Pesona Rumput Tetangga

Pesona Rumput Tetangga
Lamaran Mas Husain


__ADS_3

"Apakah Ammar pernah merindukan ayahnya?" tanya Husain, yang berhasil membuat Aulia mendongak dan kemudian menatap Husain.


"Kenapa Mas Husain bertanya seperti itu?" cecar Aulia, menjawab pertanyaan Husain dengan sebuah pertanyaan pula.


"Karena putriku, Yasmin, dia sama sekali tidak pernah menanyakan keberadaan mamanya ...." Sejenak Husain menghentikan ucapannya. Tatapan laki-laki berwajah manis itu, kini berubah menjadi sendu.


"Apa mungkin dampak dari perpisahan kami dan juga karena mamanya yang tidak pernah memberikan perhatian pada Yasmin, yang membuat dia tidak pernah menanyakan atau merindukan mamanya?" Husain bertanya, tanpa membutuhkan jawaban.


"Aku takut, apa yang dialami Yasmin saat ini, akan membekas dalam ingatannya dan akan mempengaruhi psikologisnya," lanjut Husain.


Aulia masih terdiam, dia pun tak tahu harus mengatakan apa. Sejujurnya, dia pun dapat mengerti apa yang dirasakan Yasmin. Seorang anak yang pasti merindukan sosok seorang ibu. Sama seperti Ammar, yang merindukan sosok seorang ayah, meski Ammar tak pernah mengatakannya.


Aulia dapat melihat binar bahagia tatapan Ammar ketika Pak Haji mengajaknya main keluar, ataupun ketika Mas Dul mengajaknya naik motor sekadar untuk berkeliling ke sekitar ruko.


Momen yang tidak pernah didapatkan Ammar bersama ayahnya, bahkan Handoyo sama sekali tidak memiliki waktu untuk sekadar bercanda dengan Ammar di dalam rumah, apalagi mengajak bocah laki-laki itu untuk keluar jalan-jalan seperti layaknya anak-anak lain.


"Pernah terbersit keinginan untuk menikah lagi dan berharap Yasmin mendapatkan pengganti sosok ibu yang bisa menyayanginya dengan tulus, tetapi keinginan itu langsung aku tepis," lanjut Husain.


"Kenapa?" sahut Aulia, bertanya.


"Karena aku khawatir jika ternyata wanita yang aku nikahi nanti, tidak bisa menerima dan menyayangi Yasmin dengan tulus. Bukankah itu hanya akan menambah luka bagi putriku?" Husain menatap dalam netra Aulia.


Aulia mengangguk, mengerti.


Hening, kembali menyapa ruangan tersebut.


"Ammar pun tidak pernah menanyakan ayahnya, tapi kalau rindu sosok ayah, iya. Aku tahu Ammar merindukannya, merindukan sosok laki-laki dewasa yang dia panggil ayah." Suara lembut Aulia, mengurai keheningan.


"Apa, Dik Lia tidak berkeinginan untuk mencarikan sosok pengganti ayah buat Ammar?" tanya Husain, penuh harap.


Aulia menggeleng. "Entahlah, Mas."

__ADS_1


Wanita cantik itu kemudian memejamkan mata, kenangan demi kenangan buruk ketika dirinya masih bersama Handoyo kembali melintas dan hal itu membuat air mata Aulia menetes tanpa dapat dia cegah.


"Maaf, atas pertanyaanku jika melukai perasaanmu, Dik Lia," sesal Husain, ketika melihat air mata jatuh membasahi pipi Aulia.


Ingin rasanya Husain mengusap air mata tersebut, tetapi itu tak mungkin dia lakukan karena mereka berdua bukan siapa-siapa.


Husain kemudian mengambil beberapa lembar tissue dari atas meja dan memberikan pada Aulia.


"Tidak mengapa, Mas," balas Aulia sambil menyeka air matanya dengan tissue pemberian Husain.


"Lia lebih takut dari ketakutan Mas Husain jika menikah lagi. Bukan hanya memikirkan perasaan Ammar jika ternyata suami Lia nanti tidak bisa menerima dan menyayanginya, tetapi Lia juga takut apa yang dulu Lia alami selama menikah dengan Mas Han, akan kembali terulang," lanjutnya sambil menundukkan pandangan.


Husain menghela napas panjang, dahinya berkerut dalam. 'Sedalam itukah rasa sakitmu karena dikhianati oleh suami kamu, Dik Lia?' batin Husain bertanya.


Hati Husain juga sakit ketika pertama kali mendengar pengakuan Cynthia, yang terang-terangan mengatakan bahwa dia memiliki hubungan dengan Handoyo, tetangga dekatnya sendiri. Namun, rasa sakit itu hanya berlangsung sebentar karena selebihnya, Husain merasa bahwa ini adalah yang terbaik untuk dirinya dan juga sang putri.


Husain tidak mengetahui bahwa yang dialami Aulia lebih menyakitkan, dari hanya sekadar pengkhianatan.


Mendapatkan perlakuan yang tidak adil selama menikah dengan Handoyo, serta sikap mantan suaminya itu yang tidak pernah memperlakukan Aulia layaknya seorang istri dan ratu di rumahnya, tetapi Handoyo justru memperlakukan Aulia layaknya seorang babu.


Keheningan kembali menyapa.


"Tidak semua laki-laki itu seperti mantan suami kamu, Nak Lia. Buang ketakutanmu dan cobalah membuka hati untuk laki-laki lain, laki-laki yang sudah jelas menyayangi putramu, seperti Mas Husain." Suara Pak Haji, mengurai keheningan dan mengejutkan mereka berdua.


Entah sejak kapan Pak Haji menguping pembicaraan mereka berdua, yang jelas laki-laki paruh baya tersebut seolah tidak sabar, mendengar pembicaraan Husain dan Aulia yang belum juga menjurus ke arah yang diinginkan Pak Haji dan sang istri.


Pak Haji kemudian ikut duduk kembali di sofa, di samping Husain.


"Dan tidak semua wanita itu seperti mantan istri Mas Husain," lanjut Pak Haji seraya menepuk paha Husain.


"Contohnya Nak Lia, dia sangat menyayangi putrimu, Mas Husain." Pak Haji menatap Husain dan kemudian menatap Aulia.

__ADS_1


Husain dan Aulia hanya bisa terdiam, mendengarkan dengan seksama penuturan Pak Haji.


"Tidakkah kalian bisa melihat binar bahagia di mata anak-anak kalian ketika mereka melihat satu sama lain?" Pak Haji kembali menatap keduanya secara bergantian.


"Atau, ketika Ammar melihat kamu, Mas Husain?"


"Dan Yasmin melihat kamu, Nak Lia?"


Husain dan Aulia mengangguk, berbarengan.


"Kenapa kalian tidak mencoba untuk saling membuka diri, demi mereka berdua?" cecar Pak Haji yang sebenarnya sudah tahu bahwa Husain memiliki perasaan khusus pada Aulia. Begitu pula dengan Aulia, yang sepertinya sudah mulai ada rasa pada Husain.


Hanya saja, mereka berdua butuh seseorang yang dapat menjadi jembatan dan Pak Haji mencoba mengambil peranan tersebut, tentunya demi kebahagiaan anak angkat dan cucunya. Termasuk untuk kebahagiaan Husain, yang sudah lama beliau kenal.


"Jika Dik Lia bersedia menjadi istri saya, tentu saya akan sangat bersyukur, Pak Haji, karena saya yakin Dik Lia adalah tipe wanita idaman saya, wanita sholehah yang akan senantiasa menciptakan kesejukan di dalam rumah kami kelak," sahut Husain yang tak ingin menunda lebih lama.


Cukup selama empat bulan ini dirinya kehilangan jejak Aulia dan cukup baginya selama itu pula, menjadi single parent yang harus bekerja dan merawat sang buah hati seorang diri.


Dia butuh seseorang yang bisa diajak untuk berbagi dan Aulia, mantan tetangganya, yang dirasa Husain cocok untuk menjadi ibu bagi Yasmin.


Husain masih menatap Aulia dengan tatapan dalam, berharap wanita yang dulu sempat mencuri perhatiannya sekilas karena Husain buru-buru menyadari status masing-masing, mau menerima lamarannya.


Pak Haji merasa lega, setelah mendengar pengakuan Husain mengenai perasaan laki-laki tersebut secara langsung, terhadap putri angkatnya. Laki-laki paruh baya tersebut tersenyum lebar seraya menatap Aulia.


Sementara Aulia terlihat gugup dan terus menundukkan pandangan. Wanita cantik itu tak menyangka, secepat ini Husain akan mengatakan dengan sejujurnya mengenai perasaan laki-laki tersebut terhadap dirinya.


"Bagaimana dengan lamaran Mas Husain ini, Nak Lia?" tanya Pak Haji, menambah kegugupan Aulia. "


"Aku janji, Dik Lia. Jika kamu mau menjadi istriku, menjadi ibu dari anak-anak kita, aku akan menjaga kesetiaanku," tegas Husain yang mengira bahwa Aulia masih sakit hati karena dikhianati oleh mantan suami.


Merasa didesak oleh sang ayah angkat dan juga oleh Husain, Aulia memberanikan diri menatap mantan suami Cynthia tersebut. Untuk sesaat, kedua netra mereka saling bertaut.

__ADS_1


'Apa aku harus menerima Mas Husain, demi Ammar? Apa mungkin, aku juga akan bisa mendapatkan kebahagiaan, jika bersamanya?'


💖💖💖 bersambung ...


__ADS_2