
Hari semakin sore, senja mulai menyapa pertanda malam akan tiba Laras dan Mita masing ingin bepergian menuju tempat magang dari kampusnya. Ratih yang baru saja merasakan kembali berkumpul dengan putri sematawayangnya kini akan dipisahkan oleh jarak lagi.
Sepuluh menit berlalu suara parkir sebuah mobil terdengar jelas ke dalam rumah, Laras segera keluar untuk melihat siapa yang datang berkunjung kerumahnya.
“Hey Laras kamu sudah siap kan????,” tanya Mita, yang tidak disangka Laras akan secepat ini sampai ke rumahnya.
“Iya Mit, aku sudah siap,” Jawab Laras.
Mendengar suara yang sudah tidak asing lagi ditelinga Ratih ia pun bankit dari tempat duduknya.
“Lohhhh ibu mau kemana??,” Tanya Rio.
“Ibu mau nyusul Laras ke depan sepeertinya itu suara Mita, dia sudah sampai ingin menjemput Laras,” Jawab Ratih dengan suara agak pelan.
“Owhhh iya lah buk, Rio juga ikut kedepan,” ucap Rio yang mengikuti jalan Ratih dari belakang.
“Ehhh ibu, mas Rio kalian apa kabar,” sahut Mita yang melihat langsung kedatangan Rio dan Ibu Ratih.
“Alhamdulillah ibu baik nak,,, kamu bagaimana?,” jawab Ratih dan kembali bertanya kepada Mita.
“Mita juga baik kok buk,” jawab Mita.
“Ya udah tunggu bentar ya, aku ambil barang ke dalam dulu,” ucap Laras.
“Iya iyaaa, jangan lama- lama ,” jawab Mita.
Mendengar Laras ingin mengangkat barang yang akan dibawanya ke tempat magang Rio pun dengan refleks mengikuti Laras kembali ke dalam rumah, Rio berniat ingin membantu Laras mengangkat barang – barang bawaaan Laras.
“Sini mas bantu,” ucap Rio menawarkan bantuan kepada Laras.
“Ngak usah mas, Laras bisa sendiri kok,” Ucap Laras.
“Sudah jangan nolak, lagian kamu juga akan ninggalin mas sama ibu disini,” jawab Rio.
“Yahhh mau gimana lagi mas, ini juga biar aku cepat selesai kuliahnya, biar bisa mandiri juga,” ucap Laras.
“Iya mas ngerti kok, tapi ibu akan kangen banget deh sama kamu, termasuk juga aku,” jawab Rio dengan refleks.
__ADS_1
“Hmmmmm paling bisa nihhh,, mulai lagi nge gombalnya,” ucap Laras.
“Ini ngak gombal kok, ini serius dari lubuk hati mas paling dalam,” jawab Rio dengan memasang wajah seriusnya.
“Iiiihhh mas jangan seperti itu ekspresinya, biasa ajaaa mas, mas aku titip ibu ya tolong sesekali kamu liatin ibu” ucap Laras meminta kepada Rio untuk sesekali melihat kondisi ibunya.
“Siap tuan putri, mas akan turuti apa permintaan tuan putri, tapi ingat satu hal kamu tolong usahain pulang ya sekali seminggu demi ibu, dan untuk aku juga,” jawab Rio.
“ Iya mas aku janji kana pulang seminggu sekali, lagian aku juga masih khawatir dengan kondisi ibu yang baru pulih,” ucap Laras.
“Siiippp,,, udah yuk kita ke luar ntar Mita kelamaan nunggu kalo kita ngobrol terus disini,” ajak Rio dengan mengingat waktu yang semakin larut.
“Hehehehehe iya mas yuk kita kedepan,” jawab Laras.
Mereka berdua berjalan menuju halaman depan, walau perasaan Rio masih sedih akan berpisah dengan Laras, seoarng gadis sederhana yang sudah berhasil menaklukkan hati dari seorang Rio, si pengusaha muda yang sukses dalam dunia bisnis.
“Hmmmm ngomong apaan sih berdua, rasanya lama banget berdua di dalam????,” tanya Mita dengan wajar curiga.
“Ih apa sih Mita kita Cuma beresein packing yang belum masuk tadi aku lupa satu barang yang belum masuk,” jawab Laras.
“Sudah jangan ngobrol lagi nanti kaian kemalaman sampe disananya,” ucap Ratih yang menjadi penengah diantara mereka.
“Siapppp buk bosss,” ucap Laras sambil memeluk ibunya.
“Iya buk eee,,, kita akan segera berangkat kok,” sambung Mita.
“Iya nakk, kalian berdua baik- baik disana, saling menjaga satu sama lain, saling mengingatkan yaaa,” ucap Ratih, walau sebenarnya dalam hati masih berat harus berpisah dengan anaknya.
“Siappp buk bossss,” jawab Laras dan Mita dengan kompak.
“Sampai disana kalian langsung beri kabarkemari ya, biar mas dan ibu merasa tenang,” ucap Rio.
“Iya massss,,,, kita akan kabari sesegera mungkin,” jawab Laras.
Laras dan Mita pun segera menuju kedalam mobil, karena disana papa Mita sudah menunggu mereka.
“Buk kita pamit yaaaa, Assalamu’alaikum,” ucap Laras dan Mita sambil melihat kearah ibu Ratih dan Rio.
__ADS_1
Perlahan mobil yang mereka naiki pun mulai bergerak, ibu Ratih yang sedari tadi menahan rasa sedihnya kini satu per satu air mata berjatuhan di pipinya.
“Sudah bu,, mereka akan baik- baik saja kok, kita doakan mereka agar selamat dalam perjalanan,” ucap Rio menenangkan Ibu Ratih.
“Iya nakkk, terimakasih sudah mengingatkan ibu,” jawab Ratih.
“Baiklah bu, kita masuk ke dalam yukkk,, ini juga hampir gelap,” ajak Rio dengan melihat matahari yang sudah tenggelam di ufuk barat.
“ Ayo nak,” jawab Ratih
Rio dan ibu Ratih pun menuju dalam Rumah, dengan perasaan yang tak karuan dihati mereka masing – masing, karena mereka berdua belum siap untuk berpisah lagi dengan Laras walau mereka tau Laras berangkat demi mewujudkan cita – citanya. Sampai didalam rumah tidak panjang cerita lagi Rio juga ingin pulang ke rumah, pasalnya dia juga belum mandi dan butuh istirahat setelah bekerja seharian dan langsung menyusul ke rumah Laras tadinya.
“Buk Rio pun balik dulu ya, besok kalau ngak ada halangan Rio akan singgah kemari,” ucap Rio berpamitan kepada Ratih.
“Iya nak, lagian juga sudah malam, kamu juga pasti capek dari kantor langsung kesini,” jawab Ratih.
“Heheheh iya buk,” ucap Rio dengan senyum tipis terhadap Ratih.
“Baiklah nak, kamu hati- hati di jalan ya,” jawab Ratih.
“Siappp buk, Rio selalu hati- hati kok,” ucap rio sambil melangkah dari rumah Laras dan meninggalkan Ratih di dalam rumahnnya sendiri.
Rio berjalan menuju mobilnya yang parkir dihalaman rumah Laras, didalam pikirannya masih tetap ada Laras rasanya belum puas berbicara kini sudah terhalang oleh jarak. Rio mulai menyalakan mesin mobilnya dan membunyikan klakson menandakan bahwa dirinya segera meninggalkan rumah Ratih.
“Ohhh Tuhan, baru saja berkumpul kini kami dipisahkan lagi, baru saja kebahagiaan bersama putriku terulang sekarang terpisahkan lagi, sehatkan mereka disana, lindungi mereka disana jangan biarkan mereka dalam kesulitan ya Tuhan ku,” gumam Ratih meminta do’a untuk putrinya dan Mita sahabatnya.
Walaupun berat rasanya berpisah tapi Ratih tetap Semangat untuk menjalani kehidupannya, kondisi yang baru pulih akan segera dilatih kembali untuk bisa melakukan segala sesuatu pekerjaan rumah. Setelah beberapa bulan tidak melakukan apa – apa kini harus belajar kembali . Ratih yang dari dulu sudah terbiasa melakukan semuanya sendiri makanya dia tidak merasa terlalu khawatir akan hal itu.
...🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁...
...Bersambung...
...Jangan lupa Like, Vote, Komentar...
...Dan berikan Bintangnya...
...Terimakasih...
__ADS_1