Perisai Hati.

Perisai Hati.
70. Ku harap kamu mengerti.


__ADS_3

"Kamu bagaimana sih dek?????? Bagaimana kalau Iva sampai lihat?????" Bang Ricky menegur ulah nakal sang istri. Ia akui di kehamilannya kali ini, Nindy jauh lebih agresif dan sangat genit padanya. Ingin rasanya dalam hati menolak mengingat kehamilan Nindy sangat beresiko namun ia pun hanya lelaki yang sangat lemah dan takluk pada satu titik bagian tubuh wanita yang membuatnya bertekuk lutut.


"Tapi Nindy kangen di sayang Abang."


Tak menunggu waktu lama, Bang Ricky menggendong Nindy masuk ke dalam kamar. "Kita ribut di kamar saja...!!"


Saking tak bisanya menahan diri, Bang Ricky hanya menutup pintu dengan ujung kakinya lalu merebahkan diri di atas ranjang. Secepatnya Bang Ricky mengangkat sarung dan daster Nindy.


:


Iva terbangun seperti mendengar suara aneh, Ia pun berjalan menuju kamar Nindy. Tidak di lihatnya Bang Ricky ada disana namun saat ia melongok ke arah kamar Nindy. Saat itu juga batinnya sangat terpukul melihat Bang Ricky begitu berna*su meng****i Nindy, hal yang tidak pernah ia rasakan. Suara d***h Bang Ricky, membuat hatinya terasa sangat sakit.


'Kenapa Abang hanya bisa melakukannya dengan Nindy?? Iva juga istrimu Bang. Iva juga berhak mendapatkan hal yang sama seperti Nindy.'


"Hhgghh.. aaaaaghhh.." suara Bang Ricky benar-benar lepas. "Alhamdulillah..!!"


"Lagiiii Bang..!!!!"


"Ya ampun.. sabar sayang.. ingat yang di perut..!!" Bang Ricky masih mengatur laju nafasnya.


"Abaaaang iihh.." suara manja Nindy membuat dada Iva sangat panas namun tidak dengan Bang Ricky yang sudah bagai mesin jahit menuruti sang istri yang tengah merajuk manja.


"Duuuuuhh.. nggak kapok ternyata ya. Kurang teroooooss..!!" Bang Ricky tertawa dan mengecup bibir Nindy.


Masih dalam posisinya. Bang Ricky pun memulai lagi dan Iva kembali masuk ke dalam kamar.


***


"Nanti siang jangan ada yang kemana-mana ya..!!" Kata Bang Ricky.


"Ada apa Bang?" Tanya Iva dengan mata bengkak karena menangis semalam.


"Kita mau bicara masalah keluarga."


Nindy menganggap, matanya lengket dan nyaris tidur di meja makan karena lelah.


"Dek.. makan dulu nanti balik tidur lagi..!!" Kata Bang Ricky.


"Nindy nggak nafsu makan Bang" jawab Nindy lirih kemudian berlari menuju kamar mandi.


"Hhkk.."


Bang Ricky pun segera menyusulnya.

__ADS_1


~


"Astagaaaa.. inilah yang Abang takutkan. Pagi lemas begini. Makanya kalau malam jangan ngajakin begadang. Abang kuat, kamu yang nggak kuat..!!" Omel Bang Ricky sembari membopong Nindy ke dalam kamar.


"Kenapa Abang bisa melakukannya sama Nindy, sedangkan sama Iva tidak????" Protes Iva yang ikut Bang Ricky masuk ke dalam kamar.


"Maksud kamu apa????" Bang Ricky mengeryit dahi.


"Semalam Abang berduaan dengan Nindy, begitu gagah dan jantan Abang di hadapan Nindy tapi Abang tidak pernah begitu kalau sama Iva. Apa salah Iva? Iva juga perempuan. Iva juga bisa menyenangkan Abang seperti Nindy memuaskan Abang" Iva sudah sebegitu kesalnya mencemburui Bang Ricky dan Nindy. "Ceraikan Iva saja. Abang tidak pernah menginginkan Iva." Pinta Iva.


"Baiklah Iva.. Abang kabulkan permintaanmu..!!" Kata Bang Ricky.


"Bang..!!" Sapa Bang Hara yang entah sejak kapan berdiri di dekat pintu bersama ekspresi Bang Brigas yang mematung.


"Sejak kapan kalian disana?"


"Sejak tadi Abang ribut. Maaf.. kami kemari karena Abang tidak ada kabar hingga jam delapan. Danyon menanyakan keadaan Abang" jawab Bang Hara.


"Ya Tuhan.. Nindy pingsan sampai saya lupa minta ijin untuk tidak ikut apel. Maaf ya..!!" Kata Bang Ricky.


"Maaf juga kami langsung masuk. Tadi kami hanya dengar suara ribut dan Abang tidak dengar suara ketukan pintu.


"Ya sudah nggak apa-apa. Apa keluarga saya sudah datang?"


"Baiklah, kalian tadi dengar apa yang saya ucapkan."


"Siap salah Abang" jawab Bang Hara dan Bang Brigas.


"Itulah kenyataannya. Tolong kalian menjadi saksinya..!!"


Iva menangis dan berlari meninggalkan kamar.


"Sebentar lagi Mama kesini sama Ayah Bang. Biar Mama merawat Nindy"


"Iya Long. Kepala Abang sudah sakit. Ingin semuanya segera selesai. Jantung sudah nggak kuat begini terus" jawab jujur Bang Brigas.


"Siap Bang."


...


"Ini kenapa Rick"


"Kebanyakan Ma." Jawaban Bang Ricky terasa berat.

__ADS_1


"Kebanyakan apa??" Mama Nasha tak kunjung paham maksud menantunya tapi tidak untuk semua pria yang kapasitas daya 'ngeres' nya aktif. Mama memeluk Nindy yang baru saja tersadar dari pingsannya.


"Makanya, kalau istrimu usil begitu.. kamu yang tahan diri. Tapi ngomong-ngomong bulan ini Nindy sudah di nyatakan sehat. Aman lah Ric" Kata Ayah Gesang.


Bang Ricky tertegun sejenak.dan akhirnya ia menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya perlahan. "Yah.. Ma.. Nindy sudah isi lagi. Enam minggu.."


"Haaaaahh" Seisi ruangan kaget bukan main, hanya Bang Yosh yang terduduk lemas.


"Piye sih Rick. Memang benar-benar kamu ini nggak amanah" ucap Ayah Gesang namun tak bisa berbuat apapun.


"Maaf yah. Saat itu memang tangki sudah minta di kuras" jawab Bang Ricky.


"Kamu khan punya Iva."


"Abang tidak pernah menyentuh saya" jawab Iva tiba-tiba membungkam bibir semua orang. "Abang memang baik, sangat baik.. tapi tidak untuk yang satu itu. Saya tau niat Abang memang menolong saya dan Isy tapi sebagai istrinya.. saya belum pernah di sentuh secara layak"


Seluruh pandangan tertuju pada Bang Ricky dengan ribuan pertanyaan. Wajah Bang Ricky merah padam menahan rasa malu. Tidak seharusnya Iva mengungkapkan hal yang bersifat sangat pribadi. "Abang menyentuh saya hanya sekali.. itu pun saya yang membantu tapi hanya ada nama Nindy dari bibir Abang hingga Abang tersentak dan menyelesaikan 'di luar'. Untuk kedua kalinya Abang mengajak saya, mungkin karena mengganti rasa bersalahnya karena sudah mengecewakan saya, tapi lagi-lagi tidak ada gagah dan jantannya seorang laki-laki dalam diri Abang, mati begitu saja. Saya kecewa dan semalam saya lebih kecewa karena ternyata Abang seperti pria yang kerasukan karena begitu menginginkan Nindy....."


"Cukup Va.. Abang tau Abang salah. Tapi apa perlu kamu ungkapkan aib seperti ini??" Tegur Bang Ricky.


"Abang malu???? Iva juga merasa Abang permalukan." Iva sampai menangis dan terisak.


"Apa selama ini Abang hanya pakai obat pendukung selama bersama Nindy karena Abang 'mati'?" Cerocos Bang Ludoyo.


"Diam kamu Doy..!!!!" Bentak Bang Hara.


"Siap salah Bang" Bang Ludoyo pun mengunci bibirnya.


Tangan Bang Ricky mengepal. Sudah terlanjur basah. Ia pun akhirnya tidak lagi mengedepankan rasa kasihan.


"Saya mengaku salah. Memang saya tidak bisa melakukannya dengan Iva. Saya sudah berusaha melakukan kewajiban saya sebagai suami tapi saya tidak mampu. Saya sudah mencoba untuk kedua kalinya tapi mental saya tidak siap.. karena di dalam hati saya hanya ada Nindy."


Iva menangis karena terlalu sedih, ia sampai memukuli Bang Ricky karena kesal. "Abang jahat. Abang jahat sama Iva. Iva juga punya hati. Apa Abang tidak bisa memberi sedikit hati untuk Iva?"


"Maaf Va. Abang salah"


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2