bawakan Abang sekalian."


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2