
Menjelang shubuh, Aulia membuka matanya dan sempat terkejut ketika ada tangan besar yang melingkar di atas perutnya.
Setelah menyadari bahwa tangan kekar dan terasa berat yang menindih perutnya adalah milik sang suami yang baru menikahinya kemarin sore, wanita cantik itu tersenyum dan perlahan menyingkirkan tangan Husain.
Dia pandangi wajah manis yang tidur dengan nyenyak di sampingnya, sebelum Aulia beranjak untuk mandi besar. Teringat kembali semua perlakuan lembut sang suami, yang membuatnya serasa terbang melayang ke awang-awang.
"Sayang, apa kamu sudah siap untuk memiliki anak dariku?" tanya Husain dengan tatapan penuh arti, ketika mereka berdua baru selesai menjalankan sholat isya' dan dilanjutkan dengan sholat sunnah di malam pertama mereka sah menjadi suami istri.
Aulia mengangguk, seraya tersenyum manis. "Semua yang ada padaku, milikmu, Mas," balasnya dengan suara lembut.
Husain kemudian mencium puncak kepala sang istri dengan penuh kasih, seraya mengucap do'a.
Selanjutnya kedua insan yang telah resmi menjadi suami istri tersebut sama-sama memberikan yang terbaik untuk pasangan.
Husain merasa sangat senang dan semakin bergairah ketika sang istri aktif tetapi tidak mendominasi. Tidak seperti mantan istrinya terdahulu yang sangat dominan, dimana Husain lebih banyak diam dan sama sekali tidak dianggap penting perannya.
Sementara Aulia sendiri juga sangat bahagia karena sang suami selalu memikirkan dan mementingkan dirinya. Tidak seperti sang mantan yang hanya memikirkan kesenangan dan kepuasannya semata, tanpa perduli dengan perasaan Aulia.
"Sayang, apa seperti ini nyaman?" tanya Husain ketika tengah menindih tubuh sang istri.
Aulia mengangguk seraya tersenyum. "Hem," balasnya hanya dengan gumaman karena Aulia tengah menikmati sentuhan dan penyatuan sang suami.
Hujan yang turun mulai bakda isya', semakin menambah syahdu suasana dan semakin menambah nikmat bagi pasangan pengantin baru yang hanya berdua saja di rumah yang cukup besar tersebut.
Setelah hampir satu jam berbincang dengan mesra dan saling bercumbu rayu, keduanya kemudian sama-sama mendapatkan pelepasan dengan sangat nikmat.
"Sayang, kamu sudah bangun?" tanya Husain ketika membuka mata dan mendapati wajah sang istri tengah menatap dirinya dengan intens.
Suara Husain membuyarkan lamunan Aulia. Pipi istri Husain tersebut merona merah karena merasa kepergok oleh sang suami.
"Em ... iya, Mas. Baru saja," balas Aulia, gugup.
"Lia dulu ya, yang mandi," pamit Aulia yang langsung beringsut karena tidak mau sang suami mengetahui bahwa dirinya sedang melamun, tetapi tangan Husain sigap mencegahnya.
"Kita mandi sama-sama saja, Sayang. Sebentar lagi shubuh, biar kita enggak telat," pinta Husain beralasan.
Aulia tersenyum dan mengangguk mengiyakan. Meski sebenarnya, tanpa harus mandi bareng pun mereka tidak akan tertinggal waktu shubuh yang memang pendek tersebut karena Aulia bisa mandi di kamar mandi belakang.
Demi menyenangkan sang suami yang bernilai ibadah tersebut, Aulia patuh dan mengikuti saja kemauan suaminya yang juga membuat dirinya ikut senang.
"Bisa jalan?" tanya Husain khawatir karena semalam dirinya meminta jatah hingga berkali-kali.
__ADS_1
Milik sang istri yang sempit serta menggigit layaknya seorang gadis, membuat Husain kecanduan dan ingin terus mendapatkan kenikmatan dari penyatuannya bersama Aulia.
"Bisa, Mas. Pelan-pelan," balas Aulia sambil melangkah perlahan menuju kamar mandi.
Husain yang tidak sabar melihat langkah tertatih sang istri, segera membopong tubuh ramping Aulia yang hanya mengenakan gaun tidur tipis dan membawanya ke dalam kamar mandi.
"Aw ... mas, tidak perlu digendong. Lia bisa jalan sendiri, Mas," jerit kecil Aulia yang protes karena tiba-tiba tubuhnya terasa melayang di udara.
Husain hanya tersenyum.
Selanjutnya mereka berdua mandi bersama. Mandi yang seharusnya hanya butuh waktu paling lama lima belas menit, menjadi setengah jam lebih karena Husain lagi-lagi meminta jatah.
Jika dulu ketika masih bersama sang mantan, Aulia hanya bisa pasrah ketika mantan suaminya meminta jatah, kini Aulia bukan hanya pasrah, tetapi ikut aktif menggoda balik sang suami, hingga permainan mereka berdua semakin menyenangkan.
Bukan hanya tubuh dan rambut mereka berdua yang basah, bahkan seluruh dinding kamar mandi ikut basah karena mereka bermain sambil bercanda ria layaknya pasangan remaja yang sedang dimabuk asmara.
"Sudah, Mas. Waktu shubuh hampir habis, kita bisa telat shubuhan nanti," tolak Aulia ketika Husain ingin melakukan penyatuan kembali.
"Baiklah, tapi nanti mas minta lagi, ya," tagih Husain.
"Enggak janji, Mas. Lia capek," balas Aulia sambil menggosok punggung sang suami dengan sabun mandi.
"Nanti selepas sholat mas pijit," ucap Husain seraya tersenyum. "Maafkan, Mas, ya," lanjutnya seraya berbalik dan kemudian mencium kening istrinya lembut.
Tepat tiga perempat jam, mandi basah itupun usai.
Waktu telah menunjukkan pukul lima pagi, mereka berdua segera menunaikan sholat shubuh yang sedikit terlambat tersebut.
⭐⭐⭐
Malam harinya. Bakda sholat maghrib dan setelah tadarus Al-Qur'an beberapa lembar, Aulia bergegas menuju dapur untuk menyiapkan makan malam.
Cekatan, tangan lembut Aulia meracik bumbu untuk membuat nasi goreng spesial ala Bunda Lia untuk Papa Husain tercinta.
Sebenarnya sang suami sudah melarang Aulia untuk memasak dan menawarkan agar membeli saja, tetapi Aulia kekeuh ingin memberikan pelayanan terbaik untuk suaminya.
"Tidak usah masak, Sayang. Kita delivery order saja," tawar Husain ketika Aulia bertanya pada sang suami mau makan apa.
"Tidak perlu, Mas. Lia pengin masakin suami sendiri, boleh, kan?" Aulia tersenyum manis, hingga membuat Husain akhirnya mengiyakan saja.
"Cuma buat nasi goreng, kok, Mas. Enggak akan ribet dan enggak lama," lanjutnya setengah memaksa.
__ADS_1
"Ya, sudah. Asal kamu jangan sampai kecapekan, sehingga malam ini tidak bisa memberikan servis pada mas seperti tadi malam," balas Husain seraya mengedipkan mata.
"Ish, si Mas ... kenapa enggak ada capeknya, sih?" Aulia mengerucutkan bibir.
"Capeknya kalah sama perasaan senang dan bahagia, Sayang," balas Husain.
Aulia tersenyum dan bersyukur dalam hati karena sang suami bahagia dengan pelayanan yang dia berikan.
'Lia janji, akan selalu memberikan yang terbaik untuk mas karena mas juga sudah memberikan yang terbaik untuk Lia,' bisiknya dalam hati.
"Kalau masak, jangan sambil melamun, Sayang." Suara Husain yang begitu dekat di telinga wanita cantik tersebut, mengejutkan Aulia yang sedang menghaluskan bumbu.
Tangan kekar Husain tiba-tiba saja telah melingkar di perut Aulia, membuat wanita cantik tersebut berdebar.
"Geli, Mas," protes Aulia. Wanita cantik tersebut khawatir, acara masaknya akan batal gara-gara sang suami meminta jatah.
"Mas tunggu saja di meja makan," lanjutnya mengusir sang suami dengan halus.
"Mas ingin menemani istri tercinta membuat makanan, masak enggak boleh," protes Husain yang langsung mengambil alih pekerjaan Aulia.
Tangan Husain terlihat luwes menghaluskan bumbu, hingga membuat Aulia tak sadar membuka mulutnya.
"Kenapa, Sayang?" tanya Husain melihat ke arah sang istri karena merasa ada yang memperhatikan.
"Mas luwes sekali." Dahi Aulia berkerut dalam.
"Mas sudah biasa melakukannya, Sayang. Dulu, hampir semua pekerjaan rumah, mas yang mengerjakan," terang Husain.
"Itu 'kan dulu, Mas. Sekarang, biarkan Lia yang melayani Mas," ucap Aulia yang kembali mengambil alih bumbu yang sudah halus tersebut.
"Karena Lia juga sudah terbiasa melakukan semuanya sendirian sambil momong Ammar," lanjutnya dengan raut wajah yang tiba-tiba sendu.
Wanita cantik tersebut teringat dengan perlakuan mantan suaminya yang tak pernah mau tau kerepotan Aulia dan tak pernah memperdulikan perasaannya.
Mendengar perkataan sang istri, Husain kembali memeluk Aulia yang hendak menumis bumbu.
"Mulai sekarang, kamu adalah ratu di rumah ini, Sayang. Aku takkan membiarkan kamu menyiapkan semuanya sendiri, kita akan melakukannya sama-sama," ucap Husain, membuat hati Aulia membuncah bahagia.
"Dan Lia juga tidak akan membiarkan Mas Husain melakukan pekerjaan rumah tanpa melibatkan Lia karena Mas adalah raja di rumah ini," balas Aulia yang kemudian memutar leher ke samping kanan, di mana sang suami menyandarkan dagu di bahu kanannya.
Husain tak menyia-nyiakan kesempatan tersebut, laki-laki berwajah manis itu langsung melahap bibir sang istri dan melu*matnya dengan lembut, sambil tangannya mematikan kompor yang baru saja dinyalakan oleh Aulia.
__ADS_1
Acara memasak itupun benar-benar batal, seperti kekhawatiran Aulia sebelumnya, dan yang terdengar kemudian adalah suara-suara seksi nan merdu yang keluar dari bibir mereka berdua, bukannya suara berisik dan memekakkan telinga yang berasal dari alat penggorengan.
💖💖💖 bersambung ...