
Husain tersenyum. Laki-laki dengan senyuman manis karena memiliki dua lesung pipi tersebut kemudian menuju bangku yang ditunjuk oleh sang tuan rumah, untuk menunggu putrinya.
'Andai aku memiliki istri sholehah nan lembut seperti Aulia, hidupku dan Yasmin pasti akan sangat bahagia.'
Sementara di dalam rumah, Aulia langsung menuju dapur untuk membawakan bubur yang masih ada buat Yasmin.
"Nak, ada Om Syain tuh, di luar. Om mau jemput Yasmin," ucap Aulia setelah kembali ke ruang keluarga.
Aulia kemudian segera menggendong Yasmin untuk membawa gadis kecil tersebut menuju teras rumahnya, lengkap dengan membawa bubur dalam tempat makan berukuran sedang dan obat milik Yasmin.
Ammar mendahului langkah sang bunda menuju teras.
"Om Syain mo jemput, Yasmin?" tanya Ammar, membuat Husain yang tengah memejamkan mata sambil bersandar pada sandaran bangku, terkejut.
"Iya, Nak," balas Husain, tersenyum. Laki-laki yang memiliki tatapan teduh tersebut mengusap puncak kepala Ammar dengan penuh kasih.
"Tadi, Yasmin lahap banget makan buburnya. Dia juga sudah minum obat," terang Aulia setelah dirinya duduk dengan menjaga jarak pada Husain.
"Ini buburnya masih ada, nanti kalau Yasmin minta maem lagi bisa Mas kasihkan," lanjutnya seraya menyimpan kotak makan berikut obat milik Yasmin di atas meja.
"Terimakasih banyak, Dik Lia. Jadi merepotkan kamu," ucap Husain dengan tulus.
"Tidak mengapa, Mas. Bukankah sebagai tetangga, kita harus saling membantu," balas Aulia. 'Bukannya menusuk dari belakang, seperti apa yang telah dilakukan oleh pasangan kita!' geram Aulia dalam hati.
Tak ingin merepotkan Aulia lebih lama, Husain segera mengambil sang putri dari pangkuan bundanya Ammar tersebut.
"Sekali lagi, terimakasih banyak, Dik Lia," ucap Husain yang sudah menggendong putrinya. "Kalau tidak ada Dik Lia, pekerjaan saya pasti akan terbengkalai dan Yasmin mungkin saja masih rewel," lanjutnya.
"Sama-sama, Mas. Enggak perlu sungkan," balas Aulia.
Husain tersenyum pada wanita berhijab yang merupakan tetangga sebelah rumahnya tersebut. "Kami pamit dulu, Dik Lia."
"Ayo, Salim dulu sama Tante Lia," tuntun Husain pada sang putri.
Aulia menyambut uluran tangan mungil Yasmin. "Anak pintar. Cepat sembuh ya, Sayang," ucapnya seraya mengusap puncak kepala Yasmin, lembut.
"Salim sama Mas Ammar," tuntun Husain sambil merendahkan tubuh agar sang putri dapat menyalami Ammar.
"Nanti sole kita main agi ya, Dik," pinta Ammar.
__ADS_1
"Iya, Mas Ammar," balas Husain mewakili sang putri.
"Assalamu'alaikum Mas Ammar, Tante Lia," pamit Husain seraya mengucap salam. Suami Cynthia itu segera meninggalkan kediaman megah Handoyo untuk kembali ke rumah sederhana miliknya.
Rumah yang dia beli dengan uang tabungan selama Husain bekerja menjadi sales onderdil kendaraan bermotor, ketika dirinya masih sendiri.
Rumah yang tak pernah sekalipun direnovasi karena penghasilan Husain yang sebenarnya cukup banyak, habis terkuras untuk memenuhi keinginan sang istri yang gaya hidupnya hedon.
Sementara di teras rumah Aulia, sepeninggal Husain dan Yasmin, wanita muda itu kemudian mengajak sang putra untuk masuk ke dalam.
"Nak, ini tadi Ammar dikasih jajan sama Om Syain." Aulia memberikan kantong plastik yang berisi jajanan kepada sang putra.
Ammar segera membuka kantong plastik tersebut. "Wah, banyak cekali, Nda. Ada syusyu!" seru Ammar, girang.
Ya, tentu saja bocah kecil tersebut sangat senang menerima jajanan anak-anak yang cukup banyak dari Husain. Sebab, sang bunda jarang membelikan Ammar jajan untuk menghemat uang belanja yang memang jumlahnya sangat minum dari sang suami.
Aulia menatap sendu kehebohan Ammar yang membongkar semua jajanan tersebut dan mulai menghitungnya satu persatu.
"Syatu, dua, tiga, empat ...."
"Bunda mau sholat dulu, ya. Ammar maem jajannya pelan-pelan saja, jangan buru-buru," pamit Aulia yang bergegas menuju kamar.
Meninggalkan sang putra yang masih asyik menghitung jajanan yang diberikan oleh papanya Yasmin.
Matahari mulai tergelincir ke ufuk barat, menyisakan semburat warna keemasan di batas cakrawala.
Burung-burung kecil terbang berarak kembali menuju sangkar, menyambut malam yang sebentar lagi akan datang.
Seorang ibu dan anak laki-laki terlihat sudah sangat rapi, seolah hendak jauh pergi dan takkan pernah kembali.
"Nda, kok ayah lama?" tanya Ammar yang nampak tidak sabar menunggu sang ayah kembali pulang.
"Sabar, ya. Mungkin sebentar lagi," balas Aulia, menghibur putranya.
'Belum puaskah kalian bersenang-senang selama dua hari, Mas? Sampai-sampai sudah sesore ini kamu belum pulang juga?' batin Aulia bertanya, dengan menekan rasa sakit di dasar hatinya.
Ya, Aulia mengatakan pada sang putra bahwa mereka berdua akan pergi, tetapi nanti nunggu ayahnya Ammar pulang ke rumah.
Aulia tidak mengatakan bahwa mereka akan pergi tanpa sang ayah, hingga Ammar mengambil kesimpulan bahwa mereka akan pergi bersama-sama.
__ADS_1
"Kita jadi pelgi 'kan, Nda?" tanya Ammar kembali, mengurai lamunan Aulia.
Belum sempat Aulia menjawab pertanyaan sang putra, terdengar klakson mobil sang suami di depan pintu gerbang rumahnya.
Bergegas Aulia menuju gerbang dan membukakan pintu geser tersebut, agar mobil sang suami dapat masuk ke halaman rumah.
Setelah mobil Handoyo masuk, Aulia menutup kembali pintu gerbangnya dan segera menyambut sang suami seperti biasa jika suaminya tersebut pulang tepat waktu.
"Buatkan aku kopi panas, Lia! Rasanya, mataku ngantuk sekali!" pinta Handoyo sambil berlalu setelah memberikan tas pakaian yang kemarin dia bawa, kepada sang istri.
Tentu saja dia sangat mengantuk karena ayah satu anak tersebut begadang bersama kekasih gelapnya yang merupakan tetangga sebelah rumah sendiri.
Aulia hanya bisa menghela napas panjang dan kemudian mengekor langkah sang suami sambil menuntun sang putra.
"Ammar tunggu di kamar dulu ya, Nak. Bunda mau bicara sebentar sama ayah," pinta Aulia seraya mengusap lembut puncak kepala putranya.
Wanita cantik tersebut langsung menuju dapur setelah sebelumnya, dia menyimpan tas sang suami di salah satu meja di sudut ruang tamu dan memastikan bahwa sang putra masuk ke dalam kamar.
Beberapa saat kemudian, Aulia telah kembali ke ruang keluarga.
Tak melihat suaminya di ruang keluarga, Aulia bergegas menuju kamar utama. "Mas, kopinya mau dibawa ke sini atau di ruang keluarga saja?" tanya Aulia.
"Simpan di ruang tamu saja," balas Handoyo sambil menjauhkan ponsel dari telinganya. Rupanya, suami Aulia tersebut tengah bertelepon dengan seseorang.
Aulia menutup kembali pintu kamar, dia kemudian berjalan menuju ruang keluarga.
Setelah menyimpan kopi di atas meja, Aulia lantas duduk untuk menunggu sang suami.
Tak berapa lama, Handoyo menyusul. Laki-laki itu duduk dengan santai, tepat di samping istrinya.
Aroma kopi yang wangi dan begitu menggoda, menuntun Handoyo untuk segera menyeruput kopi buatan sang istri yang rasanya memang tiada duanya tersebut.
"Mas, ada yang mau Lia tanyakan.' Wanita cantik tersebut menguatkan tekad untuk bertanya, setelah sang suami menyimpan kembali kopinya yang telah cukup banyak berkurang, di atas meja.
"Ya, ada apa?" tanya Handoyo datar dan sama sekali tidak merasa bersalah.
"Sejauh mana, hubungan mas sama Mbak Cynthia?" Aulia menatap tajam sang suami.
"Maksud kamu apa, Lia? Jangan menyebar fitnah tanpa ada bukti! Bagaimana jika sampai suami Tia mendengar, pasti akan jadi salah paham, kan?"
__ADS_1
💖💖💖 bersambung ...