Perisai Hati.

Perisai Hati.
66. Panas.


__ADS_3

Bang Ricky menebas dan menghancurkan apapun yang ada di sekitarnya. Melihat situasi sudah semakin kacau, Bang Brigas menyergap Bang Ricky.


"Kalau sudah lega ya sudah Bang. Tenaga sudah Abang habiskan. Sekarang Abang harus berpikir dan menata kembali arah rumah tangga kalian. Saya tidak akan menyalahkan jika mungkin nanti Abang akan memilih Iva. Dia juga berhak mendapatkan kasih sayang Abang." Ucap Bang Brigas.


"Tiga tahun Abang menunggunya, Abang terus mencarinya. Jika takdir Tuhan harus sepahit ini kurasakan.. Abang tidak pernah ingin bertemu Iva" Bang Ricky roboh meremas apapun yang ada di sekitarnya. "Aaarhhh" tangan itu beralih meremas dadanya sekuat mungkin.


"Baang.. slow sedikit..!! Tenangkan pikiran..!!" Bujuk Bang Brigas.


"Abang juga tidak pernah ingin mengkhianati Nindy." Ucap lirih Bang Ricky.


"Saya tau Bang."


-_-_-_-


Sore hari Bang Ricky pulang ke rumah dan melihat Iva mengasuh Isyad dan Isy, tak ada yang salah dari pandangan matanya. Iva menyayangi keduanya juga sabar mengajarkan Isyad banyak hal.. yang salah adalah hatinya, tidak pernah bisa mencintai Iva.


"Assalamu'alaikum" sapa Bang Ricky kemudian sedikit menunduk dan mengecup kening Iva. "Nindy dimana?" Tanya Bang Ricky sembari mengacak rambut Isyad dan Isy.


"Wa'alaikumsalam Bang. Ada di belakang. Lagi masak untuk makan malam" jawab Iva dengan senyumnya.


"Abang ke belakang dulu ya?"


"Iya Bang."


Bang Ricky melangkahkan kedua kakinya menuju dapur. Melihat Nindy sedang memasak. Gejolak di dalam diri yang tadinya hanya diam kini merangkak, beradu dan teraduk-aduk tapi dirinya sangat takut mendapat penolakan dari Nindy.


'Sampai kapan aku seperti ini. Sudah sewajarnya aku sebagai pria yang mengejar wanitaku. Kalau aku hanya diam menunggu, bisa-bisa Nindy terlepas dari hidupku lagi. Cukup satu kali saja aku kehilangan dan tidak ingin terulang lagi..!!'


Dengan memantapkan hati, ia mendekap erat tubuh Nindy dari belakang. "Masak apa Mama sayang?" Sapa Bang Ricky setelah memastikan tidak ada Iva di sekitarnya.


Nindy terlonjak kaget. Ia cemas Iva akan datang dan melihat perlakuan Bang Ricky padanya. "Jangan begini Bang. Ini dapur. Nggak enak sama Iva."

__ADS_1


"Apa ini artinya kamu mau kita bermesraan di dalam kamar saja?" Tanya Bang Ricky.


"Baang..!!" Nindy menyingkirkan tangan Bang Ricky yang mulai nakal, ia merasakan tubuh suaminya menegang hebat, suara d***h nya sampai terdengar jelas di telinga.


Bang Ricky bukannya tidak mengingat saat ini baru dua minggu Nindy pemulihan pasca keguguran namun akal dan hatinya seakan gelap dan tidak mau tau.


"Bang.. Iva ajak anak-anak jalan ke taman ya..!!" Teriak Iva dari teras.


"Iya Va, ajak saja..!!"


Terdengar pintu tertutup dan saat itu juga Bang Ricky melonggarkan ikat pinggangnya. "Abang kangen sayang..!!"


"Baaang.. jangan..!!" Nindy menurunkan daster yang di kenakannya, ia bingung karena tangan Bang Ricky sudah menjelajah kesana kemari dan tidak bisa diam melakukan sidak darurat.


Tak banyak membuang waktu, Bang Ricky mengecup bibir Nindy dan melu*atnya dengan rakus. Rasa rindu selama tiga tahun ini membuatnya kalap dan gelap mata. Nindy mencengkeram seragamnya, ia berontak namun juga menikmati service sayang dari Bang Ricky. Tau Nindy begitu kesulitan bernafas.. Bang Ricky menyudahi permainan bibirnya.


"Apa kamu nggak kangen sama Abang. Abang rasanya sudah mau mati saking kangennya sama kamu" ucap jujur Bang Ricky.


Entah bagaimana awalnya, penutup 'tubuh' Nindy sudah merosot hingga ke lantai. Bang Ricky pun memutar arah menuju meja yang masih kosong melompong. Nafasnya yang memburu tak peduli dengan ucapan Nindy. Ia mengangkat sebelah paha Nindy.


"Abang sudah nggak kuat nahan kangen dek"


"Eghhmm.." Nindy memejamkan matanya, tidak berani bersuara saat Bang Ricky menekan tubuhnya dengan kuat.


Bang Ricky terbuai rasa. Ia lepaskan seluruh beban batinnya. Pikirannya kosong, terbang melayang, yang ada hanya untaian rindu yang ingin lepas bebas.


Tiga menit.. empat menit.. lima menit.. "Hhgghh.." Bang Ricky begitu menikmati percintaan sore ini bersama Nindy. "Hgghh.. eeehhh.." detik menggapai puncak.


tok.. tok.. ckllkk..


Terdengar pintu ruang tamu terbuka. Seketika darah panas Bang Ricky menekan ujung syaraf kepala.

__ADS_1


"B*****t" umpatnya kesal. Ia ragu melakukan penyelesaian hingga akhirnya Bang Ricky tak sanggup menahan diri, ia menekan tubuhnya dengan kuat beriringan dengan lepasnya lahar panas miliknya tepat di ladang pahala yang ia rindukan dalam batinnya. Namun langkah kaki semakin mendekat membuatnya terpaksa untuk menarik diri sembari menurunkan daster Nindy, tangannya masih sempat menyambar pakaian Nindy yang tercecer lalu mengantonginya di saku celana. Bang Ricky terburu-buru membenahi letak celananya. Tangan kanannya berpangku pada meja merasakan sisa-sisa perjuangannya kemudian terduduk lemas.


"Bang.. Abang kenapa?" Sapa Iva melihat Bang Ricky bersandar lemas.


"Nggak apa-apa. Capek kerja saja" jawab Bang Ricky. "Ada apa kembali lagi?"


"Dompet Iva tertinggal, Bang Isyad pengen jajan"


Bang Ricky mengangguk lalu bersandar memejamkan mata.


"Ya sudah Iva berangkat lagi ya Bang..!!"


Bang Ricky kembali mengangguk.


Setelah Iva benar-benar pergi. Nindy berjalan mendekati Bang Ricky hingga pria tersebut membuka matanya. Tangan Nindy melayangkan pukulan tapi Bang Ricky tidak menghindar, tamparan pun tidak di tolaknya. "Kenapa Abang lakukan ini???? Abang sudah punya Iva. Bagaimana kalau Nindy hamil?????? Nindy minta cerai.. bukan minta hamil"


Bang Ricky menarik Nindy sampai akhirnya jatuh terduduk di pangkuannya. Sapuan basah mengabsen rongga mulut Nindy untuk sesaat. "Katakan lagi..!! Kamu nggak rindu sama Abang..!!"


"Nindy nggak rindu" Nindy bangkit dari pangkuan Bang Ricky.


"Kalau nggak rindu kenapa menikmati sekali goyangan Om Ricky" goda Bang Ricky. "Abang nggak akan lupa gaya manjamu. Nggak mau kok nggak lepas pelukan Abang"


Wajah Nindy memerah, namun juga menangis. Ia tak sanggup menjawab apapun lagi sebab dalam lubuk hatinya tidak pernah bisa melupakan jantannya seorang Kapten Ricky.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2