Pesona Rumput Tetangga

Pesona Rumput Tetangga
Salam Untukmu, Dik


__ADS_3

Waktu terus berlalu. Aulia menjalani hari-harinya dengan penuh semangat dan keceriaan.


Tentu saja wajah wanita cantik itu selalu ceria dan senantiasa dihiasi senyuman karena Aulia dikelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya, dan menghormati putri angkat Pak Haji dan Bu Hajah yang disegani di komplek ruko tersebut.


"Mbak Lia, saya pesan nasi soto lima. Bisa minta tolong di antar ke ruko saya?" pinta salah seorang tetangga Pak Haji.


"Bisa, Mas. Nanti biar diantar sama Mbak Jum, ya," balas Aulia yang sedang repot melayani pembeli yang makan di warung miliknya.


"Baik, Mbak. Sama sate puyuh dan kerang sepiring, es tehnya juga lima. Saya tunggu di ruko ya, Mbak," pamit laki-laki yang seusia Handoyo, mantan suami Aulia, seraya tersenyum manis.


Aulia mengangguk seraya membalas senyum laki-laki tersebut dan kemudian melanjutkan aktifitasnya kembali, melayani para pembeli yang hendak makan siang di warung makan miliknya.


Sudah hampir empat bulan ini Aulia menjalankan warung makan, yang modalnya berasal dari penjualan perhiasan miliknya sendiri karena Aulia tak mau terus-terusan merepotkan Pak Haji dan sang istri. Pak Haji pun tak mau memaksa ketika Aulia bersikukuh ingin mandiri.


Dia tidak sendirian mengelola warung karena ada Mbak Jum yang membantu ibu muda tersebut, memasak dan melayani pembeli di warung.


Mbak Jum adalah istri dari Pak Dul, sopir taksi baik hati yang waktu itu menolong Aulia dan mengantarkan mantan istri Handoyo tersebut bersama putranya, ke ruko Pak Haji.


Ya, setelah melihat keseriusan Aulia dalam mengelola warung dan prospek bagus dari warung tersebut ke depan, Pak Haji kemudian memanggil Dul untuk kembali bekerja pada beliau.


Dul langsung menyanggupi karena bukan hanya dirinya yang dijanjikan pekerjaan bagus, yaitu mengelola bengkel serta cucian motor dan mobil milik mantan bosnya, tetapi istri Dul juga disuruh untuk membantu Aulia di warung.


Selain itu, keluarga kecil Dul juga diminta untuk tinggal di lantai dua ruko yang ditempati Aulia membuka usaha warung makan tersebut.


"Mbak Lia, saya mau nambah separuh, boleh?" tanya salah seorang karyawan Pak Haji yang makan siang di warung Aulia, malu-malu.


"Boleh, Mas. Jangan sungkan," balas Aulia yang langsung melayani pemuda tersebut.


Pemuda itu terus mengamati Aulia yang tengah meracik soto untuknya, dengan senyuman yang mengembang di bibir.


'Benar-benar calon istri idaman,' bisiknya dalam hati.


"Silakan, Mas." Suara ramah Aulia yang memberikan mangkuk nasi soto pada pemuda tersebut, mengurai lamunannya.


"Terimakasih, Mbak Lia," ucap pemuda hitam manis itu dengan sopan, kepada putri angkat dari bosnya.

__ADS_1


Para karyawan Pak Haji dan karyawan-karyawan lain, bahkan pemilik usaha di komplek ruko tersebut sangat senang dengan adanya warung makan milik Aulia. Selain rasa makanannya enak, penjualnya juga ramah dan cantik.


Meskipun demikian, mereka tak ada yang berani menggoda Aulia secara terang-terangan. Selain karena ibu satu anak tersebut putri angkat dari orang yang berpengaruh di komplek ruko, sikap Aulia yang santun membuat para lelaki merasa sungkan sendiri untuk menggoda janda cantik mantan istri Handoyo.


Mereka hanya bisa mengagumi Aulia dalam diam, kalaupun mereka saling bercerita dan memuji kecantikan ibu satu anak tersebut, tentu hal itu akan mereka lakukan di belakang Pak Haji.


"Dek Lia, ini uang pembayaran dari Mas Syamsul," ucap Mbak Jum ketika baru saja datang dari mengantarkan nasi soto, ke ruko paling ujung.


"Katanya, kembaliannya tidak usah, buat Ammar saja," lanjut Mbak Jum seraya tersenyum.


Wanita yang usianya terpaut delapan tahun dengan Aulia tersebut dapat menebak, bahwa Syamsul pemilik ruko di ujung sana, menaruh hati pada putra angkat Pak Haji.


"Duh, enggak bisa begitu, Mbak. Saya malah jadi enggak enak, kalau Mas Syamsul seperti itu. Tolong kasihkan kembaliannya ya, Mbak," pinta Aulia seraya mengambilkan uang kembalian untuk Syamsul dan kemudian memberikannya pada Mbak Jum.


"Nanti saya bilang bagaimana, Dek Lia?" tanya Mbak Jum, bingung.


"Bilang saja, saya tidak bisa menerima. Jika Mas Syamsul maksa, lain kali saya enggak mau melayani lagi," tegas Aulia.


Mbak Jum mengangguk, mengerti. Wanita dua anak itu kemudian segera berlalu untuk mengembalikan uang kembalian pada pemilik usaha sablon dan percetakan, Syamsul Hadi.


Sepeninggal Mbak Jum, Aulia termenung. Kebetulan, para karyawan yang tadi makan di warung, sudah bubar karena jam istirahat untuk makan siang, telah habis.


"Bunda!" seru Ammar yang baru saja datang ke warung, mengurai lamunan Aulia.


Bocah laki-laki itu datang bersama Bu Hajah yang tadi menemani Ammar tidur siang.


"Anak kesayangan Bunda sudah bangun, Nak?" tanya Aulia yang kemudian menghampiri sang putra yang sudah duduk dengan manis, di samping Bu Hajah.


"Ammar mau makan di sini katanya, Nak Lia. Tadi sudah ibu suruh untuk makan sayur bayam yang sudah kamu siapkan, tetapi dia menolak," terang Bu Hajah.


"Iya, tidak apa-apa, Bu. Pengin suasana lain, mungkin," balas Aulia seraya tersenyum hangat.


"Ammar mau maem nasi soto, Nak?" tawar Aulia kemudian, seraya mengusap puncak kepala sang putra dengan penuh kasih.


Bocah laki-laki tersebut, menganggukkan kepala dengan antusias. "Syama syate telul puyuh ya, Nda," pinta Ammar.

__ADS_1


Aulia tersenyum seraya mengangguk dan kemudian segera beranjak, untuk mengambilkan sang putra makanan seperti yang diinginkan bocah kecil tersebut.


"Ibu mau makan sekalian?" tanya Aulia dengan sedikit mengeraskan suara dari tempatnya meracik nasi soto.


"Tidak, Nak. Ibu tadi sudah makan masakan yang kamu siapkan," tolak Bu Hajah dengan halus.


"Bapak mau, Nak. Buatkan setengah porsi untuk bapak." Suara Pak Haji yang ikut menyusul ke warung, mengejutkan istrinya.


"Bapak, tadi 'kan sudah makan?" protes Bu Hajah seraya menoleh ke arah sumber suara.


"Bapak kangen sama nasi soto buatan Nak Lia, Bu," balas Pak Haji.


Ya, meskipun Aulia berjualan nasi soto, nasi pecel dan nasi rames, wanita muda tersebut tetap menyiapkan makanan spesial untuk kedua orang tua angkatnya.


Hanya sesekali saja, Aulia menyediakan lauk seperti yang ada di warung. Hal itu dia lakukan, agar kedua orang tua angkatnya tidak bosan dengan menu yang itu-itu saja.


"Lah, beberapa hari yang lalu 'kan sudah dikasih menu soto sama Nak Lia." Bu Hajah tetap melancarkan protes karena wanita paruh baya tersebut tidak ingin sang suami terlalu banyak mengkonsumsi makanan yang bersantan.


Ya, soto yang Aulia buat adalah soto kuah santan. Rasanya gurih dan sangat nikmat, apalagi jika dimakan bersama dengan sate kerang atau sate jeroan.


"Masak sudah kangen?" lanjut Bu Hajah, bertanya.


"Lho, kamu itu bagaimana, Bu. Walaupun setiap hari makan soto, tetapi kalau sotonya bikinan Nak Aulia, maka tidak ada kata bosan. Begitu yang dikatakan sama anak-anak di bengkel, rasanya mak nyus," balas Pak Haji seraya terkekeh, mengingat obrolan para karyawan yang mengomentari masakan Aulia yang tiada duanya.


Aulia tersenyum mendengar penuturan Pak Haji. "Alhamdulillah kalau mereka suka dengan masakan Lia, Pak," ucap Aulia seraya menyajikan soto untuk Pak Haji dan juga untuk sang putra.


"Eh, ada Pak Haji dan Bu Hajah," ucap Mbak Jum yang baru saja kembali dari ruko milik Syamsul.


"Sudah, Mbak?" tanya Aulia, memastikan.


Mbak Jum mengangguk. "Dia titip salam untukmu, Dik," balas istri Dul tersebut.


"Siapa, Jum?" tanya Pak Haji seraya menoleh ke arah Mbak Jum.


Aulia menatap wanita yang sudah dia anggap seperti kakaknya sendiri itu seraya menggeleng pelan, mengisyaratkan agar Mbak Jum tidak membuka mulutnya.

__ADS_1


💖💖💖 bersambung ...



__ADS_2