
Wajah Bang Ricky masih saja datar, agaknya hati itu masih kesal karena senyum Nindy untuk ajudannya.. Prada Ega.
'Apalah senyum-senyum nggak jelas begitu. Genit sekali. Perasaan kalau di rumah nggak pernah segenit itu, nggak pernah sekalipun membakar gairahku sebagai suaminya'.
"Hhkkkkk.." Nindy berlari cepat ke dalam kamar mandi, agaknya saat bau tumis mandai sedikit mengganggu nya.
Kesal dalam hati Bang Ricky tetap ada namun perasaan cemas juga tidak bisa ia hindari. Secepatnya langkah kakinya menyusul Nindy ke kamar mandi. "Makanya kalau nggak tau rasanya itu jangan sok, mandai itu makanan fermentasi sebelum di olah" dengan tenang Bang Ricky memijat tengkuk Nindy.
"Nindy suka kok, hanya baru kali ini saja Nindy memakannya."
"Kalau nggak nyaman makannya nggak usah di paksa, nanti Abang saja yang habiskan..!!" Kata Bang Ricky.
Beberapa detik berselang, ponselnya berbunyi.. Bang Ricky melihat panggilan telepon dari Wadanyon. Ia pun segera mengangkat panggilan telepon itu. "Selamat siang Abang.. ijin arahan??"
-_-_-_-_-
"Ijin Danki, apa ibu tidak hadir untuk kegiatan sore ini?" Tanya Om Ega karena melihat banyak ibu-ibu usai menyelesaikan kegiatan di Batalyon sedangkan kegiatan Ibu Nindy sudah di handle Pak Danki.
"Nggak. Saya yang melarang, itu urusan di Batalyon, kompi ini saya pimpinan nya, biar Nindy istirahat di rumah. Lagipula kenapa kamu ribet sekali memikirkan istri saya??" Bang Ricky melirik Prada Ega dengan kesalnya.
"Siap Dan, kasihan ibu sejak kemarin mual dan minta buah Gandaria dan mangga muda"
"Oyaa?? Kenapa nggak minta sama saya????" Kekesalan Bang Ricky kembali mencuat.
"Ijin, kemarin ibu sudah mencari Danki kemana-mana.. tapi saat itu Danki sibuk sekali dengan kegiatan, ibu nggak mau mengganggu Danki hanya karena buah mangga saja" jawab Om Ega menyampaikan apa yang di dengarnya kemarin.
"Ada-ada saja, nggak ada urusan istri di nomer duakan" gumam Bang Ricky. "lalu apa yang belum di dapat?"
"Siap.. ijin, semuanya belum dapat"
"Kamu cari ke pelosok desa, tebas saja kalau ada pohon mangga dan Gandaria di rumah itu..!!"
"Siaapp..!!!"
...
Nindy melihat ada sebuah pick up militer berhenti di depan rumah nya. Terlihat Om Ega dan Om Munawar menurunkan sesuatu yang jumlahnya berkarung-karung.
"Ini apa Om?" Tanya Nindy.
"Ijin Bu, buah Gandaria dan mangga muda kiriman Danki untuk ibu."
__ADS_1
Mata Nindy semakin membulat besar, benar saja, ada banyak sekali buah Gandaria dan mangga muda di garasi rumahnya. Nindy menyentuh salah satu karung itu, senyumnya pun tersungging di balik rasa bingung yang juga datang bersamaan menghampiri.
:
"Sudah di makan?" Tanya Bang Ricky sembari melepas seragam luarnya lale melemparkannya masuk ke dalam mesin cuci.
"Sudah Bang" Nindy hanya menjawabnya dengan ringan saja.
"Terus kenapa memasang wajah datar seperti itu?"
"Perut Nindy panas sekali Bang, sakit. Abang kirim terlalu banyak"
"Maksudnya???" Kening Bang Ricky berkerut bingung.
"Itu di teras, siapa mau makan?"
Secepatnya Bang Ricky melangkah menuju garasi rumahnya.
"Allahu Akbar.. Egaaaaa..!!!!!!!" Bang Ricky syok melihat garasinya.
...
"Tapi nggak satu garasi saya penuh buah Gandaria dan mangga muda donk Ga. Mobil saya sampai nggak bisa keluar. Makanya saya sempat pikir kenapa mahal amat harga buahnya, ternyata kamu beli masing-masing satu pohon????"
"Sekarang bagaimana tanggung jawabmu???"
"Baaang..!!" Dari dalam rumah, suara Nindy merajuk manja, perhatian Bang Ricky pun teralihkan.
"Dalem.. Abang kesana dek"
~
Nindy memeluk bantal dan sesekali memercing merasakan perutnya yang tidak karuan. Bang Ricky pun ikut cemas melihat wajah Nindy yang memucat.
"Masih sakit sekali? Ke rumah sakit saja ya dek??"
"Nggak usah Bang, usap perut Nindy saja..!!"
Tanpa banyak bicara Bang Ricky mengusap perut Nindy. Terlihat Nindy mulai tenang saat tangan kekarnya mengusap perut datar sang istri.
"Lain kali bilang sama Abang kalau mau sesuatu, kenapa harus bilang Ega. Memangnya dia suamimu??" Tegur Bang Ricky.
__ADS_1
Nindy masih terdiam, perutnya terasa sangat sakit. "Bang, jangan marah lagi. Nindy sakit..!!" Pintanya.
Bang Ricky pun terdiam dan ikut merebahkan diri di samping Nindy. Tangannya terus mengusap perut Nindy. Mungkin saat ini mengalah adalah cara terbaik nya menghadapi Nindy.
//
Bang Brigas membawakan sandal jepit untuk Maurin.. Istrinya itu sudah terlihat sangat lelah dengan kegiatan padahal Nindy sudah menghandle beberapa tugas istrinya. "Duduk dan istirahat dulu, jangan memaksa mengerjakan ini dan itu kalau memang sudah capek"
"Ini sudah selesai Bang" jawab Maurin.
"Dimana dia? Katanya Nindy urus dekorasi?" Tanya Bang Brigas.
"Bang Ricky mengajaknya pulang, Nindy juga nggak enak badan"
Bang Brigas segera mengambil ponsel dan menghubungi Nindy.
"Assalamu'alaikum.. ada apa Bang?"
"Wa'alaikumsalam. Kamu pulang duluan dek? Terus siapa nih yang bantu mbak mu urus dekorasi?? Bantu mbak mu khan nggak banyak dek. Mbak mu ini lagi hamil" Tegur Bang Brigas.
Tangan Maurin langsung menepak lengan Bang Brigas karena tidak menyangka suaminya akan menegur Nindy.
Di kamar Nindy pun, Bang Ricky sudah memasang ekspresi wajah kesal karena teguran Bang Brigas untuk istrinya.
"Maaf Bang. Nindy juga nggak enak badan, jadi pulang duluan" kata Nindy.
"Nanti kembali ke Batalyon ya, bantu mbak mu..!!"
Nindy hendak menjawabnya tapi Bang Ricky malah menyambar ponsel Nindy. "Kira-kira lah kau kalau minta tolong sama istri senior..!!!" Bang Ricky balik menegur Bang Brigas.
"Siap salah Abang..!!"
"Kalau istrimu capek, di ajak pulang saja Bri..!! Pasrahkan pada anggota yang lain. Disini Nindy juga nggak enak badan. Saya off kan semua kegiatannya..!!"
"Nanti kalau atasan menegur bagaimana Bang? Yang meneliti persiapan ini adalah anggota markas pusat." Kata Bang Brigas.
"Halaah.. persetan. Biar saya yang tanggung jawab. Kalau Nindy pingsan saya juga yang jantungan. Saya nggak peduli, mau di tindak tumbling ya tumbling saja.. pokoknya jangan sampai senggol istri saya..!!" Ucap tegas Bang Ricky.
.
.
__ADS_1
.
.