
Handoyo yang tengah dimabuk cinta, tidak mempermasalahkan apa yang dilakukan oleh Cynthia terhadap dirinya. Laki-laki itu melakukan apapun yang diminta sang istri, dengan senang hati.
Benar adanya. Jika engkau sudah menyukai seseorang, maka seburuk apapun keadaannya, di matamu akan tetap terlihat indah. Meskipun dia melakukan kesalahan yang banyak sekali pun, bagimu dia tetap yang paling benar, dan kamu memiliki banyak stok maaf untuknya.
Pun jika engkau membenci seseorang, maka sebaik apapun orang tersebut, di matamu dia tetaplah si buruk rupa, dan meskipun apa yang dilakukan adalah sebuah kebenaran, bagimu dia tetap melakukan kesalahan yang fatal.
Handoyo kembali menghampiri sang istri dengan membawakan syal yang diminta oleh istrinya tadi.
"Ayo, berangkat sekarang, Sayang!" ajak Handoyo sambil memeluk mesra pinggang Cynthia, keluar dari rumah megah menuju halaman.
"Bibi!" seru Cynthia sebelum wanita yang senantiasa bersolek tersebut, masuk ke dalam mobil sang suami.
"Ada apa lagi, Sayang? Apa ada yang tertinggal?" tanya Handoyo, dengan melembutkan suara sambil memegangi pintu mobil yang telah dia buka, untuk istri seksinya.
"Enggak ada, Mas. Aku cuma mau bicara sebentar sama dia," balas Cynthia seraya menunjuk bibi dengan dagunya, yang menghampiri sang majikan dengan tergopoh-gopoh.
"Bi, selama kami pergi, Bibi jangan boros-boros! Makan saja seadanya, masih ada mie instan dan kerupuk 'kan?" tegas Cynthia, bertanya.
Asisten yang berusia sekitar empat puluh tahun tersebut, mengangguk. "Baik, Nyonya."
Setelah memberikan pesan dan ceramah yang cukup panjang, Cynthia kemudian segera masuk ke dalam mobil dan duduk dengan nyaman di bangku depan.
Handoyo segera mengitari depan mobil, setelah menutupkan pintu di sisi kiri sang istri dan kemudian segera masuk untuk duduk di bangku belakang kemudi.
Mobil mahal yang dikemudian sendiri oleh Handoyo tersebut, melaju perlahan melewati pintu gerbang kediamannya yang tinggi menjulang. Meninggalkan asisten rumah tangga yang menyimpan kekesalan dalam hati.
"Sabar, sabar. Aku harus bertahan, paling tidak satu bulan agar gajiku utuh dan tidak ada potongan," gerutu asisten rumah tangga tersebut, seraya mengelus dada.
__ADS_1
Sesuai perjanjian di awal, Cynthia yang takut asisten rumah tangganya tidak akan betah bekerja di rumah megah milik Handoyo, mengingat sikapnya sendiri yang sering temparamen dan senantiasa tidak puas dengan hasil kerja orang lain, memang membuat sebuah kesepakatan.
Gaji asisten tersebut akan dibayarkan secara penuh jika asisten rumah tangga itu tetap bertahan, hingga minimal satu bulan. Namun, jika dia mengundurkan diri sebelum genap satu bulan, maka gajinya akan dipotong separuh.
⭐⭐⭐
Sementara di tempat lain, kehidupan Husain dan putrinya bisa dikatakan tenang meski laki-laki yang selalu tersenyum itu sedikit kerepotan karena harus bekerja sambil membawa sang buah hati.
Biasanya, sang putri akan diajak oleh papanya itu berkeliling, menyambangi toko-toko langganan yang biasa mengambil barang darinya, di seputar ibu kota provinsi tersebut.
"Mas Husain," panggil seseorang berseragam sama seperti Husain, tetapi penampilannya lebih klimis, ketika Husain baru saja tiba di kantor gudang pagi ini.
"Ya, Pak." Husain menoleh ke arah sumber suara.
"Kamu gantikan posisi Mas Tikno ya. Hari ini, dia ijin," titah laki-laki yang usianya di atas Husain tersebut.
"Baik, Pak," balas Husain yang terpaksa menyanggupi.
Meski kondisi Yasmin sedikit demam, tetapi demi dedikasi dan keberlangsungan pekerjaannya, laki-laki berwajah ganteng tersebut terpaksa menyanggupi permintaan dari supervisornya untuk keluar kota.
Ya, laki-laki tersebut tidak mengambil pengasuh setelah Yasmin hampir saja celaka karena kelalaian pengasuhnya yang kecanduan dengan game online di ponsel.
Awal dia memutuskan untuk pindah rumah dan mencari tempat tinggal yang lebih dekat dengan kantornya, Husain memang mempekerjakan seorang pengasuh untuk putrinya.
Pengasuh Yasmin yang baru bekerja tiga minggu tersebut langsung dia pecat dan semenjak itu, Husain tak lagi percaya jika meninggalkan Yasmin dengan orang lain, dan memilih membawa sang putri jika dirinya bekerja.
Beruntung, atasan tempat Husain bekerja orangnya baik dan bisa mengerti keadaan Husain. Ayah Yasmin tersebut bahkan dikasih dispensasi, dia dikasih lokasi di dalam kota dan wilayah kerja Husain yang tadinya diluar kota, digantikan oleh rekannya.
__ADS_1
"Pakai baju hangatnya ya, Nak. Nanti di dalam mobil, Yasmin bobok saja, biar kepalanya enggak pusing." Husain berbicara seolah sang putri mengerti apa yang dia katakan.
Husain segera menidurkan sang putri di bangku depan, di samping bangku kemudi. Ayah satu anak tersebut kemudian segera naik ke dalam mobil boks yang sudah penuh dengan barang yang akan disetorkan ke beberapa toko di luar kota.
Mobil boks yang dikemudikan Husain terus melaju, membelah jalanan beraspal yang cukup padat lalu lintasnya.
Husain menyetir sambil sesekali mengusap kaki sang putri yang ada di dekatnya, sambil mendendangkan sholawat seperti kebiasaannya jika sedang menidurkan Yasmin.
Setelah melaju selama lebih dari satu jam, mobil boks tersebut mulai berbelok dari satu toko ke toko lain dan Husain nampak sibuk menurunkan barang-barang yang diambil oleh pemilik toko, yang dia singgahi.
Sementara sang putri, tetap berada di dalam mobil selama ayahnya itu bekerja. Dibawah pengawasan netra sang ayah, yang terus saja memantau Yasmin sambil bekerja.
"Mas Husain, lama juga ya, tidak kelihatan," ucap salah seorang pelanggan Husain, ketika ayah Yasmin tersebut baru saja turun dari mobil, di toko yang kelima.
"Iya, Pak. Saya tukar posisi sama Tikno," balas Husain seraya tersenyum dan kemudian menyalami pemilik toko sparpart kendaraan bermotor, yang ramah itu.
"Kebetulan Tikno hari ini ijin, jadi saya yang menggantikannya kembali," lanjut Husain.
"Pantesan, lama enggak kemari. Bapak pikir, Mas Husain resign jadi sales," tutur laki-laki berpeci hitam tersebut seraya menepuk lengan Husain dengan hangat.
"Tidak, Pak. Mau saya kasih makan apa anak saya, kalau saya berhenti bekerja," canda Husain.
"Papa!" seru Yasmin dari dalam mobil yang jendelanya sengaja dibuka.
Husain sigap menghampiri sang putri dan kemudian menggendong Yasmin.
"Mas Husain, ngajak anak?" tanya pemilik toko ketika melihat Husain menggendong Yasmin dan membawanya mendekat ke arahnya, tatapan laki-laki paruh baya tersebut penuh rasa iba melihat wajah Yasmin yang nampak pucat dalam gendongan sang ayah.
__ADS_1
"Yasmin!" seru seorang bocah laki-laki, ketika Husain belum sempat menjawab pertanyaan pemilik toko, yang merupakan pelanggan lamanya.
💖💖💖 bersambung ...