
Aulia tercenung di depan almari pakaian yang barusan dia buka pintunya. Dia amati tumpukan pakaian yang tak seberapa banyak di dalam almari tersebut. Pakaian yang sebagain besar Aulia beli ketika masih gadis dulu.
"Aku pasti bisa, bismillah ...." Wanita muda tersebut mengambil tas ransel miliknya yang berukuran sedang dan mulai memasukkan satu persatu pakaiannya ke dalam tas ransel.
Tidak semua Aulia bawa, dia hanya membawa sebagian pakaian lamanya yang masih cukup pantas untuk dikenakan. Sementara daster yang kesemuanya Aulia beli ketika hamil Ammar dan sudah banyak yang robek di sana-sini serta warnanya telah memudar, dia tinggalkan begitu saja di dalam almari pakaian yang terbuat dari kayu jati berukir cantik.
'Sepertinya, cukup.' Aulia menghela napas panjang. Dia kemudian bergegas keluar seraya menyangklong tas ransel miliknya di bahu kanan, wanita muda itu lantas menuju kamar sang putra.
Di dalam kamar Ammar, setelah meletakkan tas tersebut di lantai, tepat di depan almari pakaian putranya, Aulia berlutut seraya menatap sang buah hati yang masih tidur dengan pulas.
'Maafkan bunda, Nak.' Air mata Aulia menggenang di kedua pelupuk mata, membuat pandangan ibu muda tersebut, menjadi kabur.
"Nda," Suara kecil Ammar yang tiba-tiba terbangun, mengejutkan Aulia dan wanita muda itu segera menyusut air matanya agar sang putra tidak mengetahui jika dirinya menangis.
"Sstt ... Ammar bobok lagi, ya. Tuh, lihat, Dik Yasmin juga masih bobok." Aulia kemudian duduk di tepi kasur sambil menepuk-nepuk pantat sang putra yang memang terlihat masih mengantuk.
Ammar sempat menoleh sekilas ke samping kanan, di mana ada Yasmin yang masih terlelap. Tak berapa lama, bocah laki-laki tersebut kembali terlelap dalam mimpinya.
Aulia bernapas dengan lega. Bergegas wanita berhijab itu bangkit dan kemudian menuju almari pakaian sang putra.
Dia melakukan hal yang sama pada baju-baju milik Ammar. Satu persatu pakaian sang putra yang masih muat dan pantas pakai, dia masukkan ke dalam tas ransel.
Aulia memasukkan pakaian Ammar dan menata sedemikian rupa, sehingga tas yang ukurannya tak seberapa besar tersebut, muat untuk pakaian miliknya dan baju-baju milik putranya.
"Alhamdulillah, semua sudah beres. Tinggal nunggu Mas Han dan meminta penjelasan darinya," gumam Aulia sambil merebahkan diri di samping tubuh kecil Ammar.
Lelah jiwa dan lelah raga, membuat Aulia tertidur dengan sendirinya seraya memeluk sang putra.
Waktu terus berlalu, matahari semakin merangkak naik hingga tepat berada di atas ubun-ubun.
Suara adzan dhuhur dari Masjid yang letaknya tak begitu jauh dari kediaman Handoyo, membuat Aulia terbangun dan membuka kedua kelompok matanya.
"Rupanya, aku tertidur cukup lama," gumam Aulia sambil menoleh ke kanan.
Wanita muda itu tersenyum ketika mendapati Yasmin ternyata sudah bangun dan sedang asyik memainkan baju Ammar. Dia tarik-tarik kaos Ammar sambil memanggil nama teman bermainnya tersebut. "Masy ... Masy, ngangung," ucapnya pelan dan tidak terdengar dengan jelas.
__ADS_1
"Yasmin sudah bangun, Sayang," sapa Aulia dengan tatapan lembut. Wanita cantik itu kemudian beringsut dan memegang dahi gadis kecil tersebut. "Alhamdulillah, sudah enggak sepanas tadi," gumamnya.
"Kita bangunin Mas Ammar, yuk!" Aulia kemudian mengangkat tubuh Yasmin yang masih lemah dan membawa gadis kecil itu ke pangkuannya. Aulia kemudian menepuk lembut pipi sang putra.
"Sayang, bangun, Nak. Nih, Yasmin sudah bangun," ucap Aulia pelan.
Sesaat kemudian, Ammar membuka mata dan bocah laki-laki itu tersenyum kala mendapati ada sang bunda yang sedang memangku Yasmin.
Ammar menggeliat sebentar dan kemudian berusaha untuk duduk dengan benar. "Nda, ayo kita maem bubul. Telus, Yasmin halus mimik obat bial cepet cembuh," pinta Ammar yang ingat bahwa dirinya tadi membantu sang bunda membuat bubur.
"Ayo, tapi Ammar cuci muka dulu, ya!" Aulia kemudian mendudukkan Yasmin kembali dan membantu sang putra untuk buang air kecil dan mencuci muka.
Setelah selesai membantu Ammar, wanita berhati lembut tersebut kemudian mengelap wajah Yasmin dengan tissue basah agar gadis kecil itu merasa lebih segar.
Aulia juga meraba diapers yang dipakai oleh putri semata wayang wanita yang telah berselingkuh dengan suaminya, untuk memastikan bahwa gadis kecil tersebut nyaman dengan popoknya.
"Ayo, kita ke meja makan, Sayang!" ajak Aulia pada sang putra. Wanita itu keluar dari kamar putranya seraya menggendong Yasmin dan menuntun putra kecilnya.
"Mas Ammar duduk di kursi sini, ya. Biar kursi Mas di tempati Dik Yasmin," suruh Aulia seraya menarik mundur kursi tersebut, agar sang putra duduk di sana.
Aulia kemudian mendudukkan Yasmin di kursi makan khusus anak-anak. "Kalian tunggu sebentar, ya. Bunda mau ambil bubur dulu di dapur," pesan Aulia yang kemudian berlalu menuju dapur.
Tak berapa lama, wanita muda tersebut telah kembali dengan dua mangkuk bubur di tangan. Aulia segera menghidangkan bubur di hadapan Yasmin dan Ammar.
"Ayo, Mas Ammar pimpin do'a dulu, Nak!" Aulia mengangkat kedua tangan dan kemudian menuntun sang putra membaca do'a sebelum makan.
Yasmin yang duduk di kursinya, ikut mengangkat kedua tangan seraya mulut mungilnya komat-kamit hendak menirukan ucapan Ammar.
"Ayo, kita makan!" ajak Ammar seraya menoleh ke arah Yasmin, setelah mereka selesai berdo'a.
Yasmin makan sambil dibantu oleh Aulia, sementara Ammar makan sendiri dengan lahap.
"Bubulnya enyak, Nda," ucap Ammar dengan mulut yang penuh makanan.
"Sayang, kalau lagi makan jangan bicara dulu." Aulia memperingatkan sang putra.
__ADS_1
Bocah laki-laki tersebut mengangguk, mengerti dan kemudian melanjutkan makannya kembali.
Usai menikmati makan bubur, Ammar kembali berdo'a sebagaimana yang diajarkan oleh sang bunda.
Aulia kemudian meminumkan obat penurun panas pada Yasmin dan dengan telaten mengelap mulut kecil Yasmin yang belepotan dengan tissue.
"Mas Ammar jagain Dik Yasmin, ya. Bunda mau sholat dulu," pinta Aulia seraya membawa Yasmin menuju ruang keluarga yang luas.
Ibu satu anak tersebut mendudukkan Yasmin di lantai yang beralaskan permadani. Aulia kemudian mendekatkan beberapa mainan milik Ammar yang sebagian besar adalah hadiah dari Luna, sahabat baiknya.
"Nah, kalian main di sini, saja. Jangan kemana-mana ya, Mas Ammar. Mas 'kan sudah besar, harus bisa jagain Yasmin." Sebelum meninggalkan kedua bocah tersebut, Aulia memastikan bahwa sang putra dapat menjaga Yasmin dengan baik.
Baru saja bundanya Ammar hendak menuju kamar utama, terdengar pintu rumahnya di ketuk dari luar. Aulia kemudian bergegas menuju pintu.
"Assalamu'alaikum, Dik Lia," sapa Husain begitu Aulia membuka pintu rumahnya.
"Wa'alaikumsalam, Mas," balas Aulia seraya tersenyum ramah. "Mau jemput Yasmin, ya?" tanya Aulia yang tak membutuhkan jawaban.
"Silahkan duduk dulu, Mas. Biar saya bawa Yasmin keluar." Aulia menunjuk bangku yang ada di teras rumahnya.
Husain masih terpaku di tempat, laki-laki tersebut mengerutkan dahi dengan dalam.
"Maaf, Mas. Saya tidak bisa mengijinkan Mas Husain masuk ke dalam karena Mas Han sedang tidak berada di rumah," terang Aulia yang mengerti kebingungan tetangganya tersebut.
Husain mengangguk seraya tersenyum paham. "Iya, Dik. Saya mengerti," balasnya.
"Ini, ada sedikit jajan buat Ammar," ucap Husain seraya menyodorkan sekantong jajanan kepada Aulia.
"Duh, Mas. Kenapa repot-repot segala?" Aulia merasa tak enak hati. "Terimakasih banyak, Mas. Saya ke dalam dulu." Aulia bergegas masuk ke dalam untuk membawa Yasmin pada sang ayah.
Husain tersenyum. Laki-laki dengan senyuman manis karena memiliki dua lesung pipi tersebut kemudian menuju bangku yang ditunjuk oleh sang tuan rumah, untuk menunggu putrinya.
'Andai aku memiliki istri sholehah nan lembut seperti Aulia, hidupku dan Yasmin pasti akan sangat bahagia.'
💖💖💖 bersambung ...
__ADS_1