
He Xun mengeluarkan pedang Naga Petir miliknya dan menatap sekelompok murid Sekte Naga Biru dengan tatapan dingin.
"Oh ? Siapa kamu ? Pahlawan kesiangan ? Ingin mencari wajah dan mencoba untuk melawan Sekte Naga Biru ? Benar benar orang yang tidak bisa mengukur kekuatannya sendiri !" Ejek pemimpin murid Sekte Naga Biru.
"Siapa namamu ?" Tanya He Xun.
"Deng Quan !" Ucap pria itu dengan garang dan mengeluarkan pedang besar miliknya.
Di pedang besar tersebut ada beberapa cincin besi yang terpasanh disana dan akan terus berbunyi setiap kali pedang yang memiliki berat lebih dari 100 kilogram itu diayunkan.
"Jika kamu memang benar benar berani maka kita akan bertarung di luar. " Ucap He Xun dengan tenang.
"Tentu saja, jika kamu menang dari ku satu lawan satu maka aku akan menyembahmu sebagai leluhur ku. " Ucap Deng Quan dengan sombong.
He Xun tertawa ringan dan mengepalkan tangannya, telapak tangan kanannya menggenggam erat gagang Pedang Naga Petir dengan penuh keyakinan.
Pedangnya mungkin bukan yang terbaik, tapi merupakan Pedang yang sangat cocok dengannya saat ini.
He Xun mendapatkan kepercayaan diri hanya dengan memegang Pedang ini, jadi He Xun sama sekali tidak ragu atas kemenangannya.
Keduanya melompat keluar dari kedai dan berdiri di tengah jalan dengan tatapan penuh aura permusuhan, seperti sepasang musuh bebuyutan.
"Jangan ingkari janjimu, aku akan menagih mu, cucuku !" Ucap He Xun mengejek.
"Hmph ! Rasakan Serangan Pedang Angin Topan milikku !" Teriak Deng Quan.
Deng Quan dengan Pedang Besar miliknya menerjang ke depan dan menyapu pasir, pasir mulai membentuk sebuah pusaran dan terus menjadi semakin besar.
Dengan Pedang Besar miliknya , Deng Quan membelah menjadi dua pusaran pasir itu sehingga pasir yang terbelah itu masuk dan menghantam wajah musuh.
Tapi, He Xun telah membaca serangannya jadi telah mundur sampai ke titik tertentu.
"Selanjutnya adalah aku ! Pukulan Cakar Naga !" He Xun tidak ingin kalah dan menerjang ke depan dengan tubuh bagian atas yang agak condong ke depan.
__ADS_1
Tubuhnya tidak menapak, dengan kedua ujung jari kaki yang menempel, hampir tampak seperti sedang melayang, tapi hal inilah yang membuktikan bahwa sebenarnya ilmu meringankan tubuhnya sangat baik.
Ketika membutuhkannya, maka He Xun tidak perlu menginjak tanah sepenuhnya untuk menyerang. Dengan tubuh yang condong ke depan akan membuat musuh kewalahan dan membuatnya lebih mudah untuk menyerang.
Karena pada saat ini He Xun sedang tidak ingin main main maka He Xun langsung mengincar titik vital milik Deng Quan.
Tapi, sayangnya Deng Quan tidak bodoh dan menepis pedang He Xun dengan Pedang Besarnya yang gagah.
He Xun berdiri dan terdorong mundur beberapa langkah, He Xun menatap Deng Quan dengan tenang dan tidak ada kepanikan di dalam matanya.
He Xun mendengus dengan sinis dan menyerang dengan kekuatan yang bertumpu pada pergelangan tangan kanan.
He Xun menghentakkan kakinya ke tanah yang membuat tanah bergetar dengan dramatis , tapi tidak cukup untuk membuat Deng Quan berhenti.
Deng Quan menerjang ke depan dan mengincar kepala He Xun, He Xun melindungi kepalanya dari Pedang Besar Deng Quan.
Keduanya bertarung dengan sengit, setiap detingan pedang terasa sangat seru dan akan membuat menyesal apabila terlewatkan.
Hanya saja, masing masing dari mereka memiliki kemampuan yang sama rata dan kecepatan mereka bukanlah sesuatu yang bisa dilihat oleh orang awam.
Bahkan dengan segala trik yang dia miliki, masih tidak mudah untuk mengalahkan Deng Quan yang jauh lebih kuat darinya.
Secara tidak sengaja, Pedang Naga Petir milik He Xun tergantung pada sisi sisi pedang yang tajam dan bersegi.
Keduanya saling menarik pedang satu sama lain lalu saling bertatapan satu sama lain dan saling memplototi dengan marah.
He Xun mengambil resiko dan meraih bilah pedang Naga Petir, tangannya berdarah dan He Xun menarik Pedangnya dengan sekuat tenaga.
Tringgg !
Pedang Besar milik Deng Quan jatuh dan He Xun menendang Pedang milik pria itu, tanpa Pedang besarnya, maka apa itu Deng Quan.
He Xun dengan cepat mengambil kesempatan ini untuk membalikkan situasi dan menekan Deng Quan sampai akhirnya pedang He Xun berada di leher Deng Quang yang sedang terduduk ke belakang.
__ADS_1
Atas kemenangan ini, He Xun merasa tidak bangga pada dirinya sendiri karena ini bukanlah sesuatu yang dia harapkan.
Yang dia harapkan adalah bertarung dengan sepenuh hati dan menggunakan segenao kekuatannya.
Tidak menyangka bahwa dia masih harus menggunakan otaknya untuk mengalahkan Deng Quan ini.
"Deng Quan, untuk selamat maka kamu harus tahu apa yang harus kamu lakukan bukan ?" Tanya He Xun dengan tenang dan menagih janji Deng Quan yang ingin memanggilnya sebagai leluhur.
Semua orang yang berada di sekitar mulai bersorak dan memberikan dukungan pada He Xun yang dirasa sebagai penyelamat mereka dadi Sekte Naga Biru.
Sekte Naga Biru sudah sejak lama membuat keriburan di Kota mereka, mulai dari merampas yang mereka atau merebut putri mereka, membuat semua orang putus asa.
Sementara Walikota mereka juga mendukung tindakan Sekte Naga Biru, tidak hanya Walikota melainkan Kaisar juga.
Karena Sekte Naga Biru adalah Sekte yang besar dan kekuatan mereka tidak bisa di abaikan tapi nyawa rakyat bisa di abaikan.
Deng Quan tampak menggeram dan merasa keberatan oleh hal ini, He Xun hanya berdiri di depan Deng Quan dengan tatapan kejam.
Ingin berusaha untuk menodai orang orang yang telah di bawa olehnya, Deng Quan ini benar benar tahu bagaimana cara mendobrak masuk ke dalam Neraka.
(Ada sebuah kata kata perumpamaan yang dikatakan bahwa "Neraka tidak memiliki pintu tapi kamu mendobrak masuk. ")
" Apakah cucu ini menolak untuk mengakui kakek nya ? Aku sangat sedih karena cucu ku tidak ingin mengakui ku sebagai kakek nya. Aku tidak tahu apa yang salah dengan diriku !" Teriak He Xun dengan suara lantang dan mengejek Deng Quan dengan terang terangan.
Semakin banyak orang yang datang dan mengerubungi mereka yang membuat Deng Quan merasa menjadi semakin malu.
"Lakukan ! Lakukan ! Lakukan !" Sorak para warga dengan semangat.
He Xun menatap ke arah Deng Quan yang penuh dengan keringat dingin.
"Tidak apa apa jika kamu tidak ingin melakukan nya maka jangan salahkan aku karena bolah pedang ku terlalu tajam. " Ucap He Xun dengan sinis.
"Kau tidak bisa membunuhku ! Aku adalah Murid Sekte Naga Biru !" Teriak Deng Quan.
__ADS_1
"Semakin kamu mengatakannya maka semakin bersemangat aku. Katakan padaku, pesan apa lagi yang kamu miliki ?" Tanya He Xun dengan mengolok olok.
Sebelumnya, yang menggunakan nada ini adalah Deng Quan dan sekarang situasi telah berubah 180° , siapa yang bisa menebaknya ?