Perisai Hati.

Perisai Hati.
42. Cerita kita.


__ADS_3

Endingnya nggak seru. Yaa.. Hari Nara juga nggak seru ya bertemu pembaca yang kurang menghargai hasil pekerjaan orang, seburuk apapun itu.


Up menyesuaikan respon pembaca. Berkurang respon pembaca \= berkurangnya respon Nara๐Ÿ˜. Terima kasih banyak untuk yang selalu menyempatkan diri berkomentar. Yang punya penyakit hati dan nyinyir, harap skip ya..!!


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


"Astagfirullah.." Bang Hara mengacak-acak rambutnya saat menyadari kelakuannya yang tidak bisa di toleransi. Secepatnya ia beralih dan menutup paha Tisha dan menyelimuti dengan jaket sedangkan dirinya menyambar bajunya yang setengah basah untuk menutup diri. Di lihatnya Tisha begitu syok dan ketakutan. Tapi saat mengintip ke bagian bawah tubuhnya, ia pun dua kali lipat tak kalah syok dari Tisha. 'Aku tadi.. menyentuh Tisha atau tidak?.'


Terdengar rintih kecil dari bibir Tisha. Bang Hara pun semakin cemas.


"Dek.."


"Jangan bicara..!!!!!!!"


Mulut Bang Hara rasanya terkunci, tak berani lagi berdebat dengan wanita di sampingnya.


//


"Waaahh.. sepertinya enak sekali tidurnya?" Sapa Bang Ricky melihat Nindy menggeliat cantik. Bibir pink, badan dan dada sedikit lebih berisi dan perut mulai membesar membuat istri Lettu Ricky semakin terlihat aura keibuan dan lebih dewasa.


"Jam berapa Bang?" Tanya Nindy.


"Jam lima kurang sepuluh menit, sudah waktunya sholat subuh. Cepat mandi..!! Abang sudah siapkan air hangat di bathtub..!!" Kata Bang Ricky.


Nindy kembali menarik selimut dan enggan untuk beranjak mandi.


"Sayang.. mandilah dulu..!! Nanti kehabisan waktu subuh" bujuk Bang Ricky.


Nindy tertegun sejenak karena untuk pertama kalinya ia mendengar panggilan sayang dari Bang Ricky. "Abang barusan panggil Nindy apa??" Tanya Nindy penasaran.


"Kamu dengar Abang panggil apa?" Bang Ricky balik bertanya.


"Sayang" jawab Nindy dengan semangat sampai matanya terbuka lebar.


"Oohh.."


"Oohh apa Bang?? Nindy dengar Abang panggil sayang" Nindy masih tidak terima Bang Ricky hanya menanggapi dengan datar.


Bang Ricky sibuk menjawab pesan singkat di ponselnya sampai Nindy bangkit dan menggoyang lengannya.

__ADS_1


"Baaaaang.. ayo bilang lagi..!!" Rengek Nindy.


"Sabaarr..!!"


"Abaaaaaanngg..!!!" Nindy kembali menggoyang lengan Bang Ricky hingga ponselnya terjatuh.


"Astagfirullah.. Nindyyy.. sabaaar..!!!!!!" Nada suara Bang Ricky sedikit meninggi karena Om Ega sudah melaporkan perkembangan kasus Om Odi. Bang Ricky kembali memungut ponselnya yang terjatuh.


Nindy tersentak, hatinya begitu sakit mendengar suara yang ia anggap sebagai bentakan. Ia pun secepatnya masuk ke dalam kamar mandi.


"Deekk.. pelan-pelan..!!!!!!!" Ingin sekali Bang Ricky mengurangi intonasi suaranya namun suara itu masih saja terdengar sangat kencang. "Ya Allah.. hhhhhh" Bang Ricky sangat jengkel tapi dirinya masih ingat untuk menahan laju amarah nya.


~


Bang Ricky membuka pintu kamar mandi perlahan, di lihatnya Nindy sedang duduk meringkuk di bathtub berisi air hangat. Air matanya sudah menganak sungai.


"Jangan terlalu lama berendam..!! Ayo bilas dulu..!!" Dengan sabar Bang Ricky membujuk Nindy, ia sangat mencemaskan bayi dalam kandungan Nindy. Nindy memalingkan wajah dan menolaknya. "Abang tidak bermaksud membentak mu dek, tapi kamu memang salah. Abang lagi kerja, sabarlah sebentar..!!"


Nindy tak berucap apapun. Hanya tangisnya mengungkap segala kecewa dalam hati. Mau tidak mau Bang Ricky mengalah. "Sayangku.. sudah yuk..!!"


Suara itu terdengar sangat jelas di telinga Nindy. "Kenapa sulit sekali hanya untuk mengatakan kata-kata yang ringan"


~


Bang Ricky dan Nindy sudah selesai sholat subuh.


"Bang, kapan Nindy di sayang? Kapan Abang bilang I love you?" Tagih Nindy saat Bang Ricky masih kusyuk membaca do'a terakhirnya. "Baaang????"


"Aamiin.. Aamiin Alhamdulillahi rabbil Al-Amin" Bang Ricky mengusap wajahnya kemudian baru menatap wajah Nindy. Tatapan mata itu begitu tajam membuat Nindy tertunduk. "Kalau kamu lihat Abang sedang 'mengadu' pada Allah, tolong kamu tidak melakukan hal seperti tadi.. itu namanya menyela dan hal tersebut tidak sopan" sebagai seorang suami sudah barang tentu Bang Ricky harus mendidik Nindy sebaik, sekuat dan semampu dirinya.


Mendengar teguran Bang Ricky, hati Nindy merasa ciut. Mengetahui sang istri mulai takut, ia pun segera memeluk Nindy.


"Jangan di ulangi apapun yang berhubungan dengan Tuhan. Abang nggak suka, kamu paham??" Tak lupa satu kecupan mendarat di kening Nindy. "Sebegitu inginnya kah kamu mendengar kata-kata tidak bermakna itu?"


"Apa salah kalau istri Abang pengen dengar? Apa harus wanita lain yang mendengarnya?" Nindy pun berdiri dan meninggalkan Bang Ricky.


...


Bang Hara dan Tisha sudah kembali ke camp. Bang Ricky dan Nindy pun sudah kembali. Secepatnya Bang Ricky bersama Bang Hara menyelesaikan masalah yang menjadi target utama mereka.

__ADS_1


:


Berkali-kali Bang Ricky menampari wajah Om Odi. Betapa terkejutnya jika target yang di tunjukan Sertu Irwanto selaku istri seniornya adalah istri komandan.


"Bicaralah secara kooperatif dengan kami. Dimana saja jaringan peredaran yang kamu jalani..!!" Pinta Bang Hara.


Cukup sulit menggali informasi dari Serda Odi.


"Kalau kamu tidak mau menjawab ya tidak apa-apa. Saya akan mencari keluarga mu dan saya yang akan selesaikan semuanya..!!" Bang Ricky menjawab dengan cara yang sangat halus dan penuh ancaman.


"Ijin Dan.. jangan apa-apakan keluarga saya..!! Saya janji akan kooperatif.." kata Om Odi.


"Katakan.. dimana saja kamu sebar peredaran tersebut..!!"


...


Nindy cemas sekali karena badan Tisha demam, ia pun segera sigap merawat sahabat kecilnya. Sejak kembali ke asrama, Tisha sudah lesu dan tidak enak badan.


Tak lama Bang Hara membuka kamar Tisha.


"Bang Hara??? Kenapa masuk kamar perempuan??????" Pekikan Nindy membuat Bang Ricky ikut terkejut dan beralih berjalan ke kamar Tisha.


"Ma_af" Bang Hara sampai melupakan perkara sopan santun


"Ada apa dek? Suaramu kencang sekali" Tegur Bang Ricky.


"Ini Bang.. Bang Hara tiba-tiba masuk ke kamar Tisha.


"Keluar kamu Har..!!!!" Perintah Bang Ricky, matanya tajam menatap Bang Hara.


"Siaap..!!" Bang Hara mengikuti langkah seniornya yang sudah terlihat berang.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2