Pesona Rumput Tetangga

Pesona Rumput Tetangga
Putri Bungsu Kesayangan Mama


__ADS_3

Wanita muda itu segera mengenakan hijab dan menyambar rantang di atas meja makan.


"Lia! Kenapa lama sekali? Dasar pemalas!"


"Astaghfirullahal'adzim ...." Mendengar suara teriakan ibu mertua dari ruang depan, Aulia segera berlari kecil ke arah sumber suara seraya mengucap istighfar, agar dirinya tidak ikut tersulut emosi.


"Maaf, Ma. Lauknya baru saja mau Lia antar," ucapnya dengan suara lembut.


"Papa sudah minta makan dari tadi, kenapa lama sekali!" hardik wanita tua tersebut dengan netra abu-abunya yang melotot tajam.


"Maaf, tadi Mas Han juga dadakan ngabarin Lia, Ma," balas Aulia apa adanya.


"Oh, jadi kamu menyalahkan suami kamu! Itu sama saja kamu menyalahkan mama, Lia!" bentak Bu Tarno.


Aulia hanya dapat menghela napas panjang, wanita itu menundukkan kepala dan tak ingin melayani kemarahan ibu mertuanya.


"Ya sudah, kamu bawa ke rumah dan suapin papa!" titahnya dengan angkuh.


"Maaf, Ma, tapi Ammar ...."


"Kamu menolaknya, Lia! Apa kamu mau menjadi menantu durhaka, hah? Percuma saja kamu berhijab, kalau kamu menentang dan tidak mematuhi orang tua!" Bu Tarno membalikkan badan, hendak berlalu.


"Bukan begitu, Ma. Ammar masih tidur di kamarnya," balas Aulia cepat.


"Ya sudah! Nanti kalau anakmu bangun, cepat ke rumah dan suapi papa! Tua bangka itu menanyakan kamu terus dari kemarin!" Wanita tua itu menoleh ke belakang sambil berbicara dengan ketus.


"Sini lauknya, biar mama yang bawa!" Dengan kasar, Bu Tarno mengambil rantang dari tangan sang menantu.

__ADS_1


Membuat Aulia terpaku di tempat. 'Astaghfirullahal'adzim, luaskan hati hamba, Ya Rabb,' do'nya penuh harap.


Netra Aulia berkaca-kaca, wanita muda itu teringat kembali bagaimana dulu sang ibu begitu menyanjung Handoyo dan keluarga suaminya tersebut.


"Han itu orangnya baik dan bertanggungjawab Lia, dia sama persis seperti papanya sewaktu masih muda," tutur sang ibu.


"Mbakyu Tarno juga orangnya baik, kamu pasti bakal menjadi menantu kesayangan di sana. Apalagi Mas Tarno sendiri sangat sayang 'kan, sama kamu sejak kamu masih kecil?" tanya sang ibu seraya menatap putri bungsunya tersebut dengan tatapan penuh harap, agar Aulia mau memenuhi keinginan ibunya untuk dijodohkan dengan putra dari sahabat baiknya.


Pak Tarno, ayah mertuanya itu memang sangat baik pada Aulia. Beliau yang selalu memberikan perhatian pada menantu sulungnya tersebut, di saat putranya tak pernah memberikan perhatian apalagi kasih sayang sebagai seorang suami pada Aulia.


Laki-laki tua itu pula yang membuat Aulia bertahan. Beliau sering memberikan uang jajan pada Aulia secara diam-diam, hingga wanita muda tersebut merasa sangat kehilangan sosok seorang ayah ketika dia mengetahui bahwa sang ayah mertua terkena stroke dan mengalami kelumpuhan semenjak dua tahun yang lalu.


"Nda." Suara kecil Ammar yang tiba-tiba sudah berada di belakang Aulia, mengurai lamunan wanita muda tersebut.


Buru-buru Aulia menyusut sisa air mata yang menggenang di pelupuk matanya dan kemudian membalikkan badan. "Putra bunda sudah bangun?" Ibu muda tersebut berlutut dan kemudian memeluk sang putra.


Ammar yang masih belum sadar sepenuhnya, mengangguk dan kemudian menggeleng dalam pelukan sang ibu, membuat Aulia mengerutkan dahi.


Wanita berhijab itu mengurai pelukan dan kemudian menatap sang putra dengan tatapan lembut. "Kenapa, Nak? Ada apa, hem?" tanya Aulia yang dapat menangkap ketakutan di netra bening milik Ammar.


"Ammal mau syusyu, Nda, tapi gak mau ke lumah eyang," balasnya jujur.


"Kenapa? Yang Kung lagi pengin main sama Ammar, lho?" bujuknya seraya tersenyum hangat.


Ammar kembali menggeleng. "Ammal tatut cama Yang Ti, Nda," balasnya. "Tadi, Yang Ti malah-malah 'kan?" Bibir bocah laki-laki itu mengerucut, memohon pengertian sang ibunda agar tidak pergi ke rumah neneknya yang galak.


Rupanya, Ammar terbangun karena mendengar suara Bu Tarno yang berbicara dengan nada yang selalu meninggi pada Aulia.

__ADS_1


Wanita muda itu mengusap puncak kepala sang putra. "Eyang Uti tidak marah-marah, Sayang. Eyang memang begitu kalau bicara," ucap Aulia. "Kita ke sana, ya? Kasihan Eyang Kakung kalau lama nungguin cucunya yang pintar ini," lanjutnya seraya mencubit gemas pipi sang putra.


Ammar kemudian mengangguk. "Main cama Yang Kung aja ya, Nda. Ammal gak mau ketemu cama Yang Ti," ucapnya sambil berjalan mengikuti langkah sang bunda menuju dapur.


Aulia hanya tersenyum. Ibu satu anak itu segera membuatkan susu untuk sang putra dan kemudian memberikan segelas susu coklat hangat pada Ammar, yang sudah duduk manis di meja makan.


"Bismillah dulu, Sayang," ucap Aulia mengingatkan sang putra dan kemudian menuntun Ammar untuk membaca basmallah.


Setelah Ammar menghabiskan segelas susunya, ibu dan anak kecil itu segera menuju kediaman Pak Tarno.


"Assalamu'alaikum," ucap salam Aulia yang diikuti oleh sang putra.


Tanpa menunggu suara salamnya dijawab, Aulia yang menuntun putranya bergegas masuk ke dalam rumah besar tersebut.


Dia langsung menuju meja makan, hendak menyiapkan makan siang untuk sang ayah mertua. Aulia melongo, ketika hanya mendapati semangkuk kecil sayur bayam dan satu telor balado di atas piring.


Gegas wanita muda itu menuju dapur. "Bi, kok sepi. Mama kemana?" tanya Aulia pada pembantu di rumah besar tersebut yang sedang makan siang sendirian.


"Eh, ada Mbak Lia." Bibi tersebut menyimpan piringnya yang berisi nasi dan sayur bayam, serta sambal dan telor dadar, di atas meja dapur.


Wanita itu kemudian berdiri, menyambut kedatangan menantu kesayangan majikan laki-lakinya.


"Nyonya pergi ke rumah Mbak Reka, Mbak. Mau mengantarkan lauk pesanan Mbak Reka, yang tadi dibuatkan sama Mbak Lia," balas wanita paruh baya tersebut, jujur.


'Astaghfirullah ... jadi, lauk yang tadi aku buat dengan susah payah, untuk putri bungsu kesayangan mama,' batin Aulia, geram.


💖💖💖 bersambung ...

__ADS_1



__ADS_2