
Laras tak sanggup jujur. Jika ia merasakan gejolak asing yang membuatnya menginginkan lelaki itu, namun tak sangup menjawab secepat itu, melihat keraguan di mata Laras, Rio mengeratkan genggaman tangannya membuat Laras menoleh. Senyum Rio seakan menghipnotis,” Aku akan jawab tiga hari lai ya mas, aku masih harus memikirkan matang- matang semua ini,” ucap Laras yang pada dasarnya juga mempunyai perasaan yang sama terhadap Rio namun ia masih perlu waktu untuk memikirkan itu semua.
“Baiklah aku tunggu jawaban dari kamu Laras,” ucap Rio.
“Kita ke dalam yuk mas, takut Mita dan Deva menunggu terlalu lama,” ajak Laras masuk ke dalam walau masih dengan degub jantung yang masih berdesir.
“Kalian dari mana saja kok lama banget?,” tanya Mita penuh curiga.
“Cuma dari sana bentar ada yang perlu dibicarakan tadi,” ucap Laras.
“Hm hm hm aku nunggu undangan saja lah,” ledek Deva.
“Eh Mita kalian sudah pesan ngak tadi makanannya?,” tanya Laras.
“Sudah dong, kalian sih kelamaan ke sana,” ucap Mita.
“Hm baiklah kalau begitu, semoga saja makanannya tidak lama datangnya,” sambung Laras.
“Emang kenapa???,” tanya Rio.
“Ibu kan sendirian di rumah mas, ngak enak kalau kelamaan pulang kasihan ibu ngak ada teman,” jawab Laras.
“Ohhhh iya aku lupa kalau ibu sendirian dirumah,” ucap Rio sambil menepuk keningnya dengan telapak tangan kanannya.
Tidak begitu lama menunggu dua orang pramusaji di restoran itu datang dengan meletakkan satu persatu menu makanan yang sudah mereka pesan, tanpa basa basi setelah semua terhidang langsung disantap oleh mereka mengingat waktu yang tidak begitu lama, Laras yang selalu kepikiran tentang ibunya di rumah sendirian.
Sesaan tengah asik makan, dari luar restoran terlihat kedatangan seorang laki- laki penerus perusahaan milik keluargany, yaitu Ricky yang ingin makan di tempat itu juga tapi ia tak melihat kalau manta istrinya itu berada di lokasi yang sama dengannya juga. Ricky memanggil seorang pramusaji dan memesan makanan untuknya, sementara Laras dan yang lain sudah selesai dan tinggal pembayaran ke kasir saja.
“Mas kita pulang sekarang yuk,” ajak Laras kepada Rio.
“Iya mas kalau mau duluan kalian duluan saja biar aku diantar Deva aja,” ucap Mita.
“Kalu begitu aku duluan ke parkiran kamu nyusul nanti,” jawab Rio .
Laras masih bercerita sedikit dengan sahabatnya itu, sementara Rio jalan duluan ke parkiran dan tak lupa Rio ke kasir untuk membayar semua makanan yang mereka pesan tadi. Ketika Rio sedang di Kasir dari tempat duduknya Ricky melihat seorang bos besar yang juga makan di tempat yang sama, kemudian Ricky menemui Rio.
“Ehhh pak Rio, apa kabar pak,” sapa Ricky dengan penuh rasa percaya diri.
__ADS_1
Siapa yang tidak mengenal Rio di kalangan pemimpin – pemimpin perusahaan, seorang pengusaha muda yang sukses di berbagai bidang dan mempunyai banyak PT dan investasi di beberapa perusahaan termasuk perusahaan keluarga Ricky.
“Hm pak Ricky, sama siapa kemari pak?,” tanya Rio seakan – akan tidak tahu masalah Ricky sebenarnya.
“Saya sendiri kok pak, tadi pulang ngantorlangsung kemari,” ucap Ricky.
“Baiklah pak, kalau begitu saya duluan ya,” jawab Rio yang pamit takut Laras sudah duluan ke parkiran.
“Ohhh iya pak hati- hati dijalan pak,” ucap Ricky yang tidak tahu kalau Rio dan Laras dari dulu sudah saling mengenal dan kini hampir jadian.
Laras yang bejalan lurus tanpa melihat kesana kemari sama sekali tidak melihat yang namanya Ricky di restoran itu. Dan tiba diparkiran Rio yang sudah siap untuk membukakan pintu untuk tuan putrinya berdiri tegak di samping pintu sebelah kiri mobilnya.
“Silahkan masuk tuan putri,” ucap Rio sambil membuka pintu mobil tersebut.
“Ahhhh mas ngak perlu seperti ini deh,” jawab Laras.
“Yaaaa sesekali kan ngak apa apa, laian kan ngak ada uga kok orang yang melihat,” ucap Rio.
“Hmmm baiklah,” jawab Laras yang langsung memasuki mobil Rio.
Mereka berdua pun berjalan menuju rumah Laras.
“Baik tuan putri,” ucap Rio.
“Kalau ngak kita cari asisten rumah tangga saja untuk mu dan ibu, kalau nanti ibu sudah sembuh total masalahnya kita bahas belakangan saja,” usul Rio.
“Tapi mas untuk sementara ini menurut aku biarkan aku sama ibu dulu dirumah, sebentar lagi kalau kita magang baru deh di cari asisten rumah tangganya untuk menemani ibu ,” ucap Laras.
“Begitu pun jadi, bagaima yang terbaik menurut kamu saja lah,” jawab Rio.
“Dulu bertahun- tahun denga Ricky aku ngak pernah tidur di rumah bersama ibu, jadi aku masih kangen suasana berdua dengan ibu mas,” ucap Laras.
“Iya aku ngerti kok,” jawab Rio.
Di restoran masih ada Deva dan Mita yang masih asik ngomong berdua. Lalu Mita melihat jam yang terlilit di pergelangan tangannya membuat ia terkejut.
“Dev kita balik sekarang yuk,” ajak Mita.
__ADS_1
“Ya udah ayok takut kemalaman di jalan kan,” ucap Deva.
“Iya nihhh, kita ke kasir dulu yuk,” ajak Mita yang berniat ingin membayar tagihan restoran.
“Mbak berapa total pembayaran di meja 14?,” tanya Mita kepada seorang kasir reestoran itu.
“Owww meja 14 sudah di bayar semua tadi mbak,” ucap kasir itu.
“Oh iya mbak, terimakaasih ya,” jawab Mita dan menuju pintu keluar.
“Pasti mas Rio yang sudah membayar ini semua,” ucap Mita.
“Ya bersyukur aja, jadi uang kita bisa ditabung untuk keperluan yang lain,” jawab Deva.
“Ihhhh dasar kamu ya, ngak enak juga lah, masa kita yang ingin merayakan orang lain yang bayar kan ngak lucu ceritanya,” ucap Mita.
“Tapi kan sudah terlanjur di bayar sama mas Rio mau apa lagi coba,” jawab Deva.
“Iya juga sih, yaudah kita pulang sekarang,” ucap Mita.
Mereka berdua pun berangkat menuju rumah Mita walau ada perasaan tidak enank dihatinya tapi apa boleh buat, mungkin rezeki hari ini ngak keluar pembiayaan, seperti yang dibilang Deva untuk di tabung.
Laras yang sudah sampai dirumah denga Rio, tapi kali ini Rio tidak mampir lagi karena ada urusan dengan pekerjaannya.
“Mas aku masuk dulu ya, mas ngak mampir lagi,” ucap Laras karena melihat Rio yang tidak bangkit dari tempat duduknya.
“Ngak Laras aku langsung balik aja, titip salam sama ibu,” jawab Rio.
“baiklah mas, kamu hati – hati,” ucap Laras kepada Rio.
“Siap tuan putri kalau begitu aku pergi ya,” jawab Rio dengan menginjakkan gas mobilnya dan berlalu dari rumah Laras.
Perlahan Laras berjalan menuju rumah tapi ada yang aneh dengan pemandangan di depan pintu Laras ada yang bertamu lagi, kali ini ada wanita paruh baya yang menjadi tamu di sore itu. Klalu laras masuk dan ternyata.
...🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁...
...Bersambung...
__ADS_1
...Jangan lupa Like, Vote, komentar & berikan Bintangnya...
... Terimakasih...