Pesona Rumput Tetangga

Pesona Rumput Tetangga
Wajah yang Terlihat Sangat Menyedihkan


__ADS_3

"Ayo, Ammar salim dulu sama ayah!" pinta Aulia yang tidak ingin menanamkan kebencian di hati sang putra terhadap ayah kandungnya.


"Tidak perlu! Aku bukan ayah kandungnya, kan?" Handoyo menatap sinis Aulia. Bibirnya terangkat sedikit dan menyunggingkan senyuman licik.


"Astaghfirullah, Mas ... bicara apa, kamu!"


Handoyo mengangkat tangan kanan, mengisyaratkan agar Aulia tidak melanjutkan kata-katanya.


"Pergi, kamu bukan istriku lagi dan enyahlah dari kehidupanku!" usir Handoyo kemudian, tanpa perasaan.


Di luar sana, langit senja yang tadinya cerah dengan sinar mentari yang memendarkan cahaya kemerahan, tiba-tiba menjadi gelap dengan gumpalan awan yang berarak tertiup angin.


Suara petir terdengar menggelegar bersahut-sahutan, seolah menunjukkan kemarahannya pada suami yang telah lalai akan tugas dan tanggung jawabnya terhadap istri dan putranya


Hujan deras mengguyur bumi, alam seakan ikut menangis menyaksikan kepedihan hati Aulia yang disia-siakan oleh sang suami dan sang putra yang tak diakui oleh ayah kandungnya.


Aulia mengangkat dagunya, senyum wanita cantik itu mengembang sempurna. "Kami pasti akan hidup dengan lebih bahagia di luar sana," ucapnya dengan penuh keyakinan, serta terselip do'a dan harapan untuk masa depan mereka berdua, nanti.


Ibu dan anak kecil tersebut segera berlalu dari hadapan Handoyo dengan langkah pasti, tanpa ada keraguan sama sekali.


Meninggalkan luka dan kenangan pahit yang selama ini ditorehkan oleh Handoyo, laki-laki yang seharusnya menjadi pengayom bagi kedua anak manusia tersebut. Laki-laki yang disebut sebagai suami dan dipanggil dengan sebutan ayah.


"Hujan, Nak. Sebentar, bunda buka payungnya," ucap Aulia yang tadi sempat menyambar payung yang berada di samping pintu.


Baru saja Aulia membuka payung, dari tempatnya berdiri di halaman rumah megah milik mantan suaminya tersebut, ibu muda itu melihat taksi berhenti tepat di depan rumah sebelah, rumah milik Cynthia.


Aulia melihat wanita seksi yang merupakan selingkuhan suaminya itu turun dari taksi, dengan wajah yang terlihat letih. Sama seperti wajah Handoyo tadi, ketika baru saja pulang ke rumah.

__ADS_1


"Kebetulan ada taksi, Nak. Ayo, kita naik taksi itu saja!" ajak Aulia yang langsung menggendong sang putra di depan, sambil membawa payung menuju pintu gerbang.


Aulia kemudian memberhentikan taksi yang baru saja akan pergi tersebut.


"Pak, ke luar kota, bisa?" tanya Aulia, sesaat setelah dirinya duduk di dalam dan mendudukkan sang putra di bangku sebelah.


"Kemana, Mbak?" tanya sopir taksi tersebut.


Aulia kemudian menyebutkan nama kota kecil, tempat dia lahir dan dibesarkan yang ada di sebelah selatan ibukota propinsi tersebut.


"Bisa, Mbak, karena tidak terlalu jauh," balas sopir tersebut yang langsung melajukan mobil jenis sedan berwarna biru muda, menyusuri jalanan yang sedikit tergenang karena hujan turun dengan sangat deras.


"Memangnya, kalau jauh kenapa, Pak?" tanya Aulia, penasaran.


"Kalau jauh, nanti saya sampai rumah kemalaman, Mbak. Kasihan istri saya, kalau harus mengasuh anak kami yang masih kecil sendirian terus. Makanya, saya selalu berusaha untuk pulang paling lambat isya', agar bisa bergantian menjaga anak kami," terang sopir taksi yang usianya sedikit di atas Handoyo.


"Pasti istri dan anak Bapak, bahagia sekali ya," ucap Aulia.


"Mudah-mudahan, Mbak. Saya tidak bisa memberikan kemewahan pada mereka, yang bisa saya berikan hanya sebatas waktu sedikit yang tersisa setelah seharian bekerja di luar rumah, perhatian dan kasih sayang," balas sopir taksi tersebut seraya menatap Aulia, melalui pantulan kaca spion di hadapannya.


'Andai aku memiliki suami yang perhatian dan penuh kasih seperti bapak ini, pasti hidupku dan putraku akan sangat bahagia,' batin Aulia. Tanpa sadar, bulir bening menggenang di pelupuk mata dan kemudian menetes, membasahi pipinya yang tirus.


'Tidak, tidak. Ya Rabb, maafkan hamba. Bukan maksud hamba menghakimi takdir yang telah Engkau berikan kepada kami berdua, bukan. Hamba ikhlas ya, Rabb. Hanya saja, hamba memohon, semoga ke depan hanya takdir baik yang Engkau tetapkan untukku dan juga putraku.'


Keheningan sejenak tercipta di dalam kabin kendaraan dengan kapasitas empat penumpang tersebut. Tak ada yang bersuara dan masing-masing sibuk dengan pikiran sendiri.


Aulia fokus memikirkan langkah apa yang akan dia ambil setelah sampai di tempat tujuan. Sementara sopir taksi yang sempat melihat kesedihan di wajah penumpangnya, bertanya-tanya dalam hati.

__ADS_1


'Masih sangat muda, cantik, hujan-hujan seperti ini pergi dari rumah dan sepertinya membawa pakaian banyak, mungkinkah ada masalah dengan rumah tangganya?'


"Mbak, kalau putranya kedinginan, AC-nya bisa kok dikecilkan," ucap sopir tersebut, kala melihat Ammar meringkuk di samping bundanya yang tengah melamun.


"Eh, iya, Pak. Kecilin sedikit, ya," pinta Aulia yang tersadar dan kemudian segera memeluk sang putra.


"Ammar kedinginan, Nak. Maaf, ya. Bunda lupa enggak bawain kamu jaket," ucapnya, pelan.


"Maaf, Mbak. Ini ada sarung, untuk menyelimuti putranya. Masih cukup bersih, kok. Hanya saya pakai kalau mau sholat," tawar sopir tersebut seraya mengangsurkan sarung yang barusan dia ambil dari dashboard mobil.


"Oh, iya, Pak. Terimakasih banyak," ucap Aulia seraya mengambil sarung tersebut dan kemudian menyelimuti tubuh sang putra yang kini telah berbaring, dengan kepala di atas pangkuannya.


Sopir taksi tersebut, tersenyum ramah. Fokusnya kemudian kembali ke jalan raya yang semakin tak terlihat karena hujan semakin deras mengguyur bumi.


"Tadi padahal cerah banget ya, Mbak," ucap pak sopir, setelah beberapa saat mereka terdiam.


"Skenario Allah memang luar biasa, dari panas bisa langsung hujan lebat seperti ini," lanjutnya, mengagumi kebesaran Allah.


"Begitulah jika Allah telah berkehendak, Pak," balas Aulia.


"Iya, Mbak benar. Sangat mudah bagi-Nya membolak-balikkan segala sesuatu. Yang tadinya panas, bisa tiba-tiba menjadi hujan. Ataupun sebaliknya, yang tadinya hujan bisa langsung reda dan matahari kembali bersinar, terang." Laki-laki matang itu, tersenyum.


"Orang yang awalnya sangat bahagia, bisa tiba-tiba berduka dan sebaliknya, yang tadinya diliputi kesusahan dan duka lara, kemudian mendapatkan kebahagiaan," pungkas laki-laki berkumis tipis yang duduk di belakang kemudi tersebut


Mendengar kalimat terakhir sopir taksi, Aulia menatap laki-laki dewasa yang mengemudikan mobil taksinya itu dari pantulan kaca spion di depan, dengan dahi berkerut. 'Apa, wajahku terlihat sangat menyedihkan?' batinnya, bertanya.


💖💖💖 bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2