
Bang Ricky membantu Nindy untuk berjalan. Perut Nindy memang berukuran sewajarnya usia kehamilan namun kakinya terkadang bengkak dan punggungnya yang sering pegal membuat istrinya sering pegal dan sakit.
"Abang kembali kerja saja. Nindy bisa jalan sendiri."
"Bisa apanya? Kamu nggak usah memaksakan diri. Bawaan kehamilan memang beda-beda dek" kata Bang Ricky.
Nindy tersenyum melihat perhatian Bang Ricky. Baru beberapa langkah berjalan ia merasa kepalanya pening berputar-putar.
"Naah khan.. bisa dari mana?" Bang Ricky mengangkat Nindy dengan hati-hati dan membawanya ke mobil. "Hari ini bagaimana rasanya? Minta off kuliah saja ya, kamu sudah terlalu capek"
"Jangan Bang, sayang sekali kalau Nindy harus tertinggal satu mata kuliah" tolak Nindy.
"Abang ngerti, tapi kamu juga harus perhatikan kesehatanmu dan anak kita."
Nindy mengangguk. Ia pun bersandar lemas di dada Bang Ricky.
//
Bang Hara tersenyum lebar usai menyenangkan sang istri. Sejak menikah, rasa bahagia selalu menghampirinya. Tisha tidak separah yang ia kira hanya saja sifatnya tak berbeda jauh dari Nindy.
"Abang.. Tisha ada tugas untuk meneliti kesiapan aliran listrik di gardu terdekat." Tisha memecah kemesraan di antara dirinya dan Bang Hara.
"Nggak.. kamu nggak boleh kemana-mana. Kamu itu bawa dua badan.. Abang nggak mau ambil resiko apapun. Bahaya..!!!!"
"Tapi Bang......"
"Abang nggak mau bicarakan ini lagi..!!!!" Bang Hara menyambar pakaiannya lalu meninggalkan Tisha.
//
"Nggak sekalian kamu teliti listrik di mercusuar???? Siapa yang minta kamu berangkat?? Sini biar Abang tonjok giginya..!! Apa dia nggak lihat kamu lagi hamil besar?? Kenapa masih di kasih tugas lapangan???" Gerutu Bang Ricky.
"Ini penilaian Bang..!!"
"Abang nggak mau tau, awas saja kalau sampai kamu berangkat..!!!!!!" Ancam Bang Ricky.
"Tapi Nindy pengen tau rasanya cek arus listrik..!!" Kata Nindy.
"Mau tau rasanya??? Sini Abang beritahu caranya..!!" Tanpa bisa di tolak Bang Ricky mengangkat Nindy ke atas ranjang.
\=\=\=
Sore ini Nindy, Tisha, Nava dan Maurin sedang makan bersama di teras rumah Nindy. Para suami sedang sibuk dengan kegiatan hingga mereka berempat pun ikut menyibukkan diri.
__ADS_1
"Eehh.. kenapa nih tiba-tiba angin..!!" Nava menyingkirkan beberapa mangkok makanan agar tidak berhamburan terkena angin.
"Hati-hati Nava.. kamu sedang hamil..!!" Nindy mengingatkan padahal dirinya juga sedang hamil.
"Iya, aku hati-hati."
blaamm..
Lampu padam dan Tisha segera berdiri. "Kalian para bumil duduk saja.. biar aku dan Nindy yang menangani." Tak ubahnya ucapan Nindy, Tisha pun berucap seperti dirinya tidak sedang hamil.
Nava dan Maurin yang tidak tau apa-apa memilih menurut.
Dering telepon Maurin berbunyi dan ia segera mengangkatnya.
"Wa'alaikumsalam Bang. Abang dimana?"
"Masih di kantor dek.. kamu masih di rumah Nindy?" Tanya Bang Brigas.
"Iya Bang. Lampu mati, jadi Tisha dan Nindy langsung mengecek gardu listrik di dekat rumah." Jawab jujur Maurin.
"Apaaaaa???"
"Ada apa Bri?" Terdengar suara Bang Ricky ikut nimbrung di dekat Bang Brigas.
"Astagfirullah.. mereka bawa alat apa???" Tanya Bang Ricky.
"Dek, Nindy dan Tisha bawa alat apa?" Bang Brigas balik bertanya pada Maurin.
"Nggak bawa apa-apa tuh Bang" jawab Maurin.
"Ya Salaam.. apa mereka mau colok kabel pakai jari??" Terdengar suara panik Bang Ricky.
"Bang Ricky.. Nindy dan Tisha bawa alat kok, tadi Nava lihat."
"Alhamdulillah.. mereka bawa apa?" Selidik Bang Ricky.
"Nindy bawa sapu lidi dan pengki. Tisha bawa Kacamata dan tali tambang" jawab Nava.
"Astagfirullah.. mereka mau betulkan kabel atau mau kurveeee???"
tuuuuutt..
Maurin bingung karena sambungan telepon mati sepihak.
__ADS_1
"Ya Allah bisa-bisanya mereka bawa barang yang tidak ada gunanya." Gumam Maurin.
"Iya Mbak, setidaknya mereka bawa karet gelang. Karena listrik takut dengan benda berbahan karet" imbuh Nava.
Maurin terdiam sejenak kemudian menggaruk kepala. Ia jadi bingung siapa yang salah pemikiran di antara mereka ataukah dirinya saja yang tidak pintar.
:
"Benar-benar nggak mikir kamu ya..!!" Tegur keras Bang Hara yang akhirnya ikut mencari Tisha karena Bang Ricky memberinya kabar buruk.
"Tisha mengontrol gardu listrik ini karena Tisha mikir Bang..!!" Jawab Tisha.
"Kamu lagi.. nggak sadar perut sudah seperti bedhug kenapa kamu mainan listrik..!!"
"Siapa yang mainan? Nindy hanya menerapkan apa yang sudah Nindy pelajari."
"Apa gunanya sapu dan pengki??"
"Kita gunakan alat seadanya. Sapu di berdirikan untuk menangkal hujan, dan pengki untuk melindungi tubuh kita kalau ada percikan aliran listrik." Jawab Nindy tegas dan lugas meskipun melenceng keluar jalur.
"Begitu???? Lalu buat apa kacamata dan tali tambang ini????" Tanya Bang Ricky lagi. Saat itu angin sudah semakin kencang.
"Abang paham safety atau tidak? Ini tali untuk di ikat di perut dan kacamata ini untuk melindungi mata" begitulah penjelasan Nindy.
Seketika tubuh Bang Hara dan Bang Ricky terasa lemas. Entah harus tertawa terbahak atau menangis berguling-guling. Kepalanya sudah pusing tujuh keliling.
"Kalian ini buat kami mendadak jadi sakit paru-paru" kata Bang Hara dengan suara keras menggelegar.
Bang Ricky menarik nafas dalam-dalam, membuang perlahan lalu menekan perasaan agar menjadi sabar sesabar sabarnya makhluk Tuhan. "Pertama.. kamu mau ikat tali ini dimana dengan perut besar begitu, ini tali panjangnya hanya satu meter sisa logistik bengkel. Kedua.. yang kamu bawa ini kacamata fashion, sama sekali nggak membantu tugas kalian. Bukannya beres, kalian berdua malah kesetrum..!!!!!!" Akhirnya suara Bang Ricky lebih tinggi dari suara Bang Hara. "Pulang sekarang juga. Jangan buat suami-suami ini empedunya pecah..!!!!!"
"Iihh Abang, kami khan membantu." Kata Nindy.
"Lebih membantu lagi kalau kalian diam dan tidak punya ide cemerlang..!!!" Ucap Bang Ricky mendiamkan bibir Nindy dan Tisha.
Bang Hara pun pening. "Kalaupun tali ini panjang dan bisa di sangkutkan.. tidak ada gunanya. Gardu ini masih berdiri di atas tanah, bukan di tower" kata Bang Hara lirih.
.
.
.
.
__ADS_1