
Setengah jam kemudian, mobil taksi yang membawa Aulia dan sang putra, berbelok ke sebuah ruko dan berhenti tepat di depan ruko milik mantan bos sang sopir.
"Tunggu sebentar ya, Mbak. Saya pastikan dulu, apakah Pak Hajinya ada dan mau menerima karyawan baru atau tidak?" Pak sopir yang merasa khawatir melihat kondisi penumpang dan putranya tersebut, bergegas turun dari mobil taksi miliknya.
Laki-laki berambut cepak dan berkulit sawo matang itu segera menuju pintu ruko, dia kemudian memencet bel yang ada di samping pintu.
Cukup lama menanti, barulah pintu tersebut terbuka dari dalam. Nampak seorang laki-laki paruh baya dengan memakai kaos oblong dan sarung motif kotak-kotak, keluar seraya mengerutkan dahi.
"Dul, dari mana malam-malam begini?" sapa Pak Haji, bertanya pada sopir taksi tersebut.
"Assalamu'alaikum, Pak Haji," sapa pak sopir yang bernama Dul tersebut memberikan salam dan kemudian menjabat tangan mantan bosnya.
"Wa'alaikumsalam," balas laki-laki yang rambutnya sebagian telah memutih tersebut, seraya tersenyum.
"Tadi, habis mengantar penumpang ke kota ini, Pak," lanjut sang sopir taksi, menjawab pertanyaan dari Pak Haji.
"Mohon maaf, sebelumnya Pak Haji. Ada you mau saya sampaikan," ucap Dul kemudian sedikit ragu, seraya melirik ke arah taksinya.
"Iya, katakan saja, Dul. Ada apa?" tanya Pak Haji penasaran.
Sopir taksi kemudian menceritakan tentang penumpangnya, sesuai yang dia lihat dan dia duga. "Sepertinya, dia sedang ada masalah dengan suaminya, Pak. Lantas ketika tadi dia ingin pulang ke rumah orang tua, nampaknya kehadiran wanita muda dan anaknya yang masih kecil itu tidak diterima oleh keluarga."
"Saya juga sudah menawarkan untuk mengajaknya pulang, tetapi dia menolak dengan alasan enggak enak sama istri dan juga para tetangga," lanjut Dul.
Pak Haji nampak manggut-manggut. "Lantas, maksud kamu membawanya kemari?" tanya Pak Haji dengan tatapan menyelidik.
"Maaf, barangkali Pak Haji bisa membantu dia untuk memberikan pekerjaan dan tempat tinggal sementara untuk ibu dan anak kecil itu, Pak," pinta sopir taksi tersebut, dengan penuh harap.
__ADS_1
Ya, Dul berpikir hanya Pak Haji, mantan bosnya itulah satu-satunya orang yang dapat dia mintai tolong untuk membantu Aulia dan putranya yang masih kecil.
Pak Haji masih terdiam, sopir taksi itu pun ikut terdiam. Sehingga keheningan tercipta di teras ruko tersebut.
Pak Haji mencoba melihat ke arah dalam mobil taksi, pencahayaan yang terang di teras rupanya memungkinkan laki-laki paruh baya tersebut dapat melihat orang yang berada di dalam mobil.
Pemilik ruko tersebut menghela napas berat, ketika melihat seorang wanita muda berhijab tengah mengusap-usap puncak kepala sang putra yang duduk diatas pangkuannya, dengan wajah sembab dan tatapan sendu.
"Dia mengingatkanku pada Maryam yang telah pergi mendahului kami," gumam Pak Haji.
Sopir taksi yang mengetahui kisah putri mantan bosnya, bisa ikut merasakan kesedihan Pak Haji. "InsyaAllah, Dik Maryam dan putrinya sudah tenang di sana, Pak Haji," ucap Dul mencoba menghibur laki-laki paruh baya tersebut.
"Dul, mungkinkah Allah telah menjawab do'a-do'aku dan istriku selama ini yang takut akan merasa kesepian di masa tua dengan mengirimkan wanita muda itu dan putranya, melalui kamu, Dul?" tanya Pak Haji seraya terus menatap ke arah taksi berwarna biru laut tersebut.
"Mungkin saja, Pak Haji. Orang baik seperti Bapak, pasti akan dipertemukan pula dengan orang baik seperti mbak itu dan putranya," balas Dul dengan perasaan lega. Sebab, dari ucapan Pak Haji barusan, Dul dapat menyimpulkan bahwa mantan bosnya itu senang dengan kehadiran wanita muda dan putra kecilnya yang ada di dalam mobil taksinya.
Dul tersenyum lebar seraya mengangguk penuh semangat. Tak henti, sopir taksi tersebut mengucap rasa syukur karena dapat membantu penumpangnya yang sedang kesusahan, menemukan tempat untuk berlindung.
'Ya Allah, berikan keberkahan usia pada Pak Haji dan Bu Haji, serta kelimpahan rizqi agar beliau berdua dapat terus melindungi wanita itu dan putranya sampai mereka berdua mampu berdiri dengan kakinya sendiri,' do'a Dul dengan tulus seraya menuju ke mobilnya.
Dul kemudian membuka pintu bagian belakang. "Mbak, ayo turun. Pak Haji dan Bu Haji, menunggu Mbak di dalam," ajak Dul dengan wajah sumringah, seperti baru saja menang lotre dengan hadiah yang fantastis.
"Saya diterima kerja di sini, Pak?" tanya Aulia, tak percaya. Netra bulat dan sembab itu membola, menatap sopir taksi untuk memastikan bahwa pendengarannya tidak salah.
Dul mengangguk pasti. "Oya, Mbak. Ayo, kita harus segera masuk ke dalam!" ajaknya kembali. "Biar ranselnya saya yang bawakan," imbuh Dul, ketika Aulia hendak menggendong tas ranselnya di punggung.
"Terimakasih banyak, Pak," balas Aulia, tulus.
__ADS_1
Sopir taksi baik hati itu kemudian menuntun Aulia dan putranya yang berada dalam gendongan sang bunda, masuk ke dalam ruko.
Melewati pinggiran etalase yang berjajar dan terus menuju ruangan belakang yang berfungi sebagai ruang tamu, jika ada teman atau saudara pemilik ruko tersebut, berkunjung.
Di ruangan yang berukuran sepertiga dari luas ruangan pertama yang dijadikan sebagai tempat usaha, nampak sepasang suami istri telah duduk menanti.
Pak Haji dan istrinya tersebut menyambut kehadiran sopir taksi dan dua orang ibu dan anak kecil dengan senyuman ramah.
"Assalamu'alaikum," ucap salam Aulia, menyapa dua orang yang akan menjadi bosnya, itulah yang ada dipikiran wanita muda tersebut.
"Wa'alaikumsalam," balas Pak Haji dan Bu Hajah, kompak.
Aulia kemudian menyalami Bu Hajah dan mencium punggung tangan wanita yang seusia ibunya itu dengan takdzim. Sementara dengan Pak Haji, Aulia hanya mengangguk hormat karena Ammar yang mengantuk masih berada dalam gendongan dan Aulia tak bisa menangkup kedua tangan di dada.
"Ayo, silahkan duduk, Nak!" ajak Bu Hajah, ramah.
Membuat hati Aulia, menghangat.
"Siapa nama kamu, Nak?" tanya Bu Hajah, setelah Aulia duduk dengan memangku sang putra.
"Aulia, Bu Hajah," balasnya sopan. "Dan ini, Ammar, putra saya," lanjut Aulia, memperkenalkan putranya.
"Maaf, Bu Hajah, Pak Haji. Apa tidak masalah, jika saya bekerja di sini dengan membawa anak?" tanya Aulia memberanikan diri, sebelum obrolan berlanjut panjang, tetapi akhirnya dia tidak bisa diterima bekerja di tempat itu karena harus membawa Ammar dalam bekerja.
Hal itulah yang sedari tadi, di sepanjang perjalanan yang Aulia pikirkan. Apa mungkin dia bisa mendapatkan pekerjaan, jika sambil membawa anak?
💖💖💖 bersambung ...
__ADS_1