PESONA BUNGA SURGAWI ( Season 1 )

PESONA BUNGA SURGAWI ( Season 1 )
22. Membuat Perhitungan


__ADS_3

Saat ini, He Xun telah memakai pakaian baru dan bersih tentu saja, dengan rambut yang disisir rapi dan tampak sangat tampan tentu saja.


Disampingnya sudah ada He Yue dengan pakaian yang telah dibeli olehnya, jubah berwarna ungu muda dengan keliman perak dan sulaman kupu kupu.


Setelah bersih dan memakai pakaian yang layak, mereka juga sudah selesai makan, makanan yang dimasak oleh He Xun, mereka akan membuat perhitungan pada He Yan.


He Xun mengetahui bahwa He Yan memiliki sebuah markas yang terbuat dari pohon besar di pinggiran kota, disana akan ada banyak antek antek yang menjilat He Yan.


He Xun yakin bahwa He Yan sedang ada disana dan menyusun rencana untuknya, He Xun berencana untuk menjadikan He Yan sebagai sandera.


Tentu saja dia akan mendapatkan banyak uang, masalahnya adalah He Yue. He Xun tidak tahu apakah harus membawa He Yue atau tidak.


Rumah kayu itu sempit dan tidak memiliki banyak ruang, akan sangat sulit untuk bertarung apabila harus membawa sebuah beban bersama dengannya.


"Yue, bagaimana jika kamu pergi ke salah satu kedai yang ada di pinggiran kota ?" Tanya He Xun dengan pelan.


"Tapi, Tuan.... " He Yue tampak sedih.


"Jangan sedih, ini untukmu. Pesanlah sesuatu untuk kita makan nanti setelah aku selesai. " Ucap He Xun sambil menepuk pundak He Yue.


Dengan berat hati akhirnya He Yue mengambil jalan yang berbeda sementara tatapan He Xun menjadi lebih tajam.


He Xun bukan hanya tidak ingin membawa He Yue karena akan menyusahkannya melainkan He Xun tidak ingin He Yue melihatnya memukuli orang lain atau bahkan membunuh orang lain.


He Yan telah dua kali datang ke depan pintunya dan mencari keributan, mulai dari ingin menganggu penolongnya sampai menghancurkan pagar rumahnya.


He Yan memang harus di beri pelajaran, He Xun tiba tiba memiliki ide dan mengambil kain putih yang ada di dalam kediamannya lalu menggunting dua bulatan untuk mata.


He Xun langsung melipatnya dan membawanya pergi dengan semangat, He Xun pergi dan mencari rumah kayu yang disebutkan.

__ADS_1


He Xun sendiri belum pernah melihat secara langsung, hanya saja telah beberapa kali mendengar pelayan pelayan lain mengatakan tentang rumah kayu milik He Yan.


He Yan terlalu tidak sabar untuk memimpin orang lain sehingga membangun sebuah markas dimana dia menjadi Raja disana.


Bukankah itu memalukan ?


Tidak ada orang yang akan dengan tidak tahu malu mengakui dirinya sendiri sebagai Raja, tapi buktinya He Yan melakukannya.


Setelah berulang kali mencari, He Xun akhirnya melihat rumah kayu yang sederhana dan benar saja di dalamnya ada sekelompok anak anak.


"Kita harus membuat He Xun membayar hal ini !" Ucap He Yan dengan berapi api dari dalam.


"Bos, kenapa tidak memberi tahu ini pada ayahmu ?" Tanya salah satu antek penjilat He Yan.


"Hmph ! Kau terlalu tinggi dalam memandangnya ! Apakah ayahku, keberadaan yang Agung dan tidak tersentuh, layak untuk diganggu karena anjing liar ini ? Aku telah lebih dari cukup untuk menaklukkan anjing liar ini !" Ucap He Yan dengan bangga.


He Yan tersenyum dengan bangga sementara He Xun tersenyum mengejek, apanya yang bijaksana ?Bahkan anak anak berumur 5 tahun bisa menyusun rencana naif seperti ini.


He Xun mengenakan kain yang telah dibawanya dan menutupi dirinya sendiri lalu menampakkan dirinya di depan pintu.


Tidak semuanya melihat dan salah satu langsung berteriak histeris.


"Ha.. Ha... Hantu !" Teriak salah satu.


"Mana ada hantu di siang hari seperti ini ?" Bantah seorang pemuda dengan rambut cokelat dan tampak mengejek.


Orang orang langsung melihat pintu dan pada saat itu He Xun telah menghilang di balik tembok. Lalu, He Xun menampakkan diri di jendela.


"A.. A.... Astaga ! Itu benar benar hantu ! Lariiii !!!" Teriak pria berambut cokelat itu dan meninggalkan segaris air di belakangnya lalu lari paling pertama.

__ADS_1


Orang orang berteriak ketakutan dan berlari lewat pintu bahkan ada yang mengencingi dirinya sendiri dan pada saat itulah, He Xun membekap mulut He Yan dan membawanya pergi ketika semua orang panik dan tidak menyadari bahwa He Yan telah hilang.


"Diam dan jangan memberontak, jika tidak maka aku akan memukuli mu. " Ucap He Yan


He Yan terus meronta di dalam genggamannya, He Xun dengan cepat memukul titik kesadaran milik He Yan, pria itu jatuh pingsan.


He Xun menatap wajah yang sangat dibenci olehnya , wajah yang sangat ingin dirusak olehnya, tapi He Xun hanya mendengus dingin.


"Berdoalah bahwa ayahmu akan menebus mu dengan harga mahal, jika tidak maka aku akan membuatmu menyesal, aku akan membuatmu mengalami kehidupan yang lebih buruk dari kematian. " Ucap He Xun dengan tatapan penuh kebencian.


He Xun berjalan dengan He Yan yang berada di punggungnya, tidak sadarkan diri.


"Belum saatnya untuk mencabut nyawa murahmu, aku ingin kau melihat bahwa aku secara perlahan lahan memanjat dan menggunakan mu sebagai batu injakan. Dimana aku akan mengambil apa yang seharusnya milikmu dan apa yang kamu inginkan. " Ucap He Xun dengan tatapan yang memerah.


Kebenciannya telah terukir ke dalam tulang dan tidak akan pernah bisa dihilangkan bahkan dalam tiga kehidupan.


He Xun membawa He Yan ke Klan He yang cukup jauh, He Xun melihat bahwa He Yan akan segera sadar sehingga memukul He Yan lagi sampai pingsan dan dia yakin tidak akan bangun sampai 3 jam ke depan.


Mereka menjadi pusat perhatian orang orang karena pakaian He Xun yang masih memakai kain putih untuk menutupi wajah dan tubuhnya sampai ilmu menyeret orang pingsan.


"Siapa yang mengetahui bahwa kamu akan jatuh di tanganku dengan begitu cepat, aku berpikir bahwa membutuhkan 25 tahun untuk membalas dendam atau bahkan 50 tahun lagi, tapi aku percaya bahwa aku akan bisa membuat perhitungan untukmu. Tidak menyangka bahwa akan secepat ini. " Gumam He Xun sambil menyeringai.


Sesampainya di Klan He, He Xun memandang tempat yang telah menjadi saksi bisu terhadap penyiksaan yang diberikan padanya selama 13 tahun.


Dihina , diejek, dipukuli, diberi makanan bekas, dipaksa untuk bekerja sangat keras, dipaksa untuk tidak tidur dan terus bekerja.


He Xun mandang dirinya sendiri di pantulan kolam ikan koi yang ada di depan Klan He.


"13 tahun tinggal disini adalah kegagalan terbesar dalam hidupku, aib paling besar dalam hidupku, aku membenci tempat ini sepenuh hatiku tapi ini adalah satu satunya tempat yang menyimpan kenangan terhadap aku, ibu dan ayah. " Gumam He Xun sambil menatap orang yang berlalu lalang di Klan He, He Xun melangkah lebih maju dan bersiap untuk membuat perhitungan.

__ADS_1


__ADS_2