
"Apapun alasannya, Lia! Seorang istri tetap dianggap bersalah dan tak becus menjadi istri yang baik, jika sampai diceraikan oleh suaminya!" sergah Ulfa.
"Cepat, pergi dari sini sebelum ibu tahu kedatanganmu dan para tetangga melihat kamu pulang!" usir Ulfa yang langsung menutup pintu dengan keras.
Aulia menyandarkan tubuh di pintu rumah orang tuanya, rumah yang seharusnya bisa menjadi tempat untuk seorang anak pulang ketika dia membutuhkan tempat untuk berlindung.
Jika saja dia sedang tidak menggendong Ammar, mungkin tubuhnya akan merosot ke lantai karena tenaganya seolah menghilang setelah mendengar sang kakak kandung begitu tega mengusirnya.
Sekuat tenaga, Aulia menguatkan langkah. Mengambil tas ransel dari atas meja dan kemudian menggendongnya di belakang.
Aulia membuka payung yang tadi dia bawa dari rumah dan kemudian melangkah lesu meninggalkan halaman rumah orang tuanya.
"Nda, kita bobok di mana?" Suara Ammar yang bertanya, membuat air mata wanita muda tersebut yang sedari tadi dia tahan, meluncur bebas laksana air hujan yang turun dari langit.
"Nanti kita cari penginapan, Sayang," balas Aulia sambil menghitung dalam hati, sisa uang yang dia bawa.
'Ya Allah, ampuni hamba jika saat ini hamba telat menunaikan panggilan-Mu,' bisik Aulia dalam hati.
Wanita cantik yang saat ini wajahnya sembab itu tak mau mampir ke masjid, yang mungkin saja akan membuat sang ibu malu seperti yang dikatakan kakak pertamanya.
Aulia kemudian mengucapkan niat untuk menjamak sholat maghrib dengan isya'. Dia tahu Allah tidak mau membebani hamba-Nya dan Allah pasti mengetahui kesulitannya saat ini.
Ibu satu anak yang nampak letih itu terus berjalan menyusuri jalan kampung, untuk menuju jalan raya yang jaraknya sekitar empat ratus meter.
'Ya Allah, kuatkan langkah hamba,' pinta Aulia ketika dirasa kakinya semakin lemah untuk melangkah.
"Nda, Ammal tulun saja, Nda. Bunda pasti capek," pinta bocah laki-laki yang berada dalam gendongan sang bunda, seolah dapat merasakan apa yang dirasakan oleh bundanya.
__ADS_1
"Tidak, Nak. Bunda kuat, kok," tolak Aulia ya tak ingin putranya jatuh sakit karena kakinya terkena air hujan.
"Lagi pula tinggal sedikit lagi, Nak. Tuh, di depan sana nanti kita naik angkot," lanjut Aulia.
Tepat ketika Aulia hampir sampai pertigaan, sebuah mobil taksi berhenti tepat di sisi kiri Aulia seraya membunyikan klakson.
Nampak jendela kaca depan dibuka dan terdengar suara yang dikenali oleh Aulia berteriak. "Mbak, silahkan naik!"
Awalnya, Aulia nampak ragu. Namun, sopir taksi yang tadi ditumpangi Aulia terus berteriak menyuruh wanita muda yang terlihat sangat kepayahan tersebut untuk naik ke dalam mobil taksinya.
Akhirnya, Aulia mau naik ke dalam taksi tersebut karena tak ingin putranya terkena angin malam terlalu lama. Apalagi, hujan yang turun sejak sore tadi, tak kunjung reda.
"Maaf, Mbak. Kenapa Mbak cuma sebentar di rumah orang tua, Mbak tadi?" tanya sopir taksi tersebut, setelah beberapa saat mobilnya melaju.
Bukan jawaban yang Aulia berikan, tetapi wanita muda itu malah terisak pelan.
"Jangan ditahan, Mbak. Silahkan keluarkan, jika itu dapat membuat hati Mbak sedikit lebih lega. Kalau Mbak masih merasa belum lega dan butuh teman untuk curhat, ada sajadah yang dapat Mbak jadikan sebagai tempat untuk curhat dan bersujud kepada-Nya, meminta agar Mbak diberikan kekuatan untuk dapat melalui semua ujian dari-Nya," saran sopir taksi tersebut, dengan sangat bijak.
Aulia terdiam, mendengar ceramah sopir taksi itu barusan. Perlahan, isaknya terhenti dan wanita muda tersebut mengangguk, membenarkan.
"Yakinlah, Mbak. Allah tidak akan membebani hamba-Nya melebihi batas kemampuan hamba tersebut dan yakinlah, di setiap ujian pasti ada kelulusan yang membahagiakan," lanjut sopir berseragam biru laut yang sesuai dengan warna cat dari armada yang dia bawa.
Hening, sejenak menyapa kabin mobil taksi yang membawa Aulia dan sang putra tanpa tujuan. Mobil taksi tersebut masih berputar-putar di sekitar kawasan tempat tinggal orang tua Aulia, tanpa wanita muda itu menyadarinya.
"Kemana tujuan Mbak sekarang?" tanya sopir taksi tersebut, setelah beberapa saat, mengurai keheningan.
Aulia menggeleng, seolah lawan bicara sedang melihatnya.
__ADS_1
Sopir taksi kemudian menoleh sekilas ke belakang, setelah beberapa saat tak mendengar jawaban Aulia.
Laki-laki matang berkumis tipis tersebut, menghela napas panjang. "Mbak, mau kembali ke kota atau ke mana?" tanyanya kembali.
"Jangan ke sana, Pak. Di seputar sini saja, tapi maaf, saya juga belum tahu mau ke mana?" Netra Aulia kembali berkaca-kaca, membayangkan bagaimana kehidupannya nanti bersama sang putra.
"Saya pengin cari kost-kostan yang murah, Pak, tapi malam-malam begini dan juga sedang hujan, pasti akan kesulitan," lanjut Aulia, pesimis.
Sopir taksi tersebut mengangguk-angguk. Dahinya berkerut, seolah berpikir keras untuk mencarikan solusi buat Aulia
"Maaf, Mbak. Kalau malam ini, Mbak ikut pulang ke rumah saya dulu, bagaimana? Besok, baru Mbak pikirkan kembali kemana tujuan Mbak," tawar sopir baik hati tersebut.
"Tidak, Pak. Saya enggak enak sama istri dan juga tetangga Bapak. Nanti mereka mikirnya macam-macam, kasihan perasaan istri Bapak," tolak Aulia dengan halus.
"Iya, Mbak benar juga. Mungkin istri saya bisa mengerti, tetapi tetangga yang julid terkadang mulutnya sangat pedas, melebihi pedasnya bon cabe level tertinggi," balas sopir taksi tersebut seraya terkekeh pelan.
Aulia ikut tersenyum, mendengar candaan sopir taksi yang baik hati itu.
"Maaf, Mbak. Saya ada mantan bos di pusat kota ini, bagaimana kalau Mbak saya kenalkan sama beliau? Mbak juga pasti butuh pekerjaan, kan?" tawar pak sopir.
"Boleh-boleh, Pak," balas Aulia, dengan antusias. Secercah harapan, terbit untuknya dan sang putra.
Laki-laki matang tersebut segera melajukan taksinya menuju pusat kota kecil yang saat ini nampak sedikit lengang karena hujan yang terus mengguyur.
Setengah jam kemudian, mobil taksi yang membawa Aulia dan sang putra, berbelok ke sebuah ruko dan berhenti tepat di depan ruko milik mantan bos sang sopir.
"Tunggu sebentar ya, Mbak. Saya pastikan dulu, apakah Pak Hajinya ada dan mau menerima karyawan baru atau tidak?"
__ADS_1
💖💖💖 bersambung ...