
Hari berganti, minggu pun berlalu. Husain mulai sibuk dengan aktifitasnya sebagai supervisor di kantor cabang baru, di kota tempat yang sama dengan Aulia tinggal.
Duda satu anak itupun mencari tempat tinggal di dekat komplek ruko milik Pak Haji, untuk memudahkan dirinya wara-wiri menitipkan Yasmin pada Aulia.
"Dik, aku berangkat dulu ya. Tolong jaga anak-anak," pamit Husain ketika mengantar Yasmin ke ruko.
"Iya, Mas. Lia pasti jaga mereka dengan baik," balas Aulia seraya tersenyum manis, untuk melepas sang calon suami pergi mencari nafkah.
"Mas Ammar, Dik Yasmin. Ayo, salim dulu sama Papa, Nak," suruh Aulia pada kedua bocah kecil tersebut sebelum mereka berdua masuk ke dalam ruko untuk mencari eyangnya
"Anak pintar," ucap Husain seraya mengusap puncak kepala Ammar dan Yasmin, bersamaan. "Jangan rewel, ya, Sayang. Jangan buat Bunda kecapekan," lanjutnya menasehati.
"Siap, Papa," balas Ammar yang kini telah memanggil Husain dengan sebutan papa, seperti permintaan papanya Yasmin tersebut.
"Sesibuk apapun, jangan lupa makan, ya," pesan Husain, setelah anak-anak masuk ke dalam ruko.
"Iya, Mas. Mas Husain jangan khawatir ... di sini banyak, kok, yang ngingetin Lia," balas wanita berhijab tersebut. "Mas yang jangan lupa makan, ya," lanjutnya mengingatkan.
Husain mengangguk seraya tersenyum. "Nanti telepon aku, ya. Ingatkan aku saat jam makan siang tiba," pinta Husain, mulai modus.
Aulia hanya bisa mengangguk, mengiyakan. Wanita cantik itu kemudian melambaikan tangan seraya menjawab salam dari Husain, sebelum calon suaminya itu masuk ke dalam mobil.
Ya, ketika mengetahui dirinya dipindahkan ke luar kota, Husain langsung menjual rumahnya di ibukota provinsi yang belum lama dia tempati berdua dengan sang putri, dan kemudian membeli rumah baru di kota kecil tempatnya bekerja saat ini.
Selisih harga yang cukup tinggi, membuat Husain memiliki sisa uang lebih yang kemudian dia gunakan untuk membeli mobil agar jika sudah menikah nanti, Husain bisa membawa keluarga kecilnya untuk pergi jalan-jalan beserta Pak Haji dan Bu Hajah yang sudah mereka anggap sebagai orang tua sendiri.
"Apa, Mas Husain sudah berangkat, Dik?" tanya Mbak Jum yang baru saja pulang dari pasar sehabis berbelanja kebutuhan warung dan mendapati Aulia masih berada di teras, sambil senyum-senyum.
"Sudah, Mbak. Baru saja," balas Aulia seraya menunjuk kemana arah perginya sang calon suami.
"Oh, pantesan," balas Mbak Jum seraya tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala.
"Pantesan kenapa, Mbak?" cecar Aulia.
"Aromanya masih tertinggal," balas Mbak Jum sekenanya, sambil berlalu masuk ke dalam warung karena barang belanjaannya sudah ditunggu sama Bi Mus, pembantu baru di warung Aulia.
Meninggalkan Aulia seorang diri seraya mengerutkan dahi, tak mengerti dengan perkataan Mbak Jum. 'Maksud Mbak Jum, apa, sih?'
__ADS_1
Husain-lah yang menyarankan agar Aulia mencari tambahan orang untuk membantunya di warung, agar calon istrinya itu memiliki banyak waktu untuk memperhatikan anak-anak.
Hubungan Husain dan Aulia memang semakin dekat, semenjak bundanya Ammar tersebut memutuskan untuk menerima lamaran dari papanya Yasmin kala itu, demi anak-anak mereka agar mendapatkan kasih sayang dari sebuah keluarga yang utuh.
Aulia berharap, Husain dapat menjadi ayah yang baik untuk Ammar, dan begitu pun sebaliknya. Husain juga berharap, Aulia dapat menjadi ibu untuk putrinya sekaligus menjadi pendamping hidup bagi duda satu anak tersebut
Meski Aulia sudah menerima lamaran dadakan Husain, tetapi laki-laki yang memiliki dua lesung pipi tersebut tak mau cepat-cepat menghalalkan sang wanita pujaan.
"Alhamdulillah, terimakasih sudah bersedia menerimaku, Dik," ucap Husain kala itu, dengan penuh rasa syukur.
"Alhamdulillah," timpal Pak Haji. "Lantas, kapan Mas Husain akan melamar Nak Lia secara resmi dan menikahinya?" lanjut Pak Haji, bertanya.
"Kalau untuk melamar, InsyaAllah secepatnya saya siap, Pak Haji. Itupun jika Dik Lia setuju," balas Husain seraya menatap Aulia.
"Tetapi untuk menikah, saya serahkan semua pada Dik Lia karena mungkin, Dik Lia butuh waktu untuk dapat menerima saya dan Yasmin, dan memulai membuka lembaran baru," lanjut Husain, bijak.
Husain ingin semua berjalan tanpa ada paksaan dan mengalir seperti air.
Dia ingin, Aulia benar-benar melupakan masa lalu rumah tangganya bersama mantan suami yang kelabu, dan perlahan membuka hati untuk Husain.
Bersama-sama, mereka berdua akan membuka lembaran kehidupan berumah tangga yang baru, jika waktu yang tepat telah tiba nanti.
Di tempat lain.
Kehidupan manis setelah pernikahan, kini tak lagi dirasakan oleh Cynthia dan Handoyo. Masing-masing telah mulai menunjukkan sifat aslinya.
Cynthia yang manja dan pemalas serta tak mau direpotkan dengan urusan rumah tangga, membuat Handoyo murka sehingga timbullah adu mulut di setiap harinya.
Begitu pula dengan Handoyo yang banyak menuntut, membuat Cynthia selalu membandingkan Handoyo dengan mantan suaminya yang menerima dia apa adanya.
"Kenapa seragamku belum disetrika, Cyn?" tanya Handoyo dengan nada tinggi.
"Setrika sendiri, Mas. Aku buru-buru, nanti telat kalau harus menyetrika seragam kamu," balas Cynthia sambil menyapukan make up di wajahnya.
"Kamu 'kan bisa bangun lebih pagi untuk menyiapkan semuanya, Cyn?" Netra Handoyo terlihat berkilat merah, penuh amarah.
Handoyo memang tidak pernah menyiapkan pakaian kerjanya sendiri karena semua sudah disiapkan oleh sang mantan istri ketika dia masih mandi dan kini, dia harus menyetrika sendiri pakaian seragamnya.
__ADS_1
Penuh kekesalan, terpaksa Handoyo menyetrika pakaian. Pekerjaan yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya.
"Lebih pagi bagaimana, Mas. Aku sudah terbiasa bangun jam enam, Mas, dan selama ini, baik-baik saja, gak ada masalah. Sekarang, kenapa kamu mempermasalahkannya, Mas?" balas Cynthia, balik bertanya dengan nada tak kalah ketus.
"Karena sekarang sudah tidak ada lagi pembantu di rumah ini, Cyn. Tidak ada yang mau lagi bekerja di rumah kita, setelah pembantu lama kita yang hanya bertahan satu bulan itu keluar, dan itu karena kamu!" Handoyo melotot tajam pada istrinya.
"Kenapa jadi aku yang mas salahkan?" Cynthia membalas tatapan sang suami karena tidak terima disalahkan.
"Sudahlah, Mas. Aku lelah berdebat denganmu!" Cynthia hendak berlalu, tetapi suara Handoyo mengurungkan langkahnya.
"Sarapan untukku, sudah kamu siapkan belum?" tanya Handoyo, dingin.
Cynthia menghela napas panjang. "Aku tidak bisa masak, Mas. Biasanya, Mas Husain yang menyiapkan semua untukku," balas Cynthia tak kalah dingin.
"Dia suami yang pengertian dan dia tidak cerewet seperti kamu!" lanjutnya yang segera berlalu meninggalkan kamar.
Meninggalkan Handoyo yang melongo tak percaya, dengan apa yang barusan dia dengar.
"Hah ... kenapa jadi begini?" Handoyo menyugar kasar rambutnya.
Bayangan Aulia yang memanggilnya dengan lembut agar Handoyo segera sarapan, terngiang dengan jelas di telinganya.
Laki-laki yang memiliki tatapan tajam itu kemudian berjalan menuju ruang makan dan berharap sudah ada yang meladeninya seperti biasa.
Langkah Handoyo terhenti di samping meja makan yang masih kosong dan dingin karena lama tak ada yang menyentuhnya.
Ya, karena selama beberapa hari ini, sepulang dari berbulan madu, mereka berdua selalu makan di luar atas permintaan Cynthia.
"Biasanya, putra kita sudah duduk manis di sini," gumam Handoyo seraya meraba kursi khusus balita, tempat di mana Ammar biasa duduk untuk makan.
"Dan kamu dengan cerewet akan memintaku untuk makan banyak, agar aku tidak jatuh sakit, Lia, tapi sekarang ...." Setetes air mata penyesalan jatuh, membasahi pipi laki-laki berahang tegas tersebut.
"Kenapa semua yang ada pada Cynthia, terlihat begitu indah sebelum kami bersama? Dan setelah aku berhasil mendapatkannya, dia tak lagi terlihat istimewa?" Tatapan Handoyo menerawang jauh dan tampak kosong.
"Kenapa justru keindahan yang sempat aku miliki, tak dapat aku lihat keberadaannya dan malah aku abaikan?" sesal Handoyo yang kini berniat untuk mencari keberadaan sang mantan istri dan putranya.
💖💖💖 bersambung ...
__ADS_1