Pesona Rumput Tetangga

Pesona Rumput Tetangga
Kamu Melamunkan Apa, Sih?


__ADS_3

Kehidupan terus berjalan, ada suka, ada duka. Terkadang di atas, terkadang di bawah. Tak ada yang abadi, semua berubah seiring berjalannya waktu.


Begitu pula dengan kehidupan Aulia dan Husain.


Dulu, mereka berdua sama-sama menjalani rumah tangga yang panas seperti dalam kobaran api neraka. Sama-sama memiliki pasangan yang tidak bisa menghargai dan senantiasa bersikap semena-mena.


Kini, semua berubah. Mereka dipersatukan oleh sebuah takdir yang sangat indah. Bertemu kembali, setelah menyandang gelar dan status baru sebagai janda dan duda, serta sama-sama single parent.


Setelah berpikir dengan matang, Husain dan Aulia memutuskan untuk menikah demi kebahagiaan anak-anak mereka, utamanya.


Buah manis dari niat baik mereka berdua, bukan hanya anak-anak yang berbahagia, mereka berdua pun menjadi pasangan yang sangat bahagia karena masing-masing bisa mengerti pasangannya dan bisa saling menghargai.


"Aku bahagia banget, Sayang. Akhirnya, Allah memberikan kepercayaan kepada kita untuk memiliki momongan," ucap Husain, seraya mengelus lembut perut rata sang istri.


"Iya, Mas. Lia juga bahagia sekali," balas Aulia dengan senyuman yang menghiasi wajah cantiknya.


"Mas, mau telepon kantor dan minta ijin setengah hari karena mas mau menemani kamu ke dokter kandungan," ucap Husain.


"Enggak perlu, Mas. Lia periksanya lain waktu saja, kalau pas Mas Husain libur," tolak Aulia yang tak ingin sang suami mendapatkan masalah jika ijin setengah hari, sedangkan suaminya itu baru saja diangkat menjadi manager baru, menggantikan manager lama yang dipindahkan ke kota lain.


"Enggak apa-apa, Sayang. Kita harus segera pastikan bahwa hasil tes urine tadi akurat," paksa Husain yang penasaran dan ingin mengetahui secara pasti mengenai kehamilan sang istri yang baru diketahui pagi ini, dengan cara tes urine mandiri.


Ya, setelah menjalani pernikahan selama empat bulan, beberapa hari ini Aulia merasakan pusing dan mual setiap pagi. Semalam, Bu Hajah menyarankan agar Husain membelikan test pack untuk Aulia karena ibu angkat Aulia tersebut menduga, bahwa Aulia tengah hamil muda.


"Tidak perlu, Bu. Paling, Lia cuma masuk angin karena kemarin-kemarin 'kan, sibuk mendampingi Mas Husain pelantikan di kantor," tolak Aulia, usai makan malam bersama.


Setelah bekerja lebih dari setengah tahun menjadi supervisor dan kinerja Husain dinilai sangat baik, ayah dua anak tersebut mendapatkan kepercayaan dan diangkat menjadi manager.


Sebagai istri, Aulia ikut mendampingi sang suami di acara family gathering yang diadakan oleh perusahaan untuk melepas manager lama, sekaligus menyambut manager yang baru.

__ADS_1


Sepulang dari acara yang diadakan di sebuah villa di daerah wisata itulah Aulia mulai merasakan gejala mual dan pening di kepala, tetapi ibu dua anak tersebut mengira bahwa dia hanya masuk angin semata.


"Enggak ada salahnya jika di tes sendiri, Sayang. Siapa tahu saja 'kan, karena aku rajin menyemai, maka benihku ada yang tumbuh subur di rahim kamu," bisik Husain seraya tersenyum nakal.


"Kalaupun belum ada yang berhasil tumbuh, nanti aku akan lembur untuk menyemai lebih banyak lagi," lanjutnya, yang membuat Aulia mendaratkan cubitan di paha sang suami.


"Itu, sih, maunya Mas. Masak tiap hari, maunya gituan terus," protes Aulia yang juga berbisik, tetapi dalam hati wanita cantik itu sangat bahagia karena hampir setiap saat diperlakukan dengan sangat istimewa oleh sang suami.


Pak Haji dan Bu Hajah tersenyum, menyaksikan sepasang suami istri tersebut, bisik-bisik mesra. Mengingatkan mereka berdua pada masa dulu ketika masih muda.


Rumah tangga Husain dan Aulia memang berjalan dengan sangat bahagia, dengan dua anak yang manis, yang senantiasa mewarnai kehidupan keluarga kecil tersebut, membuat kebahagiaan mereka berdua terasa lengkap.


Terlebih dengan hadirnya orang tua angkat Aulia yang sangat perhatian dan penyayang terhadap Ammar dan Yasmin, membuat kehidupan rumah tangga mereka, terasa sempurna.


⭐⭐⭐


Di sisi lain.


Handoyo yang senantiasa ingin dilayani dan menganggap bahwa sebagai seorang istri, harusnya Cynthia dapat melakukan apapun seperti halnya Aulia dulu, menuntut istrinya itu agar melayani segala keperluannya setiap hari.


Apalagi Handoyo merasa telah memberikan semua yang diinginkan sang istri, bahkan suami Cynthia tersebut harus putar otak bagaimana caranya untuk mendapatkan uang dengan cepat dan banyak, sementara tabungannya telah ludes terkuras habis untuk belanja istrinya, hingga dia menuntut agar Cynthia menurut padanya.


Sementara Cynthia memiliki pendapat lain, bahwa pekerjaan rumah tangga bukan hanya kewajiban seorang istri. Dia menolak untuk mengurus rumah, utamanya dapur dan sumur. Kecuali jika kasur, dengan senang hati Cynthia akan melayani suaminya.


"Aku sudah enggak ada uang lagi, Cyn. Batalkan saja pesanan tas kamu itu, lagian tasmu kan sudah sangat banyak!" tolak Handoyo yang mulai tersulut emosi.


"Ck!" Cynthia berdecak kesal.


Sejenak, keheningan menyapa ruang kerja Handoyo. Laki-laki itu terlihat kusut, tatapannya nanar tertuju pada ponsel yang dia pegang.

__ADS_1


"Mas 'kan biasanya pandai cari uang. Ayolah, Mas, ini kan juga investasi," rajuk Cynthia mengurai keheningan.


Cynthia tak mau membatalkan pesanan tas branded yang harganya hampir mencapai ratusan juta rupiah karena merasa malu pada rekan-rekan arisan sosialitanya, jika sampai dia batal membeli tas yang sedang jadi rebutan tersebut.


"Sekarang sudah enggak bisa lagi, Cyn. Semua serba ketat. Belum lama ini, rekanku di dinas lain tertangkap tangan menerima suap gratifikasi dan aku enggak mau jika sampai sepak terjangku terendus KPK," tolak Handoyo, tegas.


"Ya, udah. Aku akan cari pinjaman pada Om Sundoro. Dia pasti mau meminjami aku uang," ancam Cynthia.


Handoyo menghela napas kasar. "Jangan pinjam sama dia!" cegah Handoyo dengan tatapan berkilat marah. "Baiklah, besok aku usahakan sudah ada uangnya," lanjutnya, yang akhirnya menyetujui.


'Memang ampuh nama Sundoro, bisa aku pakai untuk menggertak Mas Han,' batin Cynthia, senang.


'Suamiku ini memang bodoh! Begitu mudahnya percaya, kalau aku tidak menjalin hubungan apa-apa sama Om Sundoro. Andai Mas Han tahu, dia pasti sudah menceraikan aku.' Cynthia tertawa dalam hati, menertawakan kebodohan sang suami.


Selama dua bulan terakhir, Cynthia memang diam-diam menjalin hubungan dengan orang paling penting nomor dua di pemerintahan kota tersebut.


Dari Sundoro, Cynthia bisa mendapatkan apa yang dia mau, lebih banyak dari yang diberikan Handoyo. Meskipun demikian, Cynthia tak mau melepaskan sang suami karena dia butuh status yang jelas untuk karir dan nama baiknya.


Cynthia tersenyum sendiri, membayangkan kencannya dengan Sundoro kemarin siang di sebuah hotel di kawasan daerah atas.


"Ish, aku enggak nyangka lho, Om. Meskipun Om sudah berumur, tapi milik Om sungguh luar biasa," ucap Cynthia mengagumi milik Sundoro yang terpampang nyata di hadapan mata.


Sundoro terkekeh. "Sudah banyak wanita cantik yang mengatakan seperti kamu, Honey. Semua wanita yang tidur denganku, pasti kagum dengan keperkasaanku," bangga, Sundoro mengatakan hal yang menjijikkan seperti itu.


"Ah, Om. Aku sudah tidak sabar ingin merasakan milik Om menembus milikku yang sudah basah." Cynthia menelan saliva dan langsung menerjang Sundoro yang sedang tiduran dengan posisi terlentang.


Cynthia tiba-tiba memejamkan mata, seolah ikut menikmati apa yang barusan dia bayangkan ketika sedang bercin*ta dengan Sundoro. Napasnya terdengar memburu, hingga membuat Handoyo yang menyadari keanehan pada istrinya, menegur.


"Cyn! Kamu melamunkan apa, sih?"

__ADS_1


💖💖💖 bersambung ...


__ADS_2