
"Kamu akan mempelajari hal-hal penting saja di dalam perkuliahan. Lebih tepatnya kamu kuliah via online dan tidak selalu masuk ke kampus. Nanti kamu akan masuk kuliah bersama Nindy." Kata Bang Brigas.
"Nindy disini???" Mata Tisha berbinar terang mendengar nama sahabatnya.
"Oohh pantas saja pemikiran kalian tidak beda jauh. Ternyata kalian ini sedarah.. darah kotor" ledek Bang Hara.
Bang Brigas kembali menahan tawanya. "Awas kau jangan asal bicara di depan Bang Ricky. Abangmu itu nggak ada toleransi apapun yang menyangkut tentang Nindy"
"Bang Ricky itu siapa Bang? Ganteng nggak??" Tanya Tisha.
"Kamu jangan macam-macam, Bang Ricky itu suaminya Nindy" jawab Bang Hara.
"Apa Bang???????"
"Hhssssttt.. sekarang kamu sudah tau keadaannya. Kuliah baik-baik disini dan simpan semua rahasia..!!" Pesan Bang Brigas.
"Okeeeyy Abang..!!"
Flashback off.
"Hmm.. Abang ijinkan kamu berangkat kuliah, tapi selebihnya online. Nanti kamu kuliah sama Tisha."
Nindy menoleh, hampir tidak percaya rasanya Bang Ricky mengijinkan dirinya kuliah dalam jurusan instalasi listrik apalagi kemarin suaminya itu sudah menolak keras dan salah satu alasan penolakannya adalah banyaknya pria di dalam ruang kelas itu.
"Mau nggak? Atau Abang cabut kembali ijinnya??" Tanya Bang Ricky.
"Mauu Bang.. Nindy mau. Terima kasih Abang...!!" Refleks Nindy memeluk erat Bang Ricky. "Nindy senang ada Tisha"
"Nanti Hara akan membantu menjagamu kalau kamu sedang ada kuliah di kampus. Abang tidak bisa selalu ada sama kamu."
"Tapi bisa khan kalau sesekali Abang datang kesana??" Wajah Nindy seakan meletakan harapan dan permohonan pada Bang Ricky.
Sudah barang tentu Bang Ricky tak sanggup menolak permintaan istri kecilnya. "Akan selalu Abang usahakan yang terbaik, apalagi si dedek masih terlalu kecil di dalam perutmu. Jaga dia baik-baik ya dek..!!" jawab Bang Ricky.
'Apa Abang hanya menyayangi dan mencintai anak ini saja?'
__ADS_1
Nindy mengalihkan pandangan dan mengerjab berusaha membuat air mata nya tidak tumpah.
***
Nindy membuka pintu ruang tamu dan melihat Tisha berdiri di depan pintu. "Tishaaaa..!!!" Nindy sampai menjerit saking bahagianya.
Sebenarnya usia Tisha lebih tua dari Nindy, hanya saja kedekatan mereka membuat mereka sudah menjadi sahabat karib tak mengenal angka usia.
Nindy melompat kegirangan dan mereka pun berpelukan.
Tak lama Bang Ricky muncul di belakang Nindy. "Jangan melompat begitu" tegur Bang Ricky.
Lirikan mata Tisha tak melewatkan usapan tangan Bang Ricky di perut Nindy.
"Hai Tisha.. masuk saja dan ngobrol di dalam" sapa Bang Ricky.
"Hmm.. ini Bang Ricky apa bukan ya, Pak Danki yang menjabat di kompi ini, suaminya Nindy" Tisha celingukan mencari papan nama karena takut salah orang. Nyalinya sedikit menciut melihat pria di hadapannya dan postur tubuhnya tidak jauh berbeda seperti Bang Hara. Tinggi, gagah, tegap dan tampan. "Duuh.. kok Rakyan G. Saba ya?" Tisha menggaruk kepalanya.
"Ya itu nama saya" jawab Bang Ricky.
"Eeeehh.. jangan memusingkan nama lagi. Namamu saja Teratai Shamirana juga jadi Tisha" sambar Nindy kemudian menggandeng Tisha masuk ke dalam rumah dan hampir saja Tisha menabrak Bang Ricky yang refleks langsung berbalik badan agar tidak menyenggol Tisha.
...
braaaaakkk...
Suara keras di depan kompinya membuat pandangan mata Bang Ricky mengarah pada satu titik. "Cepat kalian tolong..!!" Perintahnya pada beberapa orang anggota yang sedang kurve bersamanya.
Langkah cepat Bang Ricky memanggil beberapa petugas kesehatan melalui HT.
"Mbak.. mbak nggak apa-apa?" Tanya Bang Ricky akhirnya ikut mendekat.
"Aaaahhh.. kaki saya sakit Pak" jerit kecil wanita tersebut.
Bang Ricky hendak meminta tolong pada anggota untuk mengangkatnya, tapi anggota tersebut terlalu 'kotor' terkena lumpur dan rumput usai kurve apalagi pakaian wanita tersebut berwarna terang. Dengan sigap Bang Ricky mengangkat wanita itu. "Maaf mbak, permisi...!!" Terdengar jelas Bang Ricky meminta ijin.
__ADS_1
"Ada apa Bang?" Tanya Bang Brigas dari dalam mobilnya yang sepertinya akan melaju ke arah kota.
"Ini Long, ada yang kecelakaan." Jawab Bang Ricky.
"Biar saya antar sekalian saja ke rumah sakit Bang..!!"
Wanita itu memang terluka, ia sampai bersandar di bahu Bang Ricky.
"Cepat Bang..!!" Pinta Bang Brigas.
"Kamu nggak lihat saya jalan cepat??" Secepatnya Bang Ricky memasukan wanita itu ke dalam mobil Bang Brigas setelah Om Ega membuka pintu mobil. "Kamu ikut sama Letnan Brigas.. tolong seorang anggota lagi mengawal dan urus masalah ini..!!"
...
Di rumah Bang Ricky. Duo kucrut sedang merangkai 'kepintaran' mereka karena akan masuk di kampus yang sama.
"Aku suka banget lho Nin.. nanti kita ada ospek di bukit" kata Tisha.
"Tisha.. kamu jangan bilang ya kalau kita ada ospek. Kita khan ada di mess selama satu minggu. Tapi Abang nggak tau kita mau ada ospek. Please.." Nindy memohon pada Tisha agar tidak membocorkan rahasia ini.
"Tapi Nindy.. bukankah pelatihan ini yang akan mengambil alih adalah Batalyon?? Kamu nggak tau??" Tanya Tisha.
"Aaahh itu gampang. Abang nggak akan datang ke kampus atau bukit karena Abang Danki disini dan Abang sangat sibuk. Abang sampai meminta bantuan penjagaan sama Bang Hara" jawab Nindy.
"Bang Haraaa?? Aku benci dia. Sok banget.. lagipula kenapa suamimu nggak boleh tau?"
"Ehmm.. kau belum tau saja bagaimana suamiku. Bang Ricky itu galaknya bukan main" alasan Nindy.
Tisha membuang nafasnya. "Kenapa kita harus bertemu pria menyusahkan seperti itu"
Nindy menepuk punggung Tisha. "Sabar ya..!! Kita harus saling mendukung dan menguatkan..!!"
.
.
__ADS_1
.
.