
"Bagaimana hasilnya Bang???"
"Iya Rick.. hamil." Jawab dokter kandungan.
"Alhamdulillah.. betapa bahagianya hati Bang Ricky saat ini sampai tangis haru menghias wajahnya. "Mudah-mudahan dapat anak gadis ya sayang" Bang Ricky mengecup kening Nindy.
"Abang sudah dapat dari Iva. Apa masih mau lagi dari Nindy. Nanti sama Iva.. Abang minta anak laki-laki" wajah Nindy selalu terlihat sedih jika sudah menyangkut tentang rumah tangga mereka terutama Iva.
"Jangan mulai lagi..!! Kenapa kamu selalu mencari sakit hatimu sendiri. Kalau cemburu.. bilang cemburu..!!!!"
"Nindy nggak cemburu. Abang saja nggak cemburu Nindy bersama pria lain..!!" Jawab Nindy.
"Apa kamu bilang??? Nggak cemburu?????? Bagaimana Abang tidak cemburu??? Membayangkan kamu di peluk pria lain saja Abang tidak kuat..!!!!" Suara Bang Ricky sampai meninggi namun kemudian Bang Adnan menyenggol kakinya.
Bang Ricky meremas sisi ranjang dan mengatur nafasnya. "Sudahlah sayang. Anggap saja semua ini hanya mimpi. Mimpi buruk kita saja. Kita kubur kejadian ini dalam-dalam. Untuk selanjutnya.. kita jalani hidup seperti biasa dan jangan pernah menoleh lagi ke belakang..!!"
Tangis Nindy tidak dapat di bendung lagi.
"Tumpahkan rasa sakit di hatimu. Marahlah kalau memang ingin marah.. biar hatimu lega..!!"
"Nindy juga tidur dengan pria lain, tapi Nindy nggak bisa bohong. Nindy cemburu...Nindy cemburu......"
Bang Ricky segera memeluk Nindy. "Iyaaa.. Abang tau rasanya. Nanti setelah sampai di rumah.. kita bicarakan dengan Iva juga ya..!!"
Nindy mendongak menatap takut dalam ketidak pastian.
"Abang akan selesaikan semua. Pastinya yang terbaik untuk kamu, Yosh dan Iva"
Bang Adnan mengusap punggung sahabatnya. "Sabar ya pot..!!"
-_-_-_-
"Bolehkah Nindy dengar apa yang Abang bicarakan sama Iva?" Tanya Iva.
"Maaf sayang. Poligami punya batasan dan aturan. Mengecup mesra dan mengumbar sya***t saja tidak boleh di hadapan istri yang lainnya. Apalagi kamu ikut mendengarnya. Abang hanya minta.. percayalah sama Abang. Abang ingin menyudahi segala tangisan, air mata dan sakit dalam sakit hati kita" jawab Bang Ricky.
"Tapi bagaimana dengan Iva?"
"Hidup ini ada baik dan buruk, atas dan bawah, hitam dan putih.. juga duka dan suka. Itu hukum alam. Semua sudah suratan dan harus di jalani..!!" Bang Ricky membujuk Nindy. "Kamu tidur ya.. Abang hanya sebentar saja..!!"
~
Bang Ricky masuk ke kamar Iva dan saat itu Iva baru berganti pakaian.
"Abang.. tumben masuk ke kamar. Ada apa?" Tanya Iva.
"Abang mau bicara Va..!!"
__ADS_1
"Tentang hubungan kita?" Tebak Iva langsung pada pokok perkara.
"Iya. Nggak apa-apa khan?" Bang Ricky menatap lekat wajah Iva. Entah mengapa sedikit pun tak ada getar dalam dada saat berhadapan dengan Iva. Tapi malah Bang Ricky begitu mensyukuri hal itu.
"Lalu bagaimana Bang?"
"Dari posisi manapun.. Abang tetap salah Va. Tapi Abang tidak mampu dan tidak mungkin memiliki dua istri. Saat menikahimu.. Abang sudah jujur jika semua yang Abang lakukan hanya untuk menyelamatkan status anakmu"
Iva mengerti wajahnya memerah meremang, air matanya menggenang. "Iva paham maksud Abang"
"Abang akan tetap membiayai Isy.. kamu jangan cemas akan hal itu." Kata Bang Ricky. "Sebagai seorang laki-laki.. terutama seorang suami. Abang minta maaf tidak pernah memberimu kebahagiaan dan ketenangan batin dengan layak. Abang tau Abang salah Va."
"Bolehkah Iva meminta sesuatu sebelum kita mengakhiri semua?" Tanya Iva.
"Jika Abang mampu, pasti akan Abang kabulkan.."
"Tinggalkan anak untuk Iva. Nindy sedang masa pemulihan. Pasti akan lama memberi Abang anak lagi. Iva tidak ingin apapun. Hanya ingin anak" jawab Iva kemudian beralih berdiri di hadapan Bang Ricky. Dada Iva tepat di depan mata Bang Ricky.
Saat ini Iva masih menjadi istri Bang Ricky, tak mungkin dirinya menolak istri keduanya untuk bertingkah dan merayunya.
"Nggak apa-apa khan Bang?" Tanya Iva kemudian duduk di pangkuan Bang Ricky. Ia membuka tali piyamanya.
Bang Ricky memejamkan mata saat dada Iva menyentuh wajahnya.
Tepat saat itu, Nindy berjalan menuju dapur dan melihat Bang Ricky terlihat sangat 'menikmati' kebersamaan bercinta dengan Iva. Bahkan saat Iva mengecup bibir Bang Ricky. Nindy pun memilih kembali ke kamar dan menutup pintu lalu berbaring di ranjang menutup telinga dengan bantal dan memejamkan matanya.
Bang Ricky pun membuka matanya. "Sekarang kamu paham.. kalau kamu berniat melanjutkan hubungan ini, kamu akan sakit sendiri." Bang Ricky berdiri dan meninggalkan Iva di dalam kamar kemudian menuju kamar Nindy.
Iva mengingat sesuatu. Setidaknya lebih dari satu bulan yang lalu, ia pernah menemukan pakaian d*lam wanita dalam saku celana seragam Bang Ricky. Saat itu dirinya masih berpikir positif bahwa benda tersebut hanya tergulung oleh mesin cuci. Namun sekarang hati dan pikirannya berkata lain. 'Apa Bang Ricky dan Nindy pernah melakukannya di belakangku? Abang tidak pernah membuat jadwal untuk aku dan Nindy. Aku juga tidak pernah lihat Abang masuk kamar Nindy kecuali hari ini.'
~
"Nggak apa-apa" jawab Nindy terdengar sangat kesal.
"Nggak apa-apa kok cemberut. Habis lihat macam-macam yaaa?" Tebak Bang Ricky karena sesaat tadi telinganya seakan samar mendengar suara langkah kaki dari kamar Nindy.
"Nggak"
"Kalau Abang niat macam-macam. Pasti kamarnya Abang kunci rapat, nggak mungkin Abang mengumbar kemesraan" jawab Bang Ricky.
Seketika Nindy berbalik badan dan menatap kesal pada suaminya itu. "Tadi itu apa?????"
"Tadi yang mana?" Tanya Bang Ricky pura-pura tidak tau.
"Iva naik ke paha Abang" tanpa sadar Nindy mengungkapkan rasa cemburu khas wanita.
"Oohh.. ngintip ya. Kalau kesal balas donk..!!"
__ADS_1
"Abang jangan pura-pura ya. Iva tadi begini" Nindy duduk di antara kedua paha Bang Ricky yang mulai nakal.
Namun Nindy terpaku karena ia menduduki sesuatu yang mengganjal.
Bang Ricky yang tadinya hanya ingin menggoda Nindy malah jadi tergoda dengan tingkah sang istri. "Kenapa diam?"
"Hmmm.."
"Kalau Nindy mau. Boleh nggak boleh"
"Abang pasrah. Terserah Nyonya Ricky saja" jawab Bang Ricky.
***
Sabtu ini Bang Ricky mengasuh kedua bocah cilik di rumah. Sedangkan kedua istrinya sedang sibuk dengan kegiatan rumah.
"Tumben Bang, jam segini masih pakai sarung?" Sapa Bang Hara yang sedang menyapu halaman rumah.
"Ya nggak apa-apa. Salahnya dimana?" Jawab Bang Ricky santai.
Tak lama Nindy keluar membawa sapu untuk menyapu halaman.
"Jangan terlalu capek sayang. Nanti Abang saja yang sapu halaman" kata Bang Ricky.
"Nindy pengen gerak Bang."
Bang Ricky tak bisa menjawab apapun. Ia terus memandangi tubuh Nindy. Dua buah semangka yang dulu di tingkat rata-rata kini menjadi di atas rata-rata, begitu juga wadah botol kecap milik Nindy selalu membuat pikirannya semrawut begitu mengusik batinnya hingga tanpa sadar bagian lelakinya menegang.
Bang Hara menggeleng mengurai senyum melihat kelakuan seniornya. Sadar Bang Hara melihat bobroknya.. Bang Ricky pun tertawa sendiri menutup pahanya dengan bantal di kursi teras.
Tiba-tiba tangan Iva menyentuh bahu Bang Ricky "Bang, mau kopi?" Tanya Iva hingga suaminya itu kaget dan menjatuhkan bantal.
"Astagfirullah. Abang kaget Va."
Arah mata Iva tertuju pada satu titik apalagi Bang Ricky sampai gelagapan dan memungut bantal untuk menutup pahanya lagi.
"Nggak usah Va. Nanti saja" tolaknya. "Oiyaa.. Ganti pakaianmu Va. Banyak laki-laki seliweran. Nggak pantas" tegur Bang Ricky.
Iva pun tersenyum malu hingga pipinya memerah, menyangka Bang Ricky sedang berhasrat dengannya dan mulai cemburu karena saat ini dirinya sedang mengenakan pakaian kimono satin hampir sama seperti yang Nindy kenakan semalam.
.
.
.
.
__ADS_1