Pesona Rumput Tetangga

Pesona Rumput Tetangga
Minta Pisah


__ADS_3

Sementara di kediaman Handoyo, selepas kepergian istri dan anaknya, ayah kandung dari Ammar tersebut tersenyum lebar. Puas rasa hatinya karena akhirnya terbebas dari tanggung jawabnya kepada Aulia, yang selama ini dia nikahi dengan keterpaksaan.


Laki-laki tersebut menyandarkan punggung pada sandaran sofa, seraya memegang ponsel dan melihat-lihat galeri yang penuh dengan foto-foto seksi sang kekasih.


"Hujan-hujan seperti ini, enak kali ya kalau ditemani Cynthia," gumam Handoyo seraya menggeleng-gelengkan kepala.


Otak Handoyo saat ini benar-benar telah dikuasai dan dipenuhi oleh kemesuman tingkat dewa, padahal dua hari ini dirinya dan Cynthia sudah menghabiskan waktu untuk terus bercinta, tetapi seolah laki-laki tersebut tak ada puasnya.


"Dia pasti sudah sampai di rumah, aku telepon sajalah." Handoyo kemudian mendial nomor sang kekasih dan tepat pada deringan pertama, panggilannya diterima oleh suara merdu di ujung telepon.


"Halo, Mas. Ada apa?" tanya Cynthia terdengar berbisik.


"Apa kamu sudah sampai di rumah, Sayang?" tanya Handoyo, memastikan.


Ya, mereka tadi berpisah sebelum memasuki kota dan Cynthia kemudian menaiki taksi agar tidak menimbulkan kecurigaan. Mereka berdua telah menjalani kencan dengan sangat rapi seperti itu, kurang lebih satu tahun lamanya. Hingga membuat Handoyo semakin ketagihan dan tidak bisa lepas dari jerat pesona tetangganya tersebut.


Cynthia, wanita seksi yang menghabiskan uang suami untuk perawatan kecantikan dan tubuh, serta untuk memenuhi keinginannya yang senantiasa ingin tampil sempurna dengan barang-barang branded. Hingga tak jarang wanita seksi tersebut melupakan kebutuhan sang putri, apalagi kebutuhan suami yang selalu memberinya nafkah lebih.


"Baru saja masuk rumah, Mas, kenapa?" balas dan tanya Cynthia, kemudian.


"Aku butuh kamu, Sayang," balas Handoyo.


"Hah, Mas mau ngajak aku pergi lagi?" tebak Cynthia, bertanya.


"Bukan, Sayang, tapi kamu kemarilah, ke rumahku," pinta Handoyo seraya tersenyum senang. Senyuman yang tak dapat dilihat oleh Cynthia di rumah sederhana, yang dibangun oleh suaminya sebelum mereka berdua menikah.


"Jangan gila, Mas. Aku enggak mau ya, nama baik kita jadi taruhan. Apa kata para tetangga nanti, jika seorang pegawai seperti Mas dan guru seperti aku, kedapatan berselingkuh? Istri Mas pasti tidak akan tinggal diam dan akan memberitahu kepada orang-orang," balas Cynthia panjang lebar.


Handoyo terkekeh pelan, membuat Cynthia kembali bertanya dengan bingung.

__ADS_1


"Kok Mas Han malah santai banget, sih!"


"Tenang saja, Sayang. Mau main di rumahku sambil guling-guling karena rumahku sangat luas, kita bebas!" balas Handoyo seraya tertawa lepas.


Handoyo kemudian menceritakan bahwa istrinya baru saja pergi dari rumah dan meminta berpisah. "Ammar juga dia bawa," lanjut Handoyo.


"Lantas? Dia bawa apalagi, Mas? Motormu? Atau, dia minta uang tukon tresno?" cecar Cynthia.


"Dia tidak membawa apa-apa, Sayang, karena memang dia tidak memiliki hak apa-apa di rumah ini," balas Handoyo.


Cynthia terdengar tertawa senang, dalam hati wanita itu bersyukur karena itu artinya, harta milik Handoyo masih utuh dan sebentar lagi pasti akan dapat dikuasainya.


"Baiklah, Mas. Aku akan ke rumahmu sekarang, tapi aku harus selesaikan dulu urusanku dengan Husain," balas Cynthia dengan penuh semangat.


"Oke, Sayang. Aku tunggu," ucap Handoyo. "Nanti langsung masuk saja, ya. Pintunya tidak aku kunci," lanjutnya dengan tidak sabar.


⭐⭐⭐


"Ma, apa masih lama?" tanya Husain dengan nada pelan.


Laki-laki yang memiliki senyuman manis tersebut memang selalu bersikap sabar dalam menghadapi istrinya yang senantiasa bersikap sesuka hati tersebut.


Ya, Cynthia baru saja tiba dan tanpa menemui putrinya terlebih dahulu yang sedang sakit, wanita itu langsung masuk ke dalam kamar dan kemudian mandi dengan sangat lama, entah apa yang dibersihkan.


Tentu saja dia sangat lama di dalam sana karena Cynthia baru saja menerima telepon dari sang tetangga idola, Handoyo, yang merupakan kekasih gelapnya setahun ini.


"Sebentar! Gak sabaran banget, sih! Berisik!" teriak Cynthia, menyahut dari dalam kamar mandi.


Husain hanya bisa menghela napas panjang. "Aku tunggu di kamar Yasmin ya, Ma. Mama agak cepat sedikit, kasihan Yasmin sudah nungguin Mama dari tadi," pamitnya hendak segera berlalu dari depan pintu kamar mandi.

__ADS_1


Suara Cynthia yang membuka pintu kamar mandi, menghentikan langkah Husain. "Kamu enggak bisa ya, ngerawat anak! Baru ditinggal dua hari, Yasmin sudah sakit!" tuduh wanita yang rambutnya masih meneteskan air tersebut dengan tatapan tajam ke arah sang suami.


"Aku ini baru saja pulang, Pa. Aku lelah dan mau istirahat! Kamu malah dari tadi berisik saja, nyuruh-nyuruh aku untuk merawat anakmu!" lanjut Cynthia dengan geram.


"Bukan untuk merawat Yasmin, Ma. Aku hanya minta, kamu temui dia dulu. Barangkali anak kita itu sakit karena rindu sama mamanya," bujuk Husain, melembutkan suara.


Hampir lima tahun menikah dengan Cynthia, membuat Husain hafal dengan sikap istrinya tersebut. Kemarahan dan kekesalan istrinya itu, tak bisa dilawan dengan kekerasan, tetapi harus dengan kelembutan.


Biasanya jika sudah demikian, Cynthia akan langsung luluh dan kemudian mau menuruti keinginan Husain. Cynthia juga akan memperlakukan Yasmin dengan baik, tetapi sepertinya tidak untuk kali ini.


"Yasmin tidak merindukan aku, Pa. Dia sudah terbiasa mandiri, tanpa aku!" bantah Cynthia.


"Udahlah, Pa. Urus saja sana anak kamu, aku masih ada urusan!" lanjutnya yang segera bersolek.


Husain yang masih mematung ditempatnya, menatap tak percaya pada Cynthia yang asyik mengaplikasikan foundation di wajahnya yang terawat.


'Mama kenapa, sih? Tak biasanya dia seperti ini?' batin Husain bertanya pada diri sendiri.


Ya, meski selelah apapun Cynthia setelah berkencan dengan Handoyo, wanita itu tetap akan menyapa anak dan suaminya dengan baik, meski itu hanya sekadar basa-basi agar ulahnya yang main serong di luar sana, tidak tercium oleh sang suami.


"Kenapa masih berdiri di situ, Pa?" tanya Cynthia, ketus.


Husain membuang kasar napasnya dan hendak berlalu, tetapi Cynthia mencegah.


"Oh ... iya, Pa. Ada yang mau aku sampaikan," ucap Cynthia dengan senyumnya yang mengembang sempurna.


"Malam ini juga, aku minta pisah!"


💖💖💖 bersambung ...

__ADS_1



__ADS_2