Pesona Rumput Tetangga

Pesona Rumput Tetangga
Perhiasan Dunia


__ADS_3

Pagi yang cerah, hangatnya sinar mentari menerobos masuk melalui celah-celah tirai jendela kaca di kamar sang pengantin baru. Namun, kedua insan yang sama-sama lelah setelah kembali menyatu selepas sholat shubuh tadi, masih terbuai di alam mimpi.


Kicauan burung yang hinggap di ranting pohon dekat jendela, bagai nyanyian merdu yang semakin meninabobokkan pasangan pengantin baru tersebut.


Mereka berdua bahkan semakin merapatkan tubuh karena dinginnya udara yang keluar dari AC, yang sengaja disetel maksimal oleh Husain.


"Mau kemana, Sayang?" tanya Husain yang baru saja membuka mata ketika menyadari pergerakan sang istri.


"Lia mau bangun, Mas. Sudah hampir jam tujuh dan Lia belum menyiapkan sarapan," balas Aulia hendak beringsut.


Husain mencegah dengan menarik pinggang sang istri dan mengeratkan pelukan. "Aku masih ingin seperti ini dulu, Dik. Ini 'kan hari terakhirku cuti," pinta Husain yang kembali memejamkan mata.


"Besok-besok, kita tidak bisa lagi bermalas-malasan seperti ini. Apalagi, jika anak-anak, bapak dan ibu sudah tinggal di sini, Dik," lanjutnya yang terdengar memohon, hingga membuat Aulia menurut dan patuh demi menyenangkan sang suami.


Wanita cantik tersebut kemudian membalas pelukan sang suami. "Mas, boleh enggak Lia minta sesuatu?"


"Hem ... katakan saja, Sayang," balas Husain yang masih memejamkan mata.


"Lia tiba-tiba kangen sama sahabat Lia ...."


"Sahabat? Dia cewek apa cowok, Dik?" sergah Husain memotong perkataan sang istri. Laki-laki bermata teduh tersebut bahkan langsung beringsut dan mendudukkan diri dengan bersandar pada head board ranjang.


"Perempuan, Mas. Kenapa memang?" tanya Aulia yang ikut duduk di samping sang suami. Dahi wanita cantik tersebut bahan sampai berkerut dalam, tak mengerti dengan pertanyaan suaminya.


"Alhamdulillah ... aku pikir sahabat kamu laki-laki, Dik," balas Husain seraya tersenyum lega.


"Mas, ya enggak mungkin lah kalau sahabat Lia laki-laki, terus Lia bilang kalau Lia kangen sama dia. Yang ada, nanti bakalan ada perang dunia ketiga di rumah kita," balas Aulia, tersenyum lebar.


Aulia merasa sangat bahagia karena sepertinya sang suami cemburu, yang menandakan bahwa laki-laki berwajah manis di sampingnya benar-benar sayang dan cinta pada dirinya.


Husain terkekeh pelan dan kemudian mengacak lembut puncak kepala sang istri.


"Mas mau enggak, kalau nanti siang menemani Lia berkunjung ke rumah mamanya Luna," pinta Aulia seraya menyandarkan kepala di dada bidang sang suami.


"Oh, namanya Luna? Rumahnya di mana?" tanya Husain seraya membelai mesra pipi Aulia yang sedikit chabi dan menggemaskan

__ADS_1


Ya, berat badan Aulia naik tujuh kilogram semenjak berpisah dengan mantan suaminya dan itu membuat tubuh istri Husain tersebut terlihat lebih berisi dan montok.


Pipinya juga tak lagi tirus dan wajah wanita cantik tersebut kini semakin terlihat cantik dan bersinar, semenjak Aulia bisa kembali melakukan perawatan setelah memiliki uang sendiri.


"Di kota tempat kita tinggal dulu, Mas. Di daerah kota lama," balas Aulia.


"Boleh. Kita ajak anak-anak, ya. Sekalian liburan, mumpung aku belum masuk kerja," usul Husain.


"Serius, Mas mau ngajak mereka liburan?" tanya Aulia dengan netra berbinar.


Wanita cantik tersebut membayangkan betapa sang putra akan sangat bahagia jika mendengar bahwa dia dan Yasmin akan diajak liburan dan bermain bersama sang papa.


"Serius, Sayang. Kenapa?" tanya Husain.


"Lia senang sekali mendengarnya, Mas," balas Aulia seraya memeluk erat sang suami dan menyembunyikan wajah di dada suaminya yang berbulu.


Untuk sejenak Husain membiarkan saja sang istri memeluknya seperti ini. Dia dapat merasakan kebahagiaan Aulia, kebahagiaan yang mungkin tak pernah dirasakan sang istri ketika dulu masih menjadi tetangganya.


Aulia kemudian merubah posisinya. Sekarang wanita cantik tersebut menyandarkan kepala di bahu kiri sang suami.


Istri Husain tersebut kemudian menceritakan bagaimana dulu kehidupannya dan sang putra, ketika masih tinggal di rumah megah milik mantan suaminya.


Husain mendengarkan dengan seksama. Sesekali laki-laki yang memiliki dua lesung pipi tersebut, menghela napas panjang, seolah ikut merasakan tekanan batin yang dialami istrinya.


'Aku janji, Dik, akan selalu membahagiakan kamu dan anak-anak kita,' janji Husain pada dirinya sendiri.


"Lia berterimakasih pada Mas karena Mas Husain sudah menyayangi Ammar, layaknya putra kandung Mas sendiri, sehingga Ammar tidak akan kehilangan sosok ayah di masa kanak-kanaknya," pungkas Aulia.


Husain mengecup lembut puncak kepala sang istri dan sejenak keheningan tercipta di kamar yang cukup luas tersebut.


"Yasmin juga tidak seberuntung anak-anak yang lain, Dik. Itu makanya, aku senang sekali ketika dia dekat denganmu dan kamu juga sangat menyayanginya," ucap Husain mengurai keheningan.


"Kita akan sama-sama belajar agar bisa menjadi orang tua yang bijak untuk anak-anak. Kita juga harus selalu saling mendukung dan saling mengingatkan jika salah satu di antara kita mulai melenceng dari tujuan awal pernikahan," lanjut Husain.


Aulia kemudian mengangguk, mengiyakan.

__ADS_1


"Ayo, kita mandi! Sebaiknya kita berangkat lebih pagi, agar anak-anak lebih puas jalan-jalannya," ajak Husain.


Sepasang suami istri itupun kemudian mandi bersama seperti yang sudah-sudah, tetapi kali ini karena mereka akan segera pergi, tidak ada kegiatan lain selain benar-benar mandi.


Tidak butuh waktu lama, Husain dan Aulia pun telah bersiap untuk menjemput anak-anak di ruko.


Husain sengaja melarang sang istri menyiapkan sarapan karena mereka akan sekalian sarapan di warung makan milik Aulia, yang saat ini dikelola oleh Mbak Jum dengan dibantu Bi Mus.


"Sudah siap, Sayang?" tanya Husain yang baru masuk kembali ke dalam kamar, setelah menyimpan gelas bekas kopinya tadi bakda shubuh, di dapur.


Ya, Husain memang sudah terbiasa melakukan apapun sendiri dan tak ingin merepotkan sang istri, kecuali hanya sesekali jika dirinya sedang pengin bermanja-manja, dan hal itu yang membuat Aulia semakin hormat, cinta dan sayang pada suaminya.


Aulia benar-benar seperti ratu, di rumah suaminya yang baru. Tidak seperti dulu ketika masih bersama sang mantan, yang hanya dianggap seperti pelayan.


Imbal baliknya, Aulia pun melayani Husain layaknya seorang raja. Dia siapkan semua kebutuhan sang suami, hingga suami barunya itu merasa sangat dihargai. Tidak seperti dulu, ketika Husain melakukan semuanya sendiri, tanpa dihiraukan oleh sang mantan istri.


"Ayo! Kok malah melamun?" Husain menghampiri sang istri yang masih menatap bayangan sendiri dari pantulan cermin besar, di hadapan Aulia.


Melihat suaminya mendekat, Aulia langsung menubruk suaminya dan memeluk Husain dengan erat. Wanita cantik itu merasa sangat takut kehilangan sang suami, yang telah mampu mengobati duka laranya selama ini.


"Kenapa, Sayang? Hem?" tanya Husain, berbisik seraya mengusap punggung Aulia yang menyembunyikan wajah di dadanya.


"Terimakasih, Mas, terimakasih," balas Aulia penuh rasa syukur.


"Lia beruntung banget bisa bertemu dan menikah dengan Mas Husain," lanjutnya seraya mendongak, menatap netra teduh milik Husain yang selalu mampu membuat Aulia merasa nyaman.


"Mas juga sangat beruntung bisa memilikimu, Dik. Kamu adalah perhiasan dunia Mas, sekaligus calon bidadari syurga Mas,",ucap Husain dengan tatapan dalam.


"Tetaplah bertahan di sisiku, Sayang, meski apapun yang akan terjadi nanti," pinta Husain, sungguh-sungguh.


Laki-laki berlesung pipi itu kemudian melabuhkan ciuman di bibir sang istri, ciuman yang hangat dan penuh kasih.


💖💖💖 bersambung ...


__ADS_1


__ADS_2