Pesona Rumput Tetangga

Pesona Rumput Tetangga
Sebuah Nama


__ADS_3

'Lia akan segera kembali, setelah Ammar tidur, Mas," pamit Aulia sambil menggendong sang putra.


"Tidak perlu, kamu tidur saja di kamar Ammar!" balas Handoyo yang sudah berada di ambang batas kesadarannya karena rasa kantuk.


Laki-laki dewasa suami Aulia itu tak perduli, jika malam ini istrinya tidur di kamar sang putra karena dirinya juga sudah sangat mengantuk karena kelelahan.


Tentu saja Handoyo kelelahan dan tak butuh lagi sentuhan dari sang istri karena dia sudah mendapatkan kenikmatan dari kekasih gelapnya, setengah harian ini. Mulai dari siang, hingga menjelang malam.


Ya, Handoyo yang tak puas bercinta dengan Cynthia di kantor wanita seksi yang merupakan tetangga sebelah rumahnya tersebut, kemudian mengajak Cynthia untuk 𝘤𝘩𝘦𝘤𝘬-𝘪𝘯 ke penginapan.


"Kita cari kamar saja, yuk, Sayang. Aku masih belum puas," ajak Handoyo sambil beranjak dari atas tubuh sang kekasih yang berbaring di sofa sempit, tempat mereka berdua memadu kasih.


Cynthia mengangguk seraya tersenyum lebar. "Aku juga masih kangen, Mas," balasnya yang langsung ikut beranjak dan memunguti pakaian dalamnya yang tercecer sembarangan karena ulah liar Handoyo.


Mereka berdua kemudian segera berlalu menuju hotel yang terdekat dengan sekolahan, tempat Cynthia mengajar.


Laki-laki yang selalu berbicara ketus pada istrinya itu bahkan tidak merasa khawatir jika ada rekan kerja atau kenalannya yang memergoki mereka berdua. Sebab, hasrat telah mencapai ubun-ubun dan mendesak, meminta untuk dipuaskan. Hingga pasangan mesum tersebut tak lagi dapat berpikir secara logis.


Cynthia yang merasa tak puas dengan pelayanan sang suami pun, menyambut baik keinginan Handoyo yang kaya dan royal terhadap dirinya. Wanita itu bahkan mengesampingkan tugasnya sebagai seorang istri, sekaligus ibu dari seorang anak, demi kesenangan dan kepuasannya sendiri.


Hampir satu tahun mereka berdua menjalin hubungan intim, rapi dan tertutup rapat tersebut. Mereka berdua sangat menikmatinya dan tak ada keinginan sedikitpun untuk menyudahi semua.


"Ayo, Nda." Suara kecil Ammar yang merengek karena masih mengantuk, membuyarkan lamunan Handoyo.


"Cepatlah keluar, anakmu sungguh berisik!" ketus Handoyo, masih dengan mata terpejam.


Dahi Aulia berkerut dalam. "Mas Han kenapa, ya? Tidak biasanya dia membiarkan aku tidur di kamar Ammar?' batin Aulia, bertanya-tanya.

__ADS_1


Wanita muda itu menggeleng-gelengkan kepala, mengusir pikiran buruk yang tiba-tiba bersarang di kepala. Aulia kemudian segera berlalu meninggalkan kamarnya, untuk menuju kamar sang putra.


⭐⭐⭐


Satu hari telah berlalu, kini Aulia tengah bersiap untuk pergi ke acara reuni tanpa sang suami. Sebab, Handoyo telah berangkat untuk mengikuti Bintek yang diadakan kantornya kemarin sore.


Aulia dijemput oleh Luna, sahabatnya, yang diantarkan oleh sang suami.


"Lia, kita antar Ammar ke rumah mamaku dulu, ya. Tadi aku sudah bilang kok, sama adikku kalau kamu mau nitipin Ammar," ucap Luna.


"Beneran enggak apa-apa, Lun? Jujur, aku enggak enak, loh, kalau ngrepotin?" tanya Aulia, sungkan.


"Kamu kayak sama siapa saja, Lun. Udah, Ammar juga pasti suka. Sudah lama 'kan, Ammar enggak kamu ajak main ke rumah mama," balas Luna.


"Ammar mau 'kan, main sama nenek dan Aunty Ririn?" tanya Luna kemudian, seraya menatap putra dari sahabatnya.


Bunda, mau pelgi cama Mami Nuna, ya?" tanya Ammar.


"Iya, Sayang. Nanti, Ammar main sama Aunty Ririn ya? Ammar enggak boleh rewel," pesan Aulia sambil mengusap puncak kepala sang putra.


"Hole, Ammal kangen, deh, cama Onty Lilin," sambut Ammar dengan riang.


Aulia yang saat itu kuliah di ibukota propinsi dan jauh dari orang tua, memang sangat dekat dengan keluarga Luna. Sayang, jarak rumah sang suami dengan rumah orang tua Luna cukup jauh, sehingga wanita muda tersebut jarang bisa berkunjung ke sana. Jika sesekali dapat berkunjung, itu pun karena dijemput oleh Luna yang super sibuk.


"Lun, kenapa, sih, acaranya di daerah atas?" protes Aulia bertanya pada sang sahabat.


"Tau! Aku 'kan bukan panitia, Lia. Katanya, sih, nyari suasana yang adem biar otak bisa sedikit lebih fresh setelah selama ini berjibaku dengan realita kehidupan yang panas membara," balas Luna sekenanya, seraya terkekeh.

__ADS_1


Laki-laki berkulit putih bersih dan berhidung mancung yang duduk di belakang kemudi, sekilas melirik sang istri seraya tersenyum.


Sementara Aulia hanya bisa tersenyum masam. Sebab, benar adanya apa yang dikatakan oleh sahabatnya tersebut, bahwa realita kehidupan yang dia jalani saat ini, bisa dikatakan panas dan makan hati.


Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam, mereka tiba di kediaman orang tua Luna. Rumah yang berada di komplek perumahan yang cukup asri, dengan halaman yang luas.


Ammar yang sudah pernah diajak berkunjung, langsung berlarian masuk ke dalam rumah dua lantai tersebut sambil meneriakkan nama adiknya Luna.


Sebenarnya, Aulia masih betah dan ingin berlama-lama di sana. Namun, Luna sudah mengajak ibu muda dengan satu anak tersebut untuk berpamitan pada mama dan juga adik bungsu Luna, Ririn.


"Maaf ya, Ma. Kami harus buru-buru. Terimakasih banyak sebelumnya karena sudah merepotkan Mama dan Dik Ririn," pamit Aulia sambil mencium punggung tangan mamanya Luna.


"Tidak merepotkan sama sekali, Nak Lia. Mama malah senang kalau Ammar main ke sini, rumah jadi ramai," tutur wanita paruh baya tersebut.


"Ya, sudah. Kalian hati-hati, ya," pesannya kemudian seraya melambaikan tangan, yang diikuti oleh Ammar.


"Da-dah, Bunda!" seru Ammar.


Mobil yang dikendarai suami Luna, terus melaju menuju daerah atas tempat acara reuni diadakan. Untuk sesaat, tak ada yang berbicara dan hanya terdengar alunan musik dari audio mobil yang diputar oleh Ferdi, suami Luna.


"Lia, Lutfi juga hadir, loh," ucap Luna, sambil menoleh ke bangku belakang.


Deg ... Sebuah nama yang sudah sangat lama Aulia lupakan, kini tiba-tiba terdengar kembali di telinga ibu muda tersebut.


💖💖💖 bersambung ...


__ADS_1


__ADS_2