
"Yue, berapa umurmu sebenarnya ? " Tanya He Xun ketika mereka sedang memakan paha ayam yang telah matang dengan sempurna.
Ayam panggang itu tampak sangat lembut dan bumbu dengan sempurna meresap sampai ke dalam.
Bahkan, dengan sentuhan tersebut sekalipun akan membuat daging ayam terlepas dan dengan kehangatan dari makanan yang baru matang..
Itu tampak sangat sempurna, warna yang mengkilat karena minyak tampak seperti bintang ditengah gelapnya malam.
Warna kulit ayam panggang yang kecoklatan dan daging yang berwarna putih dengan serat serat halus.
"9 tahun dan tahun ini akan masuk 10 tahun. " Ucap He Yue.
Mendengar ini He Xun hampir tersedak sampai mati oleh paha ayam miliknya, tapi menahan diri untuk tidak tertawa.
Karena, ini bagaimanapun kasihan. Awalnya He Xun mengira bahwa He Yue baru berumur 4 atau 5 tahun tapi ternyata hanya berbeda 4 tahun dengannya.
Dia baru saja menginjak 13 tahun dan sebentar lagi 14 tahun sementara He Yue, 9 tahun mendekati 10 tahun.
"Bagaimana dengan kedua orang tuamu ?" Tanya He Xun dengan hati hati.
"Aku tidak mengenal mereka semua, aku ditinggal di kuil ketika aku masih bayi tidak sampai umur 2 bulan dan seorang biksu tua telah merawatku sampai berumur 5 tahun tapi 4 tahun lalu dia telah meninggal dan aku berusaha untuk hidup mandiri dan disinilah aku, mencoba untuk mencuri beberapa makanan ringan dan sialnya aku ketahuan. " Ucap He Yue dengan panjang lebar.
"Kamu mengatakan bahwa kamu dirawat oleh seorang biksu , bagaimana dia memanggilmu ?" Tanya He Xun dengan bingung.
"Ah - Yue atau mungkin kadang kadang Yue'er. " Ucap He Yue.
(Penambahan A atau Ah di depan nama seseorang untuk menunjukkan kedekatan, biasanya digunakan oleh keluarga dan penambahan 'er di belakang nama biasanya digunakan sebagai panggilan penuh kasih sayang. )
"Oh, jadi menurutmu bagaimana aku harus memanggilmu ?" Tanya He Xun.
"Terserah Tuan, bisa memanggilku sebagai He Yue, Ah - Yue, Yue'er atau bahkan gadis kecil. Kamu adalah penyelamatku, apa yang kamu katakan adalah apa yang harus aku lakukan. Jika kamu mengatakan bahwa aku harus ke utara maka aku tidak akan pernah berjalan ke Selatan. " Ucap He Yue.
Ternyata He Yue termasuk orang yang mudah bercerita dan lumayan banyak bicara, berbeda dengannya yang cenderung pendiam.
__ADS_1
He Xun memandang pagar kediaman nya yang rusak dan tampak kesal lalu memutuskan untuk meminta pembayaran ini pada Klan He.
He Xun tentu saja memiliki uang untuk memperbaiki nya, tapi He Xun merasa enggan karena harus membayar sesuatu yang bahkan tidak di lakukan olehnya.
"Yue, nanti kita akan pergi ke tempat orang jahat. Apakah kamu ingin ikut ? " Tanya He Xun dengan lembut.
He Yue yang sedang memegang paha ayam langsung mengangguk tanpa ragu.
"Tidak peduli sejahat apa, aku yakin jika Tuan yang menangani nya maka semuanya akan baik baik saja !" Seru He Yue.
He Xun menggeleng geleng kan kepalanya dan meminta He Yue untuk masuk ke dalam kediamannya dan tidur terlebih dahulu.
Sementara He Xun duduk dalam kondisi meditasi dan bersiap untuk menyerap Qi dari langit dan bumi.
Di pikirannya , ada sebuah ruangan luas yang dipenuhi dengan buku buku, He Xun menghampiri salah satunya dan melihat bahwa itu adalah buku seni bela diri.
Buku itu berjudul 'Pukulan Cakar Naga', nama yang agak anek tapi sangat menarik minatnya. He Xun membuka buku tersebut.
Lalu, mulai melihat bahwa untuk 1 gerakan utuh atau 1 bagian, itu dibagi menjadi beberapa tahap untuk membentuk serangan yang sempurna.
He Xun memegang buku tersebut dan memejamkan mata, He Xun ingin melihat apakah buku buku ini bisa di bawa keluar atau tidak.
Ketika memejamkan mata dan ingin keluar sama seperti ketika dia ingin memanggil Pedang Naga Petir, tanpa diduga duga, He Xun kembali keluar dengan sebuah buku di tangannya.
"Wah ! Ini sangat menakjubkan!"Puji He Xun.
He Xun mulai memperagakan tahap tahap untuk membentuk bagian pertama sampai sampai lupa waktu dan tidur pada saat hari mulai pagi.
Dengan sebuah buku di tangannya, He Xun tertidur di halaman depan dengan sangat pulas. He Yue yang baru bangun pun terkejut ketika melihat Tuannya tidur tanpa selimut di halaman luar dan segera membangunkan Tuannya.
"Tuan ! Tuan ! Bangun !" Panggil He Yue dengan cemas.
"Hmmm, apa yang kau lakukan ? Aku masih sangat mengantuk. " Ucap He Xun sambil tertidur dan tidak sadar dengan apa yang ia lakukan.
__ADS_1
"Tuan, bangun ! Ini telah hampir mencapai siang !" Panggil He Yue lagi dengan penuh penekanan.
He Yue menarik tangan He Xun dan mengguncang guncang tubuh Tuannya , tapi He Xun masih tidak bergerak dan tidur layaknya orang pingsan.
He Yue akhirnya menjadi putus asa setelah mencoba membangunkan Tuannya dengan berbagai cara selama lebih dari setengah jam.
Ini mungkin telah menyentuh jam 11 siang, He Yue mau tidak mau harus menempu jalan terakhir, jalan yang paling tidak ingin di ambil olehnya jika tidak terpaksa.
Tapi karena Tuannya tidak ingin bangun maka He Yue hanya memiliki satu jalan inilah yang bisa diandalkan.
He Yue kembali dengan satu ember penuh berisi air yang diambilnya dari sumur dan dengan pelan memercikkan air ke wajah Tuannya..
Tapi, He Xun hanya menggeliat kecil sebelum akhirnya kembali tidur, He Yue tidak tahan lagi dan menyiramkan semuanya sekaligus.
He Xun langsung terbangun dan meloncat lalu melakukan salah satu tahap dari gerakan bagian 1 manual pedang Pukulan Cakar Naga.
Ketika membuka matanya dengan sempurna, barulah He Xun melihat dengan jelas bahwa tidak ada musuh sama sekali.
Melainkan hanya ada He Yue yang membawa ember kosong, He Xun menatap He Yue dengan tatapan tajam dan meminta penjelasan.
"Tuan, aku telah mencoba untuk membangunkan mu dengan segala cara selama lebih dari setengah jam." Ucap He Yue dengan pasrah.
"Memangnya ada apa sampai sampai kamu ingin aku bangun pagi pagi ? " Tanya He Xun.
"Tuan, buka matamu dan lihatlah dengan jelas. Sekitar telah terang sepenuhnya dan matahari telah berada di puncaknya, ini telah siang !" Ucap He Yue dengan tidak tahan.
He Xun memandang sekitar dan menemukan bahwa apa yang dikatakan oleh He Yue tidaklah salah dan dalam waktu singkat, He Xun merasa malu.
"Kalau begitu maka aku akan mandi terlebih dahulu." Ucap He Xun mengalihkan wajahnya untuk menghindari rasa malu lagi.
He Xun langsung masuk ke dalam kamar mandi tapi menemukan bahwa dia belum mengisi bak mandinya, He Xun menepuk kepalanya dan membenamkan wajahnya di dalam telapak tangan karena terlalu malu.
"Sial, apa yang aku pikirkan sampai sampai begitu memalukan dan ceroboh ?" Keluh He Xun.
__ADS_1