
Andre yang juga mendengar pertanyaan Luna pada Lutfi, ikut menatap pemuda adik tingkatnya itu. "Benarkah, Lut? Jika memang Lia tidak bahagia, gas saja, Lut! Aku dukung kamu balikan sama dia!"
"Balikan?" Suara lembut seseorang, mengalihkan perhatian mereka bertiga.
Rupanya Aulia menyusul sang sahabat, sekaligus untuk menyapa Lutfi karena telah sekian lama mereka berdua tidak saling berkabar apalagi bertemu.
Mereka bertiga terdiam, tak ada yang mau membuka suara dan menjelaskan. Padahal Aulia sudah mendengar semuanya tadi, tetapi wanita satu anak tersebut berpura-pura tidak mengetahui apa-apa.
"Mau gabung ke sini, kok enggak ajak-ajak, sih, Lun," protes Aulia seraya cemberut.
"Kirain kamu masih mau ngobrol sama mereka, makanya aku tinggalin," balas Luna.
"Assalamu'alaikum, Lutfi, Mas Andre," sapa Aulia kemudian, dengan ramah.
"Wa'alaikumsalam," balas Andre, juga dengan senyumnya yang mengembang lebar.
Sementara Lutfi membalas salam Aulia dengan suara yang tercekat di tenggorokan. Pemuda tersebut masih terkejut dengan kehadiran wanita di masa lalunya yang tiba-tiba.
Pemuda tampan itu hanya mampu tersenyum seraya menatap dalam wanita yang namanya masih tersimpan rapi di hati.
"Dik Lia, apa kabar?" tanya Andre, kemudian.
"Alhamdulillah, Mas. Kabar baik," balas Aulia seraya menangkup kedua telapak tangan di depan dada.
"Mas Andre apa kabar? Nikah kok Lia enggak diundang?" tanya Aulia, protes.
Setelah mendengar bahwa Aulia hidup berbahagia dengan keluarga kecilnya, Andre memang memutuskan untuk membuka hatinya, dan setahun yang lalu, manager bank itu menikahi sang kekasih.
"Maaf, Lia. Luna bilang, saat itu kamu sedang repot dengan bayi kamu. Makanya enggak aku undang," balas Andre seperti yang dikatakan Luna saat itu.
"Lagipula aku enggak enak sama suami kamu yang katanya posesif, itu," imbuhnya.
Aulia mengerutkan dahi.
"Posesif?" tanya Lutfi, tanpa sadar.
"Iya, Lut. Wah, mas Han tuh parah posesifnya. Mungkin karena dia tahu Lia masih muda dan cantik banget kali, ya, makanya dia membatasi pergaulan Lia. Takut kehilangan istrinya, dia," terang Luna seraya terkekeh.
__ADS_1
Ya, selama ini Luna mengira bahwa Handoyo tidak memperbolehkan sang istri yang masih sangat muda tersebut menjalin hubungan dengan teman-teman lamanya karena khawatir jika Aulia akan berpaling dan meninggalkan laki-laki dewasa itu.
Mendengar penjelasan sang sahabat, wanita berhijab yang kali ini memakai pakaian terbaik miliknya, tersenyum masam. 'Sayangnya, tidak seperti itu kenyataannya, Lun,' batin Aulia, sedih.
Andre mengangguk-angguk. "Sudah sepantasnya kalau suami Dik Lia seperti itu. Kalau aku yang jadi suaminya, aku pasti juga bakalan melakukan hal yang sama. Bukankah begitu, Lut?" Andre menatap Lutfi yang sedari tadi diam saja.
Lutfi tersenyum samar. 'Benarkah, Lia? Jika memang benar suami kamu sangat mencintaimu, selamat ya, Lia. Aku turut berbahagia dengan kebahagiaan kamu,' batin Lutfi.
'Mungkinkah ini jawaban atas keragu-raguanku selama ini? Apakah memang sudah waktunya aku mulai membuka hati untuk calon yang dipilihkan mama?' Lutfi menghela napas panjang.
"Lia, aku belum cerita ya, kalau Lutfi belum lama ini bertunangan?" Luna menatap sahabatnya.
"Oh, ya?" Aulia menatap Lutfi seraya tersenyum.
"Selamat ya, Lutfi. Semoga dimudahkan segalanya hingga hari Ha nanti dan kalian berbahagia," ucap Aulia dengan tulus.
Lutfi tersenyum tipis. "Terimakasih, Lia," balasnya, singkat.
Terdengar nama Andre selaku tamu undangan khusus yang didaulat untuk mengisi acara, dipanggil oleh panitia.
Pemuda bertubuh jangkung itupun beranjak. "Maaf ya, semua. Aku tinggal dulu," pamit Andre.
"Ck ... Mas Andre, nih, kebiasaan! Kemana-mana selalu minta ditemani!" gerutu Luna, tetapi tetap beranjak.
Andre yang sudah sangat hafal dengan karakter Luna, terkekeh. "Dih, gayanya nolak, tapi mau," cibirnya.
Luna semakin mengerucutkan bibir.
"Dik Lia, tunggu di sini, ya. Nanti kami segera kembali," pesan Andre, mengabaikan Luna yang masih cemberut.
Manager dan anak buahnya itu segera berlalu, meninggalkan Aulia dan Lutfi hanya berdua.
Sejenak, keheningan tercipta di meja tersebut. Keduanya sama-sama terlihat canggung.
"Lia, boleh aku bertanya sesuatu?" Suara bariton Andre memecah keheningan.
Aulia yang tadinya menatap ke arah lain, mengalihkan pandangan dan kemudian menatap Lutfi, matan cinta pertamanya. "Iya," balasnya singkat.
__ADS_1
"Aku harap kamu menjawabnya dengan jujur, Lia. Agar aku merasa tenang," harap Lutfi.
Aulia mengangguk. "InsyaAllah."
Pemuda berkulit putih tersebut menatap Aulia dengan tatapan dalam, seolah hendak mencari kejujuran di kedalaman netra wanita istimewa tersebut.
"Apakah benar kamu bahagia dengan pernikahan kamu, Lia?" tanya Lutfi, membuat Aulia mengerutkan dahi.
"Jika kamu tidak bahagia, aku mau kita bisa bersama seperti janjiku dulu, Lia," lanjutnya, meyakinkan.
Aulia menggeleng-gelengkan kepala. "Semua tak lagi sama seperti dulu, Lutfi. Kamu juga sudah memiliki tunangan, kan? Lupakan janji kamu dulu, Lut," balas Aulia.
"Aku harap, kamu berbahagia dengan tunangan kamu dan kalian dapat menjalani pernikahan yang sakinah," tambahnya.
Wanita cantik yang berpenampilan sederhana dan hanya memakai lipbalm di bibir itu kemudian tersenyum. "Alhamdulillah, Lut, aku bahagia. Sangat bahagia bersama anak kami," lanjutnya, yakin.
Tidak, Aulia sedang tidak berbohong karena benar kenyataannya bahwa dia memang sangat bahagia bersama sang putra dan bukan dengan suaminya.
"Kamu tidak sedang berbohong 'kan, Lia?" tanya Lutfi, memastikan. "Jika kamu bahagia, aku juga turut bahagia, Lia," imbuhnya seraya tersenyum.
Hati Aulia mencelos mendengar pengakuan pemuda yang dulu selalu ada untuknya tesebut. Pemuda yang masih saja perduli, meski Aulia telah meninggalkan Lutfi.
'Andai saja kamu belum memiliki tunangan, Lut, mungkin saja aku akan mempertimbangkan permintaan kamu.'
Netra Aulia berkaca-kaca, buru-buru dia mengalihkan pandangan agar Lutfi tak melihat air mata yang menggenang di pelupuk matanya.
"Lut, acara sudah mulai. Aku ke sana dulu, ya," pamit Aulia yang segera beranjak.
"Bahagia selalu, Lia," ucap Lutfi sebelum wanita cantik itu berlalu.
Aulia membalasnya dengan senyuman dan kemudian melambaikan tangan pada Lutfi.
Wanita muda dengan satu anak yang hatinya sedang gundah tersebut tak langsung bergabung dengan teman-temannya, tetapi dia berjalan menuju cafe yang ada di hotel tersebut untuk menenangkan diri sebentar.
Aulia memesan kopi dan kemudian memilih tempat duduk yang agak tersembunyi. Baru saja wanita cantik itu mendudukkan diri, Aulia mendengar suara yang tak asing sedang bercanda tak jauh dari tempatnya duduk.
"Ah, Mas ... jahil banget, sih! Sabar bentar, dong. Lanjut nanti, di kamar saja."
__ADS_1
💖💖💖 bersambung ...