
Kehidupan Handoyo dan Cynthia, berbanding terbalik dengan kehidupan mantan-mantannya.
Keluarga kecil Husain dan Aulia semakin bahagia, apalagi setelah mengetahui bahwa akan bertambah satu lagi anggota keluarga mereka.
Kabar tersebut semakin menambah kebahagiaan pasangan yang disatukan dalam ikatan pernikahan, setelah masing-masing mengalami pahit dan getirnya kehidupan dalam berumahtangga.
Husain jadi tambah sayang dan perhatian pada istri cantiknya tersebut. Begitu pula dengan kedua orang tua angkat Aulia, Pak Haji dan sang istri.
Kedua putra putri mereka tumbuh sehat dan ceria, dengan limpahan kasih sayang dari keluarga baru mereka. Pasangan Pak Haji dan sang istri, Mas Dul dan keluarga kecilnya, serta para karyawan Pak Haji yang juga sayang pada Ammar dan Yasmin.
"Mbak Jum, apa semua sudah siap?" tanya Bu Hajah, memastikan pada istri Mas Dul mengenai sajian yang akan mereka hidangkan untuk semua tamu undangan yang sudah mulai berdatangan di kediaman keluarga Husain.
Hari ini adalah selamatan empat bulan kehamilan Aulia, kehamilan anak pertama bagi pernikahannya dengan Husain.
Semua orang antusias menyambut kehamilan Aulia tersebut dan kali ini, semua ikut terlibat dalam acara selamatan empat bulan kehamilannya dan hal itu membuat Aulia merasa sangat bahagia.
Pasalnya dulu, ketika dia mengandung Ammar, hanya papa mertuanya yang perduli dan sering membelikan dia buah-buahan. Sementara ayah dari anak yang dia kandung, sama sekali tak memperdulikan Aulia.
'Terimakasih atas semua anugerah terindah ini, ya Rabb,' do'a Aulia dalam hati. Wanita cantik tersebut tengah duduk di ruang keluarga bersama Ammar dan Yasmin, menunggu acara dimulai.
Sementara sang suami sedang berada di halaman depan, untuk menyambut para tamu undangan.
Husain mengundang tetangga di sekitar tempat dia tinggal, mengundang karyawan dan tetangga Pak Haji di ruko, juga beberapa karyawan di kantornya.
"Sepertinya sudah datang semua, Mas Husain. Bagaimana kalau kita mulai saja, biar tidak kemaleman," usul Pak Haji dan Husain mengangguk setuju.
Setelah semuanya duduk dengan nyaman di ruang tamu kediaman Husain yang cukup luas karena rumah tersebut sudah direnovasi, acara pun segera dimulai.
__ADS_1
Do'a-do'a kebaikan untuk sang calon buah hati dipanjatkan, begitu pula do'a untuk kesehatan si ibu, agar dimudahkan dan dilancarkan hingga persalinan nanti.
Mbak Jum dengan dibantu Bi Mus, mulai menghidangkan makanan untuk para tamu undangan. Sementara Mas Dul dan salah seorang karyawan Pak Haji, sibuk membagikan makanan yang akan dibawa pulang oleh tamu undangan.
"Capek, Nak Lia?" tanya Bu Hajah, begitu semua tamu sudah pulang ke rumah masing-masing, termasuk keluarga kecil Mas Dul.
"Lumayan, Bu," balas Aulia.
"Ya sudah, sana istirahat. Biar anak-anak sama ibu dan Bapak," titah Bu Hajah penuh pengertian.
"Sana, Mas Husain, temani istri kamu. Pijat kakinya karena pijatan suami akan membuat istri menjadi rileks dan cepat hilang capeknya," timpal Pak Haji, menyarankan.
"Baik, Pak. Kami ke kamar dulu," pamit Husain yang kemudian menuntun sang istri menuju kamar utama.
Setelah mereka berganti pakaian dengan pakaian tidur yang lebih longgar, Husain membantu sang istri untuk berbaring.
"Lia bisa sendiri, kok, Mas. Perut Lia 'kan belum terlalu besar," ucap Aulia ketika Husain membantunya berbaring.
" Kehamilan selanjutnya? Yang ini saja belum lahir, Mas, kok sudah bahas kehamilan lagi," protes Aulia.
Husain terkekeh pelan. "Enggak ada salahnya 'kan, Yang, merencanakan?" balas Husain bertanya.
Aulia hanya membalas dengan mengerucutkan bibir, tetapi seraya tersenyum yang artinya dia tidak keberatan.
"Sini kakinya, mas pijit." Husain segera memangku kaki sang istri dan kemudian memulai memijat kaki mulus tersebut.
"Enggak perlu, Mas. Mas Husain 'kan juga capek," tolak Aulia.
__ADS_1
"Enggak apa-apa, Sayang. Kata Pak Haji, kalau dipijat suami maka capeknya akan cepat hilang, kan?" Husain terus memijat dengan lembut kaki sang istri, mulai dari bawah dan naik ke atas.
Tangan Husain bukan hanya memijat, tetapi mulai nakal meraba-raba area sensitif sang istri, hingga membuat Aulia mende*sah manja.
"Mas, kalau pijatnya plus-plus seperti itu, yang ada capeknya bukan hilang, Mas, tapi malah akan bertambah," protes Aulia, tetapi dengan suara yang manja dan senyuman menggoda, sama sekali tidak keberatan jika suaminya melakukan pijat plus-plus terhadap dirinya.
Husain tersenyum senang. Suami Aulia tersebut segera mengganti lampu utama dengan lampu tidur dan buru-buru masuk ke dalam selimut bersama sang istri.
💖💖💖 T A M A T 💖💖💖
Terimakasih untuk kalian semua yang sudah kasih dukungan buat Julia 🤗😘
Seperti biasa ya, Best... no debat, no protes, no boncap 😄🤭
Yang belum mampir ke novelku yang sudah TAMAT, mampir yah 🙏🙏
Yang sudah baca, boleh banget baca lagi 😄😄
Yang belum kasih bintang ⭐⭐⭐⭐⭐ (harus lima, yah... mode maksa 🤭) buruan, kasih bintang lima dan masukkan favorit atau subscribe 😍😍
Yang sudah subscribe, jangan dihapus, yah. Maaciih 😘😘
🌟🌟🌟🌟🌟
__ADS_1
Jangan lupa, mampir ke karya baruku, yah... tayang sore ini 🥰