
Rong Yuan dibawa oleh tabib bersama dengan Jian Yu setelah kemenangannya telah di umumkan secara resmi.
Selanjutnya ada dua orang yang naik ke atas panggung, satu adalah Rong Linqi yang tidak jelas antara wanita dan pria.
Tapi, He Xun dapat melihat bahwa itu adalah wanita dengan pakaian seorang pria sementara yang lain adalah Guang Jing yang melawan Yuan Li sebelumnya.
Senjata milik Rong Linqi adalah cambuk dengan sisik sisik, He Xun menebak bahwa itu tentu saja bukanlah senjata biasa.
"Serangan Api Neraka !" Seru Rong Linqi dan percikan api langsung keluar dari sela sela cambuk nya.
Lalu, melihat bahwa Guan Jing langsung menghindar lalu menepis dengan seruling besi miliknya.
Terlihat percikan api yang membara seolah olah akan membakar kedua orang di atas arena menjadi satu.
Keduanya mundur masing masing dua langkah sebelum akhirnya Rong Linqi memutar pergelangan tangannya dikala Guang Jing lagi lengah dan menyerang bagian yang sulit di jangkau bagi Guan Jing.
Bagi seorang pria, sesuatu di tengah selangkangannya adalah masa depannya yang sangat berharga.
Tapi, Rong Linqi tanpa belas kasihan langsung memukul dibagian sana, benar saja seperti yang dikatakan oleh beberapa orang mabuk itu.
Rong Linqi ini berbakat dan licik, tapi tidak ada yang salah dengan itu karena He Xun pikir, tidak ada gunanya jika terus menerus mempertahankan ekspresi sok suci jika tidak benar benar ingin melakukannya.
Rong Linqi menunjukkan kebebasan dalam penyerangan, menurut He Xun jika musuhnya kalah dengan hal yang dianggap hina seperti ini.
Maka itu adalah kesalahan musuhnya sendiri tapi tidak mampu menerima kesalahannya sehingga melimpahkan kesalahan ini pada kelicikan orang lain.
Yang paling benar adalah tidak membiarkan musuh menyentuh diri sendiri jika tidak, maka itu tidak berbeda dengan mencoba peruntungan.
He Xun sendiri, sangat anti jika ada orang yang ingin menyentuh tubuhnya terutama orang yang tidak di kenal ini.
Karena pukulan tadi, terlihat bahwa ada darah yang merembes di celana Guan Jing, Guan Jing menjerit tanpa suara dan jatuh pingsan di tempat sementara Rong Linqi sendiri duduk di perbatasan arena dengan bangga dan tampak menunjukkan ekspresi sombongnya.
__ADS_1
Guru Guan Jing, Guan Yihan, langsung tidak terima dengan apa yang di alami oleh murid tersayangnya dan menunjuk Rong Linqi dengan tangan yang gemetar.
"Bagaimana mungkin kamu begitu kejam ?! Kamu melakukan hal ini pada muridku ! Bagaimana dia bisa menghadapi hidupnya lagi ?" Tanya Guan Yihan dengan suara yang lantang berharap untuk mendapatkan pembelaan dari orang orang.
"Tapi apakah Juri atau pihak Yang Mulia pernah melarang untuk menyerang anggota tubuh tertentu ?" Tanya Rong Linqi dengan datar.
"Apa yang dikatakan oleh muridku tidak salah, bagaimanapun ini adalah kesalahan muridmu karena membiarkan tubuhnya disentuh oleh orang lain. Kelengahan muridmu, bagaimana bisa disalahkan pada kami ?" Tanya Guru Rong Linqi, Ling Ji.
He Xun melihat laki laki ini tampak begitu feminim, dengan gaun merah darah dan sudut mata berwarna senada.
Wajah , leher, dan tangan berwarna putih pucat layaknya orang yang tidak pernah terpapar cahaya matahari.
Tapi, satu satunya hal yang bisa membedakan itu adalah suara dari Ling Ji sendiri yang tampak begitu berat. Berbeda dengan suara gadis pada umumnya.
Bahkan, orang ini membawa sebuah kipas berwarna merah dengan bunga Haitang di atasnya, begitu menawan.
Jika hanya melihat tubuh saja maka orang orang akan mengira bahwa itu adalah putri kaya dari sebuah Keluarga Bangsawan.
Tampaknya kedua orang ini memiliki jiwa yang tertukar sehingga menunjukkan sifat sifat yang sangat berlawanan satu sama lain.
Hanya saja lucu ketika melihat mereka berdiri berdampingan seperti ini, dengan cepat guru dan murid Guan dipukul mundur dan Rong Linqi diresmikan sebagai pemenangnya.
Di babak selanjutnya, secara tidak beruntung, Rong Yuan harus bertemu dengan Rong Linqi. Sementara ini adalah kesempatannya untuk memamerkan diri di depan orang orang.
He Xun maju bahkan sebelum di panggil, tapi kali ini tidak dengan Kipas melainkan dengan pedang kesayangannya.
He Xun memegang Pedang Naga Petir yang sudah diperbaiki nya belakangan ini, secara diam diam dia menambahkan beberapa material berharga selagi menunggu.
Di harta milik Sekte Naga Biru, terdapat beberapa material berharga seperti Biji Timah dari Gunung Yu yang hanya bisa dipanen dengan 40 tahun sekali.
Begitu sulit untuk mendapatkan hal ini, jika tidak maka dia tidak akan berani untuk mengeluarkan pedang miliknya.
__ADS_1
Pedang Naga Petir sendiri tidak berasal dari bahan yang luar biasa bagus jadi He Xun terpaksa melakukan pemurnian paksa seperti ini.
Ini sebenarnya tidak baik dan bisa dikatakan penyia nyiaan sumber daya tapi lebih baik mencoba daripada tidak sama sekali.
Ketika maju ke depan, He Xun tidak membawa lagi Kipas Keanggunan Ilahi melainkan membawa Pedang Naga Petir yang telah menjadi senjata pertamanya.
Sementara Ming Yuan sendiri membawa golok lebar yang ditaruh di atas bahu dengan beberapa cincin besi yang akan berbunyi ketika digerakkan.
"Jika kamu ingin mengaku kalah maka aku akan dengan senang hati memberikan pengampunan padamu. " Ucap Ming Yuan.
"Ming Yuan.... Kamu begitu sombong, bukankah kalian murid dari Sekte besar terus menerus begitu sombong ? Kamu sebaiknya berkata setelah kamu telah merasakan pedang ku, jika belum maka ada baiknya bagimu untuk menutup mulut. " Ucap He Xun dengan seringaian.
Gayanya yang sebelumnya selalu main main telah berubah menjadi serius, tidak lagi sama.
"Pukulan Cakar Naga !" Seru He Xun.
He Xun memegang pedangnya dengan tangan kanan sementara tangan kirinya memukul gagang pedang dengan kuat yang membuat lonjakan kekuatan dari pedang.
Suara gesekan besi tentu saja tidak bisa dihindari, He Xun terus maju dengan tatapan dinginnya dan berusaha untuk membuat Ming Yuan kehilangan kepercayaan dirinya.
Di hadapan semua orang, He Xun terus menerus mendorong Ming Yuan dengan kedua tangannya.
Shiutttt !
Suara gesekan besi menjadi lebih jelas ketika percikan api tampak muncul dari kedua pedang itu.
He Xun memutuskan untuk menarik pedangnya dan mencegah kehancuran Pedang miliknya, jika terus menerus seperti itu maka cepat atau lambat maka Pedangnya akan patah.
He Xun berputar ketika Golok besar itu membelah tempat dimana dia seharusnya berada. Setelah dia berputar, itu melewati tepat seinci disebelah kanannya.
He Xun melompat ke atas pembatas arena dan melakukan tolakan di udara dengan kedua kakinya yang mengincar kepala Ming Yuan lalu ditahan oleh Golok besar Ming Yuan.
__ADS_1
Sepatunya terbelah menjadi dua tapi bersamaan dengan Ming Yuan terdorong mundur tiga langkah ke belakang, sementara He Xun mendarat di tanah dengan jubah berkibar dan telanjang kaki.