
"Nyonya pergi ke rumah Mbak Reka, Mbak. Mau mengantarkan lauk pesanan Mbak Reka, yang tadi dibuatkan sama Mbak Lia," balas wanita paruh baya tersebut, jujur.
'Astaghfirullah ... jadi, lauk yang tadi aku buat dengan susah payah, untuk putri bungsu kesayangan mama,' batin Aulia, geram.
'Keterlaluan sekali mereka, masak papa hanya dikasih satu butir telor! Aku ikhlas memasak lauk tadi, tapi untuk papa dan mama, bukan untuk anak manja itu! Mereka pikir, aku ini pembantu yang bisa disuruh-suruh seenaknya saja!' tangan Aulia mengepal sempurna, buku-buku jemarinya sampai terlihat memutih.
Reka adalah bungsu di keluarga Pak Tarno dan adik kandung Handoyo tersebut memang sangat menyukai masakan Aulia yang terkenal enak.
Aulia kemudian menghela napas panjang, sambil mengucap istighfar berkali-kali dalam hati, untuk meredakan emosinya.
"Ya, sudah, Bi. Bibi silahkan dilanjut makannya, saya mau menyuapi papa," pamit Aulia yang langsung meninggalkan dapur.
Wanita muda itu kemudian mengambilkan makanan untuk papa mertuanya dan segera membawa makanan tersebut ke kamar sang papa.
Di dalam kamar, nampak laki-laki berusia senja tersebut tengah asyik bercanda dengan cucu kesayangan, putra pertama dari Handoyo, satu-satunya anak laki-laki di keluarganya.
"Pa, makan dulu ya," ucap Aulia. Wanita itu menyalami papa mertuanya terlebih dahulu, sebelum kemudian dirinya duduk di bangku yang ada di dekat ranjang.
"Cini, Nda Bial Ammal aja," pinta Ammar yang ingin menyuapi sang kakek.
Aulia menggeleng. "Ammar belum bisa, Sayang. Ammar lihat bunda dulu, ya," tolak Aulia dengan halus, tak ingin melukai hati sang putra yang masih sangat sensitif.
Ammar duduk saja di samping Yang Kung, sambil pegang ini," Aulia memberikan dua lembar tissue yang sudah dilipat rapi kepada Ammar. "Nanti kalau mulut Eyang belepotan, Ammar yang ngelap, ya," lanjut ibu muda tersebut.
Ammar yang cerdas karena sang bunda selalu mengatakan kalau dia adalah anak pintar, anak sholeh, anak baik, ketika wanita muda itu membujuk putra kecilnya tersebut, yang sengaja diucapkan Aulia bukan semata-mata untuk bujukan, tetapi sekaligus terselip do'a di sana, mengangguk mengerti.
__ADS_1
Sementara Pak Tarno tersenyum, seraya mengusap puncak kepala sang cucu dengan tangan kirinya. Ya, tangan kiri laki-laki tua tersebut masih dapat bergerak, meski dengan susah payah. Sedangkan tangan kanannya sama sekali tidak dapat digerakkan.
Telaten, Aulia mulai menyuapi sang papa mertua. Sementara putra kecilnya, ikut sibuk mengelap mulut sang kakek yang makannya belepotan seperti anak kecil.
"Yang Kung jolok maemnya," celoteh Ammar yang membuat laki-laki berusia senja tersebut, terkekeh pelan.
"Sayang, enggak boleh bicara seperti itu, Nak." Lembut, Aulia mengingatkan sang putra.
Pak Tarno menggeleng seraya menatap menantu idamannya tersebut. "Ndak pa-pa," tuturnya terbata.
Ammar yang masih kecil dan selalu jujur mengatakan apa yang dia lihat, sama sekali tidak membuat kakeknya itu tersinggung ataupun marah.
Laki-laki tua tersebut malah senang dengan kehadiran Ammar yang hampir setiap hari diajak sang bunda untuk menemani sang kakek, jika pekerjaan rumah Aulia telah beres.
"Tinggal sesuap lagi, Pa. Habiskan, ya," bujuk Aulia ketika Pak Tarno menggeleng karena merasa sudah kenyang.
Pak Tarno mau tak mau membuka mulut seraya tersenyum. Sungguh pemandangan yang menyejukkan hati, bagi siapa saja yang melihat.
⭐⭐⭐
Malam hari di kediaman Handoyo. Suami dari Aulia tersebut baru saja pukang, ketika jam telah menunjukkan pukul delapan malam lebih. Tepat di saat Aulia baru saja keluar dari kamar sang putra, untuk menidurkan putranya yang sudah mengantuk.
Seperti biasa, Aulia menyambut kedatangan sang suami dengan senyuman hangat. Wanita muda itu segera meraih tangan sang suami dan mencium punggung tangan imamnya tesebut, dengan takdzim.
Aulia kemudian mengambil tas kantor dari tangan sang suami. "Mau mandi dulu, apa langsung makan, Mas?" tanya Aulia penuh perhatian.
__ADS_1
"Aku mau langsung istirahat saja, sudah mandi di kantor tadi. Aku juga sudah makan," balas Handoyo, dingin.
Aulia hanya bisa menghela napas panjang. Sebab, ada hal penting yang ingin dia tanyakan pada sang suami, mengenai struk belanja yang dia lihat tadi pagi.
Wanita muda itu kemudian mengekor langkah sang suami, masuk ke dalam kamar.
Aulia lantas menyiapkan baju ganti untuk sang suami dan membantu suaminya itu melepaskan sepatu dan pakaiannya.
"Lia pijat kakinya ya, Mas. Mas pasti capek," tawar Aulia, sesaat setelah Handoyo merebahkan diri di atas ranjang besar miliknya.
Tanpa menunggu persetujuan dari sang suami, wanita muda itu kemudian duduk di tepi ranjang dan mulai memijat kaki Handoyo.
"Enak enggak, Mas? Kurang keras atau cukupan?" tanya Aulia, membuka percakapan. Namun, Handoyo sama sekali tak merespon.
Melihat sikap dingin sang suami, Aulia mengurungkan niatnya untuk bertanya mengenai struk pembelanjaan lingerie di butik, yang harganya sungguh fantastis menurut Aulia tersebut.
Sebab, Aulia tidak ingin ada keributan di malam hari yang dapat membangunkan sang putra dan membuat putra kecilnya semakin takut pada sang ayah.
Sejenak, keheningan tercipta di kamar tidur yang luas tersebut. Handoyo memejamkan mata, tetapi Aulia tahu bahwa sang suami belum tidur. Sementara wanita muda itu, masih setia memijat kaki sang suami.
"Mas, tadi Luna telepon. Lusa, ada reuni angkatan dan Lia dapat undangan. Kita datang ya, Mas? Mas Han mau, kan, temani Lia?" pinta Aulia, mengurai keheningan.
"Kalau kamu mau membuka hijab, aku mau menemani kamu, Lia."
💖💖💖 bersambung ...
__ADS_1