
Laras dan Rio masih beradu pendapat kapan mereka akan bertemu langsug dengan orang tua Rio, sementara Laras masih belum percaya diri karena dia yang sudah pernah menikah atau dikenal dengan sebutan janda, akan tetapi Rio sebenarnya sudah menceritakan kisah Laras kepada orang tuanya, tapi tidak mungkin ia mengatakan demikian kepada Laras.
“ Baiklah kalau begitu kita keluar yuk sambil bawa ibu jalan- jalan,” ucap Rio.
“Tapi mas, apa ibu mau, kan ibu belum pulih betul,” jawab Laras.
“Baiklah kita tanya dulu ibu,” ucap Rio sambil menarik tangan kiri Laras menuju dapur karena ibu sudah ke dapur terlebih dahulu.
“Bu, kita keluar yuk ,” ajak Laras.
“Keluar mau kemana sih nak?,” tanya Ratih.
“Ya kita muter- muter aja buk, jalan- jalan keliling kota, ibu kan sudah lama berkurung di rumah pasti bosan dong, makanya kita keluar dulu ya bu,” ucap Rio.
“Baik lah, ibu mau kok, ibu juga sebenarnya sudah suntuk di rumah terus ngak pernah keluar selama sakit,” jawab Ratih dengan semangat ingin keluar bersama anaknya dan Rio pacar baru dari Laras.
“Ya sudah kita siap- siap dulu kalau begitu, mas tunggu di ruang tamu saja , ini sebentar doang kok,” ucap Laras.
Rio pun menunggu diruang tamu sementara Laras dan Ratih sedang bersiap – siap untuk membawa Ratih keluar rumah untuk pertama kalinya setelah beberapa bulan di rumah terus. Kurang lebih sepuluh menit Ratih dan Laras pun sudah selesai bersiap dan menghampiri Rio.
“Mas kita jalan sekarang yuk, maaf menunggu lama,” ucap Laras.
“Baaa,,,, baiklah kita jalan sekarang,” jawab Rio yang pangling melihat kecantikan laras setelah sedikit berdandan dan membuat Rio menjawab terbata- bata jadinya.
“Nak Rio kok seperti itu ekspresinya melihat anak ibu??? Biasa aja deh anak ibu kan memang cantik dari dulunya,” puji Ratih terhadap putrinya.
“Hehehehehe bu, Cantiknya bagaikan bidadari bu,” ucap Rio sembari senyum genit terhadap Laras.
‘Sudah akh mas jangan banyak cerita lagi, kita berangkat sekarang yuk,” jawab Laras.
“Siap tuan putri,” ucap Rio.
Mereka bertiga segera menuju mobil Rio yang sudah parkir dihalaman rumah, ibu yang lebih tua duduk di kursi depan tepat disamping Rio, sementara Laras duduk dikursi belakang. Rio mulai menginjakkan gas secara perlahan menyusuri setiap sudut kota, hingga akhirnya mereka berhenti disebuah Cafe tempat favorit Laras, Rio sengaja membawa mereka kesana karena ingin lebih mengambil hati Laras agar merasa lebih nayaman ketika bersama dengan dirinya.
Laras pun keluar dari mobil dan langsung membuka pintu ibunya, dan memapahnya sampai ke dalam cafe.
“Mari bu, Laras bantu, kita langsung masuk aja ya bu,” ucap Laras sementara Rio masih mencarikan parkir untuk mobilnya.
“Iya nak, kita ngak usah terlalu ke dalam ibu takut kejauhan berjalannya,” jawab Ratih.
__ADS_1
“Oh iya bu, kita yang dekat- dekat sini saja kok,” ucap Laras.
Laras dan Ratih pun segera duduk dan Rio masih berjalan ke arah mereka setelah memarkirkan mobilnya.
Drt..... drt.....drt.... Ponsel milik laras pun bergetar menandakan ada satu panggilan.
“Halo,” jawab Laras.
“Iya Ras, kalian dimana kok rumah terkunci sih?,” ucap Mita.
“Emang kamu dimana sekarang??,” tanya Laras.
“Aku di rumah mu, semuanya terkunci, kalian dimana sihhhh???,” jawab Mita.
“Kita lagi bawa ibu jalan – jalan Mit,” ucap Laras.
“Kitaaa???? Emang kamu sama siapa membawa ibu jalan- jalan??,” tanya Mita penasaran siapa teman Laras.
“Aku sama mas Rio,” ucap Laras.
“Owhhh baiklah, sampai ketemu besok aja di kampus,” jawab Mita.
“Iya Laras ngak apa- apa biar ibu cepat sehat, lagian ibu juga pasti boring lah di rumah terus terusan,” jawab Mita.
“Makanya itu kita ngambil inisiatif bawa ibu keluar,” ucap Laras.
“Ok Laras,,, see you tomorrow,” jawab Mita.
“Okk Mita, See you,” ucap Laras dan otomatis pangggilan terputus.
“Siapa nak???,” tanya Ratih, dan Rio baru sampai segera mengambil posisi duduk di dekat Laras.
“Ohhh itu telpon dari Mita buk,” ucap Laras.
“Lohhh Mita dimana kenapa ngak kamu ajak sekalian,” ucap Rio.
“Iya nak, kan sesekali kita keluar dan berkumpul seperti ini,” sambung Ratih.
“Bukannya ngak mau ngajak Mita, tapi mita sekarang posisinya sedang dirumah kita, dan katanya ia mau pulang aja, ketemu beso dikampus katanya,” jelas Laras kepada Ratih dan Rio pacar barunya.
__ADS_1
“ Ohhh baik lah kalau seperti itu ceritanya,” jawab Rio.
“Ibu kira tadi dia sekitar sini, kalau di rumah mah, kelamaan dijalan juga nanti Mitanya.” Ucap Ratih.
Rio pun mengankan tangan kirinya untuk memberikan kode kepada pramusaji karena mereka mau memesan makanannya. Ketika salah satu diantara pramusaji melihat lambaian tangan Rio salah satu dari mereka segera datang mengahampiri.
Lalu pramusaji itu memberikan menu yang tersedia di cafe itu,” Silahkan di lihat- lihat dulu nyonya, tuan,” ucap Pramusaji yang segera melayani mereka. Satu persatu menu makanan pun di catat olehnya dan segera pergi menyiapkan pesanan dari mereka.
“Bu bagaimana rasanya jalan- jalan lagi setelah beberapa bulan dirawat dan di dalam rumah terus???,” tanya Rio.
“Ibu senang sekali nak, serasa ibu yang sudah bertahun ngak keluar sangking lamanya ngak jalan seperti ini,” Jawab Ibu Ratih.
“Jadi semenjak Laras menikah dulu ibu ngak pernah pergi kemana pun????,” tanya Laras yang merasa kaget dengan ucapak ibunya itu.
“Iya nak, ibu ngak kemana –mana karena memang satu alasannya ngak ada teman untuk di perjalanan,” jawab Ratih.
“Ya ampun bu,,,, kan bisa ajak Laras kalau ibu pengen keluar,” ucap Laras yang mersa bersalah karena selama ia menikah dengan Ricky dulu ia memang tidak pernah membawa ibunya keluar untuk jalan- jalan.
“Ibu segan ngajak kamu nak, apalagi kan kamu posisinya sebagai ibu rumah tangga, sudah pasti banyak sekali pekerjaan yang akan kamu lakukan,” ucap Ratih.
“Ya kalau ibu kasih tau Laras, Laras pasti akan memenuhi permintan ibu, Cuma ibu harta Laras satu- satunya,” jawab Laras.
“Hmmmm sudah lagian udah lewat kok, kedepannya ibu akan kasi tahu kamu kapan ibu ingin jalan – jalan seperti ini,’’ ucap Ratih.
“Nahhh begitu dong buuu,” jawab Laras yang mendatangi ibunya dan langsnung memeluk ibunya.
“Kalau ibu mau dibawa Rio juga ngak apa-apa, ibu tinggal telpon Rio, Rio siap kapan pun ibu telpon,” ucap Rio menawarkan diri untuk membawa calom mertuanya jalan- jalan.
“Hmmmm aman nak, setelah nanti kalian sah sebagai pasangan suami – istri ibu pasti akan sering merepotkan kalian berua,” ucap ibu Ratih.
Mendengar ucapan dari mulut Ratih, Laras dan Rio terdiam membisu, karena mereka berdua sama sekali belum pernah membahas ke arah jenjang pernikahan, walaupun Rio sebenarnya menginginkan itu secepatnya, tapi berhubung Laras yang belum menyelesaikan kuliahnya Rio masih sabar untuk menunggu waktu yang tepat.
...🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁...
...Bersambung...
...Jangn lupa Like, Vote, Komentar & berikan Bintangnya...
...Terimakasih...
__ADS_1
...🙏🙏🙏...