
Keesokan harinya, Aulia mulai menjalani aktivitas baru, di tempat yang baru dengan penuh semangat.
Pagi yang hangat dengan canda dan tawa Ammar beserta kedua eyangnya yang baru saja mereka berdua kenal semalam, menambah penyemangat bagi ibu muda yang kini menyandang status baru sebagai single parent tersebut.
Senyuman di bibir tipis wanita berhijab itu terus mengembang sempurna, menyiratkan kebahagiaan hati Aulia yang selama ini hidup dalam tekanan di dalam rumah mantan suaminya.
'Alhamdulillah, atas segala nikmat yang Engkau limpahkan kepada kami berdua, ya, Rabb.' Rasa syukur tak henti Aulia ucapkan kepada Sang Pencipta.
"Nda, nasi golengnya sudah matang, ya?" tanya Ammar ketika menghampiri sang ibunda yang sedang menyiapkan sarapan di ruang bagian belakang ruko.
Ya, disanalah Bu Hajah dan suaminya biasa menikmati makan sambil menonton acara televisi untuk menemani mereka berdua agar tidak merasa kesepian.
Pagi ini, mereka berdua tak perlu menghidupkan benda elektronik tersebut karena perhatian kedua orang tua paruh baya tersebut telah teralihkan pada kelucuan Ammar.
Bu Hajah juga tidak perlu repot memasak karena Aulia dengan cekatan telah mengambil semua peranan urusan dapur, sumur, termasuk bersih-bersih rumah.
"Ammar sudah lapar, ya?" tanya Aulia sambil mengambilkan makanan untuk Pak Haji, Bu Hajah dan juga sang putra, yang telah duduk dengan tertib di meja makan yang berdekatan dengan sofa.
"Iya, Nda. Tadi 'kan, Ammal diajak jogging cama Eyang di taman," balas Ammar, penuh semangat.
Ini kali pertama bagi bocah laki-laki itu bermain di luar bersama seorang laki-laki dewasa, Eyang Haji, yang sudah menganggap Ammar seperti cucu kandung sendiri.
Selama ini, Ammar hanya bermain dengan bundanya di dalam rumah, sambil Aulia bekerja membereskan urusan rumah tangga yang tak pernah ada habisnya.
Kalaupun sang bunda memiliki waktu untuk mengajaknya bermain di luar sambil berbelanja sayur, itu pun takkan bisa berlama-lama karena bundanya harus segera memasak sayuran yang telah dibeli dan kemudian bergegas menuju rumah sang kakek untuk menyuapi kakeknya makan siang.
"Ammar senang, ya main sama eyang?" tanya Pak Haji.
__ADS_1
"Iya, Eyang. Ammal cenang cekali," balas bocah kecil tersebut dengan gayanya yang lucu dan nampak sangat riang.
Dua orang tua paruh baya tersebut, tersenyum senang, menyaksikan keceriaan Ammar. Begitu pula dengan Aulia, ibu muda tersebut tersenyum lebar melihat putranya bisa sarapan sambil tertawa lepas.
Tak ada lagi tekanan dari tatapan sang ayah yang selalu tajam dan mengintimidasi, jika Ammar sarapan dengan berisik.
Ya, Handoyo selalu membiasakan keluarga kecilnya untuk makan dalam diam. Bukan diam khidmat karena menikmati makanan, tetapi diam di bawah tekanan.
"Nda, nanti ciang Ammal mau maem cama cayul yang ada bakconya, ya," pinta Ammar setelah menghabiskan nasi goreng dalam piring.
"Baru juga selesai sarapan, masak sudah pesan makan untuk nanti, Nak," protes Aulia seraya tersenyum.
"Ah, Bunda ... boweh, ya," rajuk Ammar dengan bibir mengerucut, menggemaskan. Membuat ketiga orang dewasa yang ada di meja makan tersebut terkekeh bersama.
"Iya, Nak. Nanti biar bunda masak sayur sop dikasih bakso yang banyak buat Ammar," balas Bu Hajah seraya mengusap puncak kepala bocah laki-laki tersebut.
"Iya benar, Kung. Masakan Nak Lia memang enak," timpal Bu Hajah, dengan sejujurnya.
"Bapak sama Ibu, berlebihan," balas Aulia, merendah.
"Ibu mengatakan yang sejujurnya, Nak Lia," tutur wanita anggun tersebut seraya menatap manik hitam putri angkatnya.
"Oh ya, Nak Lia. Ruko sebelah 'kan masih kosong, dulu sama almarhumah Maryam mau dipakai untuk usaha toko baju. Nah, bagaimana kalau Nak Lia buka warung makan?" tawar Bu Hajah, yang teringat akan rukonya yang masih kosong.
"Bolehkah, Bu?" tanya Aulia dengan netra berbinar terang. "Dulu, Lia memang pengin punya usaha sendiri, Bu, tapi ...." wanita muda tersebut menjeda ucapannya, wajah yang tadi ceria itu tiba-tiba menjadi mendung.
"Apa, mantan suami kamu tidak mengizinkan?" cecar Bu Hajah.
__ADS_1
Aulia mengangguk pelan.
Bu Hajah menghela napas panjang. "Kamu memang luar biasa, Nak. Wanita yang kuat," tutur wanita paruh baya tersebut.
"Sekarang saatnya untuk bangkit, Sayang. Kami akan mendukungmu, Nak," lanjutnya seraya menatap Aulia dengan tatapan teduh, tatapan yang mampu membuat wanita muda tersebut kembali bersemangat dan bangkit untuk menyongsong kebahagiaannya.
"Terimakasih banyak, Bu, Pak," balas Aulia, terharu.
Netra indah itu berkaca-kaca, melihat ketulusan dua orang asing yang baru saja dikenalnya, tetapi telah memberikan kehidupan serta pengharapan besar untuk masa depan Aulia dan sang putra.
'Ya, Rabb ... hanya satu pinta hamba, berikan umur yang bermanfaat untuk mereka berdua, agar bisa terus bersama-sama dengan kami. Sayangi Pak Haji dan Bu Hajah, seperti mereka berdua menerima dan menyayangi kami, aamiin.'
"Nak Lia bisa memulainya kapanpun Nak Lia siap," lanjut Bu Hajah.
"Biar Nak Lia istirahat dulu dan menyesuaikan diri dengan lingkungan di sini, Bu. Jangan terlalu memaksakan," sahut Pak Haji.
"InsyaAllah secepatnya, Lia siap kok, Pak. Lia malah senang kalau ada kegiatan, apalagi kegiatannya produktif," balas Aulia penuh semangat.
"Ya syukur, kalau Nak Lia memiliki pemikiran seperti itu. Perlahan saja, dimulai dari sedikit dulu tidak apa-apa. Niatkan untuk membantu memudahkan karyawan bapak dan karyawan lain di ruko sekitar untuk mencari makan. Tidak perlu mencari untung banyak yang penting berkah, barokah dan InsyaAllah berlimpah."
Pak Haji menatap Aulia, dengan tatapan teduh. Menasehati wanita muda tersebut, seolah menasehati putrinya sendiri.
"Dulu, usaha bapak juga hanya bengkel motor kecil-kecilan. Kemudian karena motor yang rusak membutuhkan sparepart, bapak mulai menabung untuk mewujudkan impian agar bisa memiliki toko sparepart." Sejenak laki-laki paruh baya tersebut menjeda ceritanya.
"Lantas, karena orang-orang yang menservis motor banyak yang bertanya, di mana ada tempat cucian kendaraan, maka bapak mencoba untuk mengambil peluang tersebut. Sekarang, selain bengkel, toko sparepart kendaraan, ada juga cucian motor dan Alhamdulillah tempatnya bisa berjejer." Pak Haji tersenyum dengan penuh rasa syukur.
"Intinya orang membuka usaha itu, harus pandai mengambil peluang dan niatkan untuk membantu serta memudahkan orang lain yang membutuhkan jasa atau dagangan kita," pungkasnya.
__ADS_1
💖💖💖 bersambung ...