
Hari yang sangat dinantikan oleh Husain pun tiba, tak sabar rasanya laki-laki yang memiliki dua lesung pipi itu menanti waktu, yang seolah begitu lama berlalu.
Dari pagi menuju siang, dirasakan Husain bagai semusim yang panjang, dan sore pun tak kunjung datang.
Laki-laki yang memiliki senyuman manis itu mondar-mandir, keluar masuk kamar seraya menatap jam di dinding yang seperti bergeming.
"Mas Husain, duduklah," saran Mas Dul yang bertugas menemani Husain di rumahnya.
"Saya lihat dari tadi, Mas Husain mondar-mandir tidak jelas. Apa tidak capek?" tanya Mas Dul, kemudian seraya tersenyum.
Husain membalasnya dengan senyuman pula dan kemudian mengikuti saran Mas Dul, ikut duduk di sofa ruang keluarga bersama suaminya Mbak Jum tersebut.
Mas Dul sendiri sedang rehat sebentar sambil menikmati kopi buatan sang istri, setelah menata ruang depan yang akan digunakan untuk acara akad nikah nanti.
"Mas Husain mau kopi? Biar sedikit tenang," tawar Mas Dul.
"Boleh-boleh," balas Husain yang memang merasa grogi menjelang pernikahannya.
"Bu, tolong buatkan kopi untuk Mas Husain!" seru Mas Dul pada Mbak Jum yang sedang berada di ruang makan bersama kedua anaknya, Yasmin, dan juga Bi Mus yang sedang menyiapkan makanan untuk para tamu nanti.
Keluarga kecil Mas Dul bersama Bi Mus memang diminta oleh Pak Haji agar membantu Husain di rumah calon suami Aulia tersebut karena Husain mengundang beberapa rekan kerja di acara akad nikahnya nanti sore.
"Kalau menikah dengan orang yang kita cintai, memang begitu, Mas. Senang, grogi, khawatir, bercampur menjadi satu," ucap Mas Dul, setelah beberapa saat mereka berdua hanya saling diam.
"Dulu, saya juga begitu, Mas. Grogi parah, bahkan saat ijab qabul sampai salah-salah," lanjutnya, tersenyum. Mengingat kenangan belasan tahun silam kala menikahi sang istri dan salah menyebutkan nama orang tua Mbak Jum.
"Hem, untung salah sebut nama bapakku. Coba kalau salah sebut namaku dan malah menyebutkan nama wanita lain, pasti aku langsung menolak menikah dengan kamu, Pak," sahut Mbak Jum yang datang sambil membawa secangkir kopi untuk Husain.
"Wah, kalau salah sebut nama calon istri sendiri, parah banget itu, Mbak. Tidak termaafkan," timpal Husain. "Bisa-bisa, bukan hanya ditolak tapi langsung ditendang dari meja akad," lanjutnya seraya terkekeh.
"Bener banget, Mas Husain. Langsung saya timpuk kepalanya biar sadar," timpal Mbak Jum.
"Tapi saya malah senang kalau ditimpuk Mas, karena timpukan istri saya timpukan sayang," balas Mas Dul sambil tersenyum dikulum.
"Mana ada timpukan sayang, Pak. Ada-ada saja kamu itu," protes Mbak Jum sambil tertawa.
Mereka bertiga pun kemudian tertawa bersama, mengurai sedikit rasa grogi yang mendera.
__ADS_1
Mbak Jum kemudian segera kembali ke ruang makan untuk melanjutkan aktifitasnya, menemani Bi Mus menyiapkan makanan. Menyisakan Husain dan Mas Dul yang masih asyik bercanda.
Keasyikan bercanda bersama Mas Dul, hingga membuat Husain melupakan kecemasannya menghadapi pernikahan yang kedua.
Mereka berdua masih melanjutkan obrolan, hingga kopi milik Husain telah habis dan hanya menyisakan ampas hitam yang mengendap di dasar cangkir
Tanpa terasa, waktu begitu cepat berlalu. Husain pun segera beranjak ketika menyadari, bahwa jam di dinding telah menunjukkan pukul tiga sore.
"Mas, sudah hampir ashar ternyata," ucap Husain. "Saya harus segera bersiap," lanjutnya yang bergegas menuju kamar.
"Yasmin biar diurus sama ibunya anak-anak, Mas," ucap Mas Dul, sebelum Husain menghilang di balik pintu.
"Terimakasih, Mas," balas Husain tanpa menoleh dan kemudian menutup pintu kamarnya rapat.
⭐⭐⭐
Di ruko milik Pak Haji. Aulia baru saja selesai dirias oleh seorang perias pengantin. Wanita muda itu terlihat semakin cantik dan manglingi.
Aulia mengenakan kebaya panjang berwarna putih yang dipadukan dengan hijab dengan warna senada, penampilan calon mempelai wanita itu dipermanis dengan sebuah mahkota kecil yang menghiasi kepalanya.
Kain jarik yang dia kenakan, bercorak batik cantik, batik sido mukti yang melambangkan harapan dan kemuliaan.
"Sudah, Bu," balas sang perias, mewakili Aulia.
Perias tersebut kemudian membantu Aulia untuk berdiri dan berjalan keluar dari kamarnya untuk bergabung bersama Bu Hajah dan Pak Haji, serta Ammar yang juga sudah bersiap.
Pakaian yang dikenakan Pak Haji dan sang istri, senada coraknya dengan kemeja batik yang dikenakan Ammar. Senada pula dengan gaun batik cantik, yang dibelikan untuk Yasmin.
"Bunda cantik syekali," puji Ammar seraya menatap sang bunda dengan netra berbinar. Senyuman lebar menghiasi wajah tampan anak laki-laki tersebut.
"Bundanya siapa dulu, dong?" goda Pak Haji.
"Ammal!" seru bocah tersebut seraya menghambur memeluk kaki sang ibunya, hingga membuat Aulia semakin kesulitan untuk berjalan.
"Ammar, jangan gitu, Nak. Bunda jadi tidak bisa berjalan, tuh," larang Bu Hajah seraya mengangkat tubuh Ammar.
"Sini, gendong belakang," tawar Pak Haji seraya berjongkok, memberikan punggungnya.
__ADS_1
"Hole, digendong Eyang Kakung!" seru Ammar dengan riang. Bocah laki-laki tersebut segera naik ke punggung Pak Haji.
Mereka semua segera menuruni anak tangga untuk menuju ke halaman ruko, dimana mobil Husain telah bersiap untuk mengantarkan sang calon mempelai wanita bersama keluarga, untuk menuju kediaman calon mempelai laki-laki.
Baru saja Aulia hendak masuk ke mobil, Syamsul terlihat berlari kecil menghampiri calon istri Husain tersebut.
"Dik Lia, tunggu!" seru pemuda pemilik usaha percetakan dan sablon, yang merupakan pelanggan setia warung makan Aulia.
"Iya, Mas Syamsul. Ada apa?" tanya Aulia yang menoleh ke arah Syamsul.
"Selamat ya, Dik. Maaf, saya tidak bisa datang ke sana. Nitip salam saja untuk Mas Husain," ucap Syamsul dengan tulus. "Dan ini, ada kado spesial untuk Dik Lia," lanjutnya seraya menyerahkan sebuah kado, dengan pita cantik yang menghiasi.
"Wah, Mas Syamsul kok repot-repot segala. Ini 'kan bukan pernikahan Lia yang pertama, Mas. Lia jadi malu," balas Aulia dengan wajah merona, membuat pipinya semakin terlihat menggemaskan.
'Duh, Dik, pipimu ... bikin gemas. Sayangnya, aku kalah cepat sama si Husain itu,' batin Syamsul yang mengira bahwa Husain gerak cepat dalam mendapatkan Aulia.
Dia tidak menyadari bahwa selama ini Pak Haji mengamati sikapnya terhadap Ammar dan menurut orang tua angkat Aulia tersebut, Syamsul kurang bisa menerima kehadiran Ammar.
"Terimakasih banyak lho, Mas. Nanti salamnya InsyaAllah Lia sampaikan pada Mas Husain." Suara Aulia, mengurai lamunan Syamsul.
"Kenapa tidak bisa datang, Mas?" tanya Pak Haji dengan sedikit mengeraskan suara karena laki-laki paruh baya tersebut sudah berada di dalam mobil milik Husain.
"Anu, Pak Haji. Saya, saya ...." Suara Syamsul menggantung di udara.
"Mas Syamsul sedang dalam keadaan layu sebelum berkembang, Pak Haji," sahut salah seorang rekan Syamsul yang juga merupakan salah satu pemilik ruko _tetangga Pak Haji_ yang juga sudah bersiap untuk ikut dalam rombongan mempelai wanita.
Aulia tersenyum tipis, wanita cantik itu merasa tidak enak hati pada Syamsul. Dia kemudian mengangguk pada Syamsul yang masih terus menatapnya dengan dalam.
"Hahaha ... seperti judul lagu saja ya, Mas. Layu sebelum berkembang," ucap Pak Haji seraya tertawa, membuat semua orang yang berada di halaman ruko tersebut ikut tertawa.
Sementara Syamsul hanya bisa tersenyum kecut, seraya mengusap tengkuknya yang tidak gatal.
💖💖💖 bersambung ...
Yang belum mampir dimari 👇
Mampir, yah 🥰
__ADS_1
Episodenya sudah banyak 😍