
"Sejauh mana, hubungan mas sama Mbak Cynthia?" Aulia menatap tajam sang suami.
"Maksud kamu apa, Lia? Jangan menyebar fitnah tanpa ada bukti! Bagaimana jika sampai suami Tia mendengar, pasti akan jadi salah paham, kan?" Suara Handoyo langsung meninggi.
Suara tinggi Handoyo, membuat Ammar yang mendengar ucapan sang ayah yang seperti memarahi bundanya tersebut, langsung keluar dari kamar untuk memastikan bahwa sang bunda baik-baik saja.
"Nda," panggil Ammar, mendekati sang bunda. Bocah kecil tersebut kemudian memeluk bundanya dan menyembunyikan wajah di dada Aulia.
Handoyo menatap sinis ke arah istri dan putranya, membuat hati Aulia semakin sakit.
"Ammar main dulu di kamar ya, Nak," bujuk Aulia seraya beringsut. Wanita muda itu kemudian beranjak sambil mengangkat tubuh sang putra.
"Tunggu sebentar, Mas. Lia bawa Ammar ke kamar dulu," pamitnya sambil berlalu menuju kamar sang putra.
Dahi Handoyo berkerut dalam. 'Darimana dia tahu, ya?' batin suami Aulia tersebut, bertanya-tanya dalam hati.
Tak berapa lama, Aulia telah kembali dengan membawa ponsel di tangan.
"Aku tidak menyebar fitnah, Mas. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, tadi di hotel di daerah atas," terang Aulia setelah dirinya duduk kembali.
"Orang yang mirip kali?" Handoyo masih berusaha untuk mengelak. "Lagian, ngapain kamu ke daerah sana? Atau jangan-jangan, kamu main api di belakangku!" Suami Aulia tersebut berbalik menuduh.
"Mas bilang, jangan menyebar fitnah. Kenapa Mas malah menuduhku tanpa bukti?" Aulia menatap tajam sang suami, seraya tersenyum sinis.
"Mas lupa, hari ini aku ada reuni di sana? Dan Mas juga sudah kasih ijin ke aku, kan?" tanya Aulia, kemudian.
"Aku datang ke sana bersama Luna dan suaminya, Mas. Dan aku juga memiliki bukti kemesraan Mas dengan Mbak Cynthia!" Aulia menyodorkan ponsel butut miliknya, yang baru saja dia putar hasil rekamannya tadi ketika di kafe.
Handoyo yang belum melihat video rekaman dirinya dan Cynthia, masih bersikap sinis pada Aulia. Namun, sedetik kemudian keangkuhan di wajah laki-laki tersebut, sirna dan berganti dengan kemarahan.
__ADS_1
"Kurang ajar!" Entah umpatan itu dia tujukan pada siapa, yang jelas Handoyo sangat marah dan kemudian melempar dengan sekuat tenaga ponsel milik sang istri ke arah dinding tembok, hingga menimbulkan suara yang sangat keras.
"Mas." Netra Aulia berkaca-kaca menyaksikan ponselnya telah hancur lebur seperti hatinya saat ini.
"Nda." Suara Ammar dari ambang pintu, membuat Aulia langsung menoleh ke arah sumber suara.
Wanita cantik itu langsung menghambur ke arah sang putra yang sudah berurai air mata tanpa bersuara, mendengar suara ponsel yang membentur dinding. Aulia mendekap erat tubuh mungil Ammar yang bergetar.
Ammar tumbuh menjadi anak yang sangat sensitif terhadap sikap sang ayah. Hal tersebut dikarenakan Handoyo sendiri yang sering menunjukkan kemarahan dan kekasarannya terhadap sang istri, di hadapan anak kecil tersebut.
Meskipun Aulia sudah sering mengatakan pada sang putra bahwa ayahnya itu menyayangi mereka berdua, tetapi dalam jiwa Ammar telah terpatri bahwa sang ayah adalah ayah yang galak dan tidak sayang pada dirinya dan juga pada sang bunda.
"Tenang ya, Nak. Bunda tidak apa-apa, kok. Ayah tidak marah sama bunda, ayah hanya sedang lelah," bisik Aulia, menahan rasa sakit melihat sang putra seperti ini.
Setelah Ammar cukup tenang, Aulia kembali membawa putranya masuk ke dalam kamar. "Tunggu di sini dulu, ya. Bunda cuma sebentar," pamitnya seraya mencium pipi sang putra.
Bocah laki-laki itu mengangguk, patuh.
"Setelah mengetahui semuanya, apa maumu sekarang?" Handoyo menatap sinis sang istri.
Aulia yang baru saja mendudukkan diri di tempatnya tadi, menghela napas panjang. Wanita berhijab itu sejenak memejamkan mata. 'Bismillah, Lia. Ini demi kebaikan putramu,' bisiknya dalam hati, membulatkan tekad.
"Aku ingin, kita pisah!" balas Aulia dengan penuh penekanan pada kata terakhir. Wanita cantik itu menatap sang suami, tanpa berkedip. Ingin mengetahui bagaimana reaksi Handoyo, mendengar tuntutannya.
"Apa kamu yakin, bisa hidup layak di luar sana?" cibir Handoyo, bertanya.
Aulia menekan rasa sakit di dada, mendengar pertanyaan sang suami. "InsyaAllah, Mas. Ada Allah, Sang Maha pemberi hidup," balas Aulia, yakin.
"Aku tidak akan memberikan uang sepeserpun karena kamu yang menginginkan perpisahan ini, Lia!" ancam Handoyo. "Pikirkanlah kembali!" lanjutnya seraya beranjak.
__ADS_1
"Aku tidak butuh uangmu, Mas!" seru Aulia yang ikut beranjak. "Aku akan segera pergi, tanpa membawa apapun dari rumahmu!" lanjutnya.
Handoyo berbalik dan menatap dingin sang istri. "Termasuk mas kawin yang dulu aku berikan! Kamu tidak boleh membawanya!"
"Dan ingat, Lia! Aku tidak akan pernah perduli dengan Ammar dan tidak akan membiayai hidupnya, jika kamu membawanya pergi dari sini!" ancam Handoyo.
"Ammar anakku, aku yang mengandung dan melahirkan, serta mengurusnya seorang diri! Dan akulah yang akan bertanggung jawab sepenuhnya pada kehidupan putraku!" tegas Aulia.
"Dan untuk mas kawin, itu sudah menjadi hakku, Mas! Kamu tidak memiliki hak apa-apa lagi, setelah kamu memberikannya saat ijab qabul terucap!" lanjut Aulia dengan tatapan penuh kebencian pada laki-laki yang tidak tahu diri seperti Handoyo.
"Tetapi jika kamu mengemis seperti ini, dengan ikhlas aku akan memberikan mas kawin itu padamu, Mas!" Aulia segera berlalu menuju kamar sang putra.
"Sebentar ya, Nak. Bentar lagi urusan bunda selesai," ucap Aulia, sambil mengusap puncak kepala Ammar dengan lembut.
Wanita muda dengan satu anak tersebut kemudian membongkar tas ransel miliknya dan mengambil kotak kecil yang berisi mas kawin.
Dia buka kotak tersebut dan mengambil salah satu gelang serta kalung miliknya asli, pemberian dari sang ibu ketika masih gadis dulu dan menyimpan kembali ke dalam tas.
Setelah memastikan ranselnya kembali tertutup dengan rapi, Aulia bergegas keluar sambil membawa kotak perhiasan berbentuk hati berwarna merah.
"Cek dulu isinya, agar Mas percaya bahwa isinya masih utuh," pinta Aulia sambil menyimpan kotak kecil tersebut di atas meja.
"Tidak perlu!' jawab Handoyo, ketus.
Aulia membuang kasar napasnya. Tanpa kata, wanita muda tersebut kemudian berlalu kembali ke kamar sang putra.
Tak berapa lama, Aulia keluar dari kamar Ammar sambil menyangklong tas hitam kecil dan menggendong tas ransel di punggung. Wanita muda itu berjalan seraya menuntun sang putra.
"Ayo, Ammar salim dulu sama ayah!" pinta Aulia yang tidak ingin menanamkan kebencian di hati sang putra terhadap ayah kandungnya.
__ADS_1
"Tidak perlu! Aku bukan ayah kandungnya, kan?"
💖💖💖 bersambung ...